The Hangman – Chapter 7


(Tammy Rahmasari)

Bau kematian tercium tajam dalam bangunan itu sehingga Lutz terus saja menggaruk pangkal hidungnya walaupun ia tidak merasakan gatal. Salah satu kebiasaaan barunya akhir-akhir ini yang tidak ia sadari. Lutz memandang iba pada sosok Sarah Adams. Wajahnya saat ini sama dengan wajah yang tampak dalam foto terakhirnya. Tetapi, kini semua rona pada wajahnya telah hilang menguap bersama jiwanya.

Sorot mata Sarah yang kosong terus menusuk Lutz. Seakan penasaran dengan kedalamannya Lutz tidak dapat mengalihkan pandangannya. Orang itu telah mengambil batang tubuhnya, menggantikan dengan bagian manekin yang kini warnanya sama dengan warna kulit Sarah. Tetapi, tetap saja tidak pas secara keseluruhan. Jika orang itu hanya akan mengambil salah satu bagian dari tubuh korbannya, maka seharusnya ia tidak perlu merencahnya menjadi beberapa bagian dan kemudian menyatukannya kembali.

Terlalu banyak waktu terbuang, pikirnya.

Ia berusaha tidak terlalu banyak bergerak sebelum Melanie benar-benar telah selesai dengan penyelidikannya. Lutz melihat salah satu anak buah Melanie, Ken sedang mencari sampel sidik jari di seluruh tempat. Di saat yang sama, Melanie keluar dari bangunan tersebut dengan mengikuti salah satu petugas yang sebelumnya telah berbincang singkat dengannya. Lutz mengikuti jejak Melanie dan mengikutinya keluar dari bangunan itu. Dari kejauhan, Lutz pun menangkap sosok Nina yang sedang berdiri diluar garis kuning polisi pada bagian belakang bangunan tersebut. Jelaslah ia telah selesai dengan pemuda itu. Ia akan menanyakan tentang hal tersebut nanti jika ia telah ia telah selesai pula dengan semua ini. Continue reading

The Hangman – Chapter 6


(Tammy Rahmasari)

Clay berjalan dengan lambat menuju tempatnya tinggal selama ini sejak ia kecil. Sebuah tas besar dijinjing di tangannya. Ia hanya berdiri jauh dari pintu masuknya, memandang bangunan megah itu dari kejauhan. Ia tidak berani kembali ke rumah itu. Satu-satunya rumah yang selama ini dihuni olehnya merupakan satu-satunya tempat terakhir yang ingin ia tuju. Telah seminggu sejak ia diusir dari tempat itu. Entah mengapa kakinya terus melangkah tanpa tujuan hingga berakhir di rumah itu.

Ia terpaksa mencuri kalung itu karena pada saat itu ia sangat memerlukan uang. Padahal ia hanya mengambil kalung bibinya yang paling kecil dan paling tidak berharga. Tetapi, nenek sihir itu dengan tajam mengetahui bahwa kalungnya telah raib dengan cepat. Tidak bertanya untuk apa ia melakukan hal itu, langsung mengusirnya tanpa belas kasihan setelah melaporkannya. Jika dilihat dari banyaknya harta yang dimiliki oleh bibinya, kalung itu tidak bernilai sama sekali.

Muak akan bibinya, ia berjalan menjauhi rumah itu. Ia mengambil jalan yang berlawanan dengan arah datangnya tadi. Mulanya Clay berjalan tanpa arah, tidak tahu akan pergi kemana. Semua teman yang pernah dimintai pertolongan olehnya, kini tidak dapat membantunya lagi. Ia lalu teringat, di dekat rumah itu tidak jauh terdapat sebuah bangunan tua yang tidak terawat lagi. Pada saat ia kecil, ia ingat bangunan itu digunakan sebagai gedung pertunjukkan. Sambil mempertahankan sisa harga dirinya, ia terus melangkahkan kakinya menuju lokasi bangunan tersebut daripada ia harus kembali ke dalam rumah itu. Masa depannya kelak akan ia pikirkan besok. Mulai saat ini ia akan mencoba untuk hidup mandiri karena sejak lama ia telah berada dalam pengaruh bibinya yang keras.

Clay berusaha menyingkirkan pikirannya yang mengganggu. Sudah cukup ia terus menekan hatinya bertahun-tahun. Walaupun ia tidak memiliki apapun, setidaknya hatinya lebih lega. Ia terus melangkah dalam jalan setapak menuju bangunan tersebut. Jalannya kini tertutup oleh alang-alang tinggi. Ia sebenarnya tahu, ia bisa berjalan pada sisi jalan raya menuju bangunan tersebut. Tetapi, jalannya terlalu memutar jauh. Lebih baik ia melewati jalan setapak itu. Lagipula ia tidak ingin kedatangannya dilihat oleh orang lain.

