05:59 pm


Kemampuan yang tidak seperti orang normal ini mulai menggangguku. Aku kini harus lebih berhati-hati jika berbicara dengan seseorang, apakah dia nyata atau tidak nyata. Aku kini sama sekali tidak bisa memejamkan mata apabila penerangan dalam kamarku gelap, dan yang paling parah adalah karena aku selalu bermimpi buruk tiap malam mengenai hal yang kulihat di dunia nyata.

Hal ini tidak terjadi sedari aku kecil dan masa kecilku normal-normal saja. Kemampuan itu bermula ketika peristiwa antara hidup dan mati menimpaku saat aku berumur lima belas tahun. Saat itu bus sekolah yang biasa kunaiki meluncur masuk ke dalam jurang dengan ketinggian sepuluh meter. Beruntung aku dapat selamat karena tertahan oleh sabuk pengaman yang menjeratku agar tetap di tempat. Pada saat itu badanku terbentur oleh suatu benda –yang kebetulan sama sekali tidak aku ingat- dan menyebabkan pendarahan pada organ dalam tubuhku. Dokter yang membedahku terpaksa menghentikan jantungku sesaat, agar mereka bisa mengoperasi dan menyembuhkanku. Satu menit enam belas detik. Itu adalah lama waktu disaat aku mati.

Continue reading

Advertisements

You Are the Ultraman on My Eyes


Tulisan ini dibuat untuk #MelodiHijauOranye @YUI17Melodies dengan tema lagu Green a.live

20 September 2007

Aku memasuki halaman sekolahku di jalan Ir. H. Juanda, cuaca Bogor hari ini lumayan cerah. Beberapa genangan bekas hujan kemarin malam masih membasahi beberapa tempat di lapangan basket depan sekolahku. Aku memalingkan wajah dan kembali berjalan menuju ruang kelasku. Aku kagum pada mekanisme kerja planet ini. Air hasil hujan besar kemarin malam bisa hilang dalam beberapa hitungan jam saja. Padahal air hujan yang kemarin mengisi kolam renang tetanggaku saja, belum hilang dan mengalir pergi. Jika bumi diibaratkan sebuah monster besar, perut bumi mungkin sudah besar dan buncit berisi semua air hujan yang ditumpahkan tadi malam. Lalu untuk mencegah monster itu mengacau, Ultraman akan datang dan menentramkan kembali kehidupan seperti biasa. Oh iya, kira-kira mengapa ya Ultraman setelah membuat babak belur musuhnya selalu membawanya terbang ke luar angkasa dan membuangnya disana? Iyuh… luar angkasa itu sepertinya jadi tempat sampah pembuangan terakhir monster-monster.

Lamunanku tergugah saat sebuah tangan mendarat di atas kepalaku. Tangan itu mencengkram kepalaku kuat lalu kemudian menggoyang-goyangkannya.
Continue reading

Di Ujung Jalan


Kata kunci: Pohon beringin, jejak, putih, senter, darah.

Setting tempat: Terowongan.

Jumlah kata: 663

 

Jo melajukan civic putihnya dengan kecepatan hampir seratus kilometer per jam. Jalanan di pukul dua dini hari terbilang lengang. Ini adalah kali ketiganya dalam seminggu ini ia harus lembur di tempat kerjanya. Di persimpangan jalan mobilnya berbelok ke kiri, mengambil jalan pintas melalui terowongan. Karena itu adalah jalan tercepat untuk sampai ke rumahnya. Terowongan itu terkenal angker, tetapi rasa lelah yang dirasanya membuatnya tidak memilih jalan panjang yang setiap hari selalu dilaluinya.

Sebuah pohon beringin besar menyambutnya di muka terowongan. Ia memelankan laju kendaraannya sampai setengahnya saat ia mulai memasuki terowongan itu. Sebuah panggilan masuk mendarat di telepon genggamnya. Jo melirik sekilas untuk tahu siapa yang menelponnya. Ternyata dari Shinta, pacarnya.

“Halo, sayang? Kok belum tidur?” tanya Jo setengah mengantuk.

“Sudah. Ini kebangun aja langsung ingat kamu. Gimana laporannya? Beres?” Continue reading

Karin’s Melody


Aku berlari di sepanjang jalanan Shinjuku dari sekolahku saat ini. Aku sudah terlambat untuk memulai shift kedua di tempatku bekerja. Semua ini gara-gara aku dipanggil oleh guru wali kelasku. Terus terang itu sangat menyebalkan. Terutama jika itu berhubungan dengan aktivitas kerja part time-ku. Memang sih, beberapa minggu belakangan ini aktivitas kerjaku menggila. Hampir setiap hari aku diminta untuk datang, karena tempat kerjaku kebetulan sedang kekurangan tenaga gara-gara salah seorang rekan kerjaku mengundurkan diri karena telah diterima untuk kuliah di luar kota.

