Promise


Semburat berwarna-warni tampak menghiasi langit senja yang dihiasi oleh awan-awan. Beberapa burung beterbangan melintasi langit di atas kepala Intan dan Tian ke suatu tempat di balik pepohonan tak jauh dari pantai. Burung tersebut sepertinya tahu, bahwa disaat seperti sekarang ini adalah waktunya pulang dan bertemu kembali dengan sanak keluarganya. Suara nyaring dari burung tersebut bersatu membentuk sebuah harmoni indah bersama dengan deburan ombak yang secara berkala membentur dinding karang.

Intan dan Tian meresapi pemandangan itu sambil terus menatap laut dari pinggir pantai. Celana khaki Intan yang senada dengan pasir pantai kini mulai basah terkena air laut pasang, tapi ia tetap bergeming dan terus menatap matahari yang perlahan-lahan mulai menghilang. Mereka berdua duduk di pinggir pantai sambil memeluk lututnya masing-masing.

Tian menatap Intan, “Aku… mau bilang sesuatu sama kamu.”

“Hmm… apa?” Jawab Intan pelan.

“Besok aku pindah, Tan.” Bisik Tian.

Continue reading

Dejavu


Sehelai daun kamboja gugur dan jatuh meliuk-liuk perlahan sebelum akhirnya mendarat mencium tanah. Sepasang burung gereja terbang rendah lalu kemudian bersenda gurau di salah satu batang pohon kamboja itu. Aku menikmati film singkat itu sambil menyesap teh hangat di sebuah kafe kecil yang kebetulan tadi kulewati. Tempatnya agak tersembunyi dari jalanan, terhimpit diantara bangunan tinggi sebuah bank pemerintah dan dekorasi meriah sebuah mini market. Kuambil kue cokelat yang tadi kupesan dan mengunyahnya