Clay lalu berdiri tidak jauh dari pintu masuk utama bangunan itu. Saat ia akan melangkah keluar dari alang-alang yang menutupi hampir seluruh badannya. Ia melihat sebuah mobil baru saja keluar dari lahan bangunan tersebut menuju jalan raya. Clay berhenti sejenak sebelum melanjutkan niatnya. Menimbang-nimbang apakah keputusannya memasuki area milik orang lain dapat dibenarkan. Mungkin saja orang dalam mobil itu adalah pemiliknya. Lalu bagaimana jika ternyata orang tersebut masih di dalam?. Ia terus berpikir apa jalan terbaik yang dapat ia ambil.

Aku lebih baik tertangkap karena masuk tanpa izin disini, daripada harus kembali ke dalam rumah itu. Jerit hatinya.
Ia melihat pintu masuknya di kunci dan di rantai dengan kuat. Ia lalu memutari bangunan terebut mencari celah untuk ia masuk ke dalamnya. Ia kemudian menemukan salah satu jendela pada bangunan tersebut yang celahnya tidak tertutup rapat. Sedikit demi sedikit ia membukanya. Setelah kakinya menapak pertama kalinya di dalam bangunan tersebut, ia terus berjalan mengendap-endap di balik benda yang dapat melindungi tubuhnya.

Clay berusaha menyesuaikan matanya dengan lingkungan sekitarnya yang gelap. Gedung pertunjukkan itu ternyata lebih tidak terawat dari yang ia pikirkan. Lantai kayunya sudah banyak yang berlubang. Ia sampai harus meredam jatuhnya agar tidak terdengar oleh seseorang yang berada dalam bangunan tersebut atau mungkin sebenarnya hanya ia saja yang ada dalam bangunan tersebut.

Ia berhenti pada sisi kanan panggung. Clay berusaha menajamkan indera pendengarannya sekali lagi. Tapi satu-satunya suara yang dapat ia dengar adalah suara angin yang lolos dari salah satu celah dalam bangunan tersebut. Maka ia pun lega. Dengan santai ia melemparkan tasnya pada lantai kayu yang penuh dengan debu.

Clay mengeluarkan pematik yang ia miliki dan menyalakannya. Ia berandai-andai tentang ukuran bangunan itu. Dari luar memang tidak tampak besar. Tetapi saat berada di dalamnya, ruangan tersebut terasa luas dan lapang. Sayang sekali bangunan itu tidak digunakan kembali. Ia mengarahkan pematiknya kearah lantai agar ia leluasa untuk berjalan. Clay merasakan konduksi panas di ujung jempolnya yang disebabkan oleh nyala api yang menjalar pada pematiknya.

Mula-mula Clay berjalan mulai dari tempatnya berdiri menyusuri dinding bangunan tersebut. Ia tidak berani menyalakan lampu—jika memang ada—karena ia takut akan memancing seseorang sadar ada yang memasuki bangunan ini tanpa izin dan melaporkannya pada pihak berwenang. Jika itu terjadi, ia tetap harus berurusan dengan bibinya, karena hanya ialah satu-satunya orang yang dapat menjaminnya. Continue reading

The Hangman – Chapter 5


Oleh : Tammy Rahmasari

Nina menghirup aroma kopinya yang kelima dalam satu hari ini. Empat hari telah berlalu sejak Sarah diculik. Ia dan Lutz belum menemukan petunjuk apapun untuk menangkap pelakunya. Mirrh bahkan telah mendesak mereka untuk bekerja lebih keras dari biasanya, walau hanya sekedar untuk menyusun daftar tersangka. Karena Mirrh secara tidak langsung, telah didesak oleh pihak dewan kota untuk cepat menyelesaikan kasus ini.

Nina merasakan pusing sejak kemarin malam. Ia tidak sempat tidur karena terus melakukan penyelidikan atas kasus ini. Matanya lelah melihat semua huruf dalam laporan yang berserakan di atas mejanya. Ia merasa tidak perlu membereskannya saat ini karena ia takut jika ada hal kecil yang dapat ia hilangkan. Ia berusaha memejamkan matanya pada sandaran kursinya. Tetapi, sedikitpun ia tidak bisa tidur. Bayangan akan nyawa Sarah berada di tangannya dan Lutz membuat beban pekerjaannya semakin berat.