Sebuah petikan gitar menghentikan langkahku. Aku langsung mencari sumber suara itu. beberapa pojok kota ini selalu bertebaran pemusik jalanan yang sedang melakukan pertunjukkan live. Tapi entah mengapa, aku tidak begitu tertarik untuk melihatnya sampai saat ini. Alunan nadanya menenangkan gendang telingaku, membuai setiap syaraf dalam tubuhku, dan menarikku mendekat.

Aku berjalan perlahan sambil terus mendengarkan lagu itu. Kakiku melangkah ke arah yang sama sekali bukan tujuanku. Menjauhi jalan menuju tempat kerjaku. Continue reading

Kenangan


Pelepah pisang di hadapan Nana kini sudah terburai tidak beraturan saat bongkahan kayu yang dipegangnya, dipakai untuk memukul pelepah itu berulang-ulang. Matahari kini telah berada tepat di atas kepala, bersinar dengan teriknya tanpa peduli penghuni bumi yang meringis dengan terpaan hawa panas itu.

“Ibu, mau berangkat jam berapa sih? Kok sampai jam segini masih pada santai-santai aja.” Ujar Nana ketus.

Senyum seorang perempuan berkerudung merah jambu menanggapi pertanyaan itu, “nanti sayang. Sorean dikit ya… kasian nenek masih kangen sama kamu tuh.”

Nana yang sejak tadi suasana hatinya sedang mendung, jawaban itu malah semakin mengguncang badai dalam hatinya. Dan karena tidak mau berdebat dengan ibunya, ia langsung berdiri dan berlalu pergi menuju jalan setapak yang menghubungkan rumah neneknya dengan Pantai Ujung Genteng, Sukabumi.

“Na, jangan jauh-jauh. Nanti ibu susah cari kamunya.” Ibunya berteriak padanya, lalu meneruskan kembali menyantap es kelapa muda segar.

Nana tidak menggubris perkataan ibunya, ia terus berjalan menuju pantai. Di sepanjang jalan, ia mencabut beberapa helai daun dari tangkainya untuk memuaskan kekesalannya. Bukannya ia tidak mau berlama-lama di tempat ini. Continue reading

#17 Pergi


Aku memasukkan barang terakhir ke dalam koperku. Benda itu adalah sebuah buku kumpulan ilustrasi yang diberikan olehmu setahun yang lalu. Cahaya matahari bersinar dengan cerahnya melalui kisi-kisi jendela. Beberapa burung berterbangan dan bersiul nyaring pada pagi ini.

Aku melayangkan pandangan ke semua sudut kamarku. Mungkin akan memerlukan waktu yang lama untukku kembali lagi ke tempat ini.

“Maya, udah siap belum?” Tanya sebuah suara dari lantai bawah.

“Iya. Sebentar lagi.” Jawabku.

Terakhir, sebelum aku menuruni tangga, aku menyambar sebuah topi bisbol yang warnanya merahnya telah pudar di sebuah meja di sudut kamarku. Inisial namamu masih tertulis jelas disana, berdampingan dengan inisialku.

Di bawah, ternyata kakakku, Rasya sudah siap menungguku. Ia tetap menggunakan jaket kebesarannya, padahal cuaca di luar sama sekali tidak dingin.

“Kak, ayo berangkat.” Ajakku padanya.

Ia berjalan mendekati, lalu kemudian mengambil koper yang ku jinjing pada tangan kananku. “Cuma segini, May? Tumben… biasanya anak perempuan barangnya banyak.” Ejeknya.

Aku menyikut kuat tulang rusuknya. “Aku kan bukan perempuan kebanyakan.” Balasku sambil tertawa mengejek. Continue reading

#16 Kenangan Terakhir


Seorang gadis cilik terbatuk-batuk pada bangsal rumah sakit. Aku langsung berlari menuju pintu yang menghubungkan koridor dengan kamarnya, lalu kemudian berjalan mendekatinya. Ku lihat kini wajahnya menjadi sepucat mayat, sangat putih. Ku seka peluh yang bercucuran di kening dan lehernya dengan menggunakan saputangan handuk milikku. Ia tersenyum lemah.

“Kakak… ibu mana?” Tanyanya.

Sejak dua hari ini ia selalu bertanya tentang ibu, padahal ibu kami telah meninggal pada sebuah kecelakaan mobil. Begitu pula dengan ayah. Ia menghindari sebuah container yang berkecepatan tinggi dari arah berlawanan. Tetapi naas, mobil yang dikendarai oleh ayahku menabrak pembatas jalan lalu meluncur bebas pada jurang yang jaraknya hampir lima ratus meter dari permukaan jalan.

“Rara kan tahu, kalau ibu sudah meninggal.” Kataku mengulangi setiap pertanyaannya dari kemarin lusa.

“Ibu ada, kak. Tadi dia berdiri disana.” Ia bersikeras sambil menunjuk pada sudut ruangan di kamar rumah sakit itu. Continue reading