Ia melayangkan pandangan kearah Lutz yang sejak dari saat datang selalu menempel ketat pada pesawat teleponnya. Nina tidak berani mengganggu Lutz pada saat serius karena bagaimanapun berusaha mendapatkan perhatiannya, Lutz tetap berkonsentrasi pada hal sedang dilakukannya.

Ia tahu Lutz kesal dengan statisnya perkembangan kasus ini. Malam-malam sebelumnya ketika ternyata ada rekaman dari kamera pengawas di restoran tempat Sarah bekerja, telah membawa angin segar padanya. Tetapi, rekaman itu tenyata sama sekali tidak dapat diolah lebih lanjut. Pencahayaannya kurang sehingga apa yang terlihat pada rekaman itu hanyalah bayangan gelap seorang yang dicurigai adalah pelaku sedang membetulkan mobilnya pada saat Sarah datang. Tidak terlihat plat mobil, jenis mobil, dan ciri-ciri orang tersebut.

Continue reading

The Hangman – Chapter 4


Oleh : Tammy Rahmasari

Ia tidak mengerti akan perasaan yang ia sedang ia rasakan sekarang. Tidak ada lagi rasa kehilangan, tidak ada lagi rasa duka, tidak ada lagi rasa rindu, yang ada hanya kekosongan dalam hatinya yang selalu ia rasakan mulai dari saat ini sampai kapanpun.

Kemarin malam, saat ia telah tidur dengan lelap. Ia terbangun oleh suara dentuman keras yang menghalau mimpinya untuk kembali sehingga mengakibatkan kepalanya pusing selama beberapa saat karena perubahan suasana. Ia mendengarkan sekeliling dalam gelap, mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi.  Ia menyangsikan apakah suara yang tadi ia dengar itu nyata atau hanya tercipta dari dalam kepalanya saja.

Dengan ragu-ragu ia menjejakkan kakinya di lantai yang dingin. Ia tidak mempedulikan dinginnya udara malam saat ia membuka  tubuhnya dari bungkusan selimut yang tadi ia kenakan. Ia teringat akan ibunya. Kamar ibunya terletak di lantai dua sedangkan kamarnya berada di lantai satu. Ia harus melihat ibunya terlebih dahulu dan juga untuk memastikan ia baik-baik saja. Di akhir pekan seperti ini, biasanya di rumah ini hanya ada ia dan ibunya. Ayahnya selalu pergi entah kemana dan akan kembali pada hari minggu malam.

Ia melangkahkan kedua kakinya yang kecil untuk berjalan tanpa menimbulkan suara. Ia tidak berani mendekati saklar lampu untuk menyalakan lampu kamarnya. Ia takut jika memang ada sesuatu yang sedang terjadi di dalam rumahnya dan seseorang mengetahui bahwa ia telah terbangun. Ia teringat akan pistol revolver ayahnya yang ia simpan di dalam ruangan kerjanya. Ia tahu dimana ayahnya meletakkannya, terakhir kali ia mencoba bermain dengan pistol itu, ia berakhir dengan luka lebam di mata kanannya akibat dipukul dengan keras oleh ayahnya. Kala itu ia tidak bisa membuka matanya selama satu bulan tanpa nyeri, perih, dan panas pada matanya.

Continue reading

The Hangman – Chapter 3


Oleh : Tammy Rahmasari

Ia telah mengawasi calon korbannya berjam-jam. Ia tadi bahkan telah sangat dekat dengannya. Ia sengaja berada sedekat itu dengan korban barunya. Ia ingin mengetahui apakah korbannya sadar akan nasib yang akan terjadi padanya nanti.

Tadi sore ia sengaja mengikuti Sarah semenjak dari ia keluar dari apartemennya. Ia berusaha sedekat mungkin dengannya. Selama tiga perempat perjalanan pengintaiannya berjalan mulus. Tetapi, pada saat tinggal beberapa blok lagi dari tempat kerjanya, Sarah mulai curiga dan secara tiba-tiba langsung masuk ke toko kelontong. Akibatnya ia harus menunggu Sarah di lorong samping pintu masuk tempat kerjanya. Ia tahu resiko tertangkap dan dicurigai lebih besar, tapi menjadi lebih tertantang saat ia mempertaruhkan nasibnya. Dan ternyata Tuhan berpihak padanya. Ia selalu diberikan keberuntungan yang besar oleh-Nya.

Continue reading

The Hangman – Chapter 2


Oleh : Tammy Rahmasari

Nina melangkah dengan enggan saat memasuki bangunan yang sekarang berdiri sebuah markas kepolisian. Selama tiga hari ini tidurnya hanya berjumlah 6 jam. Ia lemas, tidak dapat berkonsentrasi, dan lelah. Ia memaksakan dirinya mengkonsumsi lebih banyak kafein untuk membantunya tetap sadar. Walaupun hal itu ia tidak keberatan dengan tingginya kadar kafein dalam darahnya. Tetapi, ia selalu mengalami masalah dengan lambungnya jika ia melewatkan jam makannya akibat mengasup kopi lebih dari biasanya.

Nina tiba terlambat beberapa menit. Di ruangan rapat telah hadir kepala polisi, jaksa, forensik, rekannya Lutz, dan beberapa orang yang belum dikenalnya. Tampaknya semua orang menunggunya datang karena rapat belum juga dimulai. Tanpa sadar wajahnya merona karena malu ia datang terlambat. Tetapi ia beruntung, tampaknya kasus ini lebih menarik perhatian orang-orang daripada dirinya sehingga yang lainnya tidak perduli dengan wajah Nina yang memerah.

Continue reading

The Hangman – Chapter 1


Oleh : Tammy Rahmasari

Nina terbangun tiba-tiba karena dering telepon. Ia sudah tahu siapa yang meneleponnya karena dering pada telepon genggamnya.

“Aparel.” Jawabnya lantang.

“Datanglah ke Dreamland Theater di Dreamland Zone. Cepat.”

Tanpa pikir panjang, Nina langsung mengambil pistol yang selalu ia tempatkan di sisi kanan tempat tidurnya.

Nina telah mengerti ucapan rekannya. Korban baru telah bertambah. Ia tak menyukai ini. setelah ditemukan ketiga korban sebelumnya, pihak kepolisian tidak mendapatkan cukup bukti yang dapat mengarahkan kepada tersangka. Ia dipasangkan dengan seorang detektif yang terkenal telah memecahkan banyak kasus pembunuhan berantai yang sulit dipecahkan, padahal ia baru saja dipindahkan ke dalam divisi pembunuhan.

Jensen Lutz adalah seorang yang berhati dingin dan berkemampuan diatas rata-rata polisi lainnya. Nina sendiri tidak mengerti mengapa dia yang baru ini langsung mendapatkan kesempatan yang diperebutkan semua orang di divisinya. Apa mungkin ini semua karena ayahnya. Sebelum ayahnya meninggal 10 tahun lalu, beliau telah dipasangkan dengan Lutz untuk waktu yang sangat lama. Satu-satunya kasus yang tidak dapat diselesaikan oleh Lutz adalah saat dipasangkan dengan ayahnya. Kasus yang telah membuat ayahnya menjadi korban.

Berhentilah berpikir tentang itu.

Nina tidak ingin mengingat kasus itu. Kasus yang menyebabkan kedua orangtua dan adik perempuannya meninggal. Setelah kejadian itu ia harus berpindah-pindah, walaupun ia diasuh oleh kerabatnya. Tetapi tidak ada seorangpun yang benar-benar menginginkannya. Tapi ia akhirnya bertahan di rumah bibi dari pihak ayahnya. Ia dikenalkan dengan dunia politik, kriminal, medis dan psikologi. Sehingga akhirnya ia ingin berkarier dibidang ini, karena ia tidak ingin kejadian yang sama menimpa orang lain.

Jalanan pada malam tahun baru sangat padat sehingga ia datang terlambat di TKP. Seperti yang telah diketahuinya, pers dan pengunjung Dreamland berkumpul mendahuluinya. Tidak mengherankan, dengan adanya korban pembunuhan di tempat umum, berita dengan cepat tersebar.

Ia menyisir setiap orang yang ada. Melihat ada atau tidaknya penonton yang telah melakukan pembunuhan ini. Biasanya pembunuh selalu tertarik melihat kerja kepolisian menyelesaikan kasus. Ia akan berbaur dengan orang disekitarnya dengan sangat lihai.

“Mencari tersangka lagi?” Lamunan Nina dibuyarkan oleh perkataan Lutz. Lutz kemudian berdiri disampingnya dan tersenyum ke arahnya.

“yah, seperti biasa. Mungkin aku dapat langsung melihat pembunuhnya.” Nina balas tersenyum pada Lutz.

“Dan aku seperti biasa. Telah meringankan tugasmu yang itu dengan memerintahkan salah seorang petugas untuk merekam semua orang yang hadir disini, bahkan kita pun tidak akan luput dari kamera. Tersenyumlah… dan sebaiknya kita masuk kedalam. Acara tidak akan lengkap tanpamu.” Gurau Lutz.

***

Continue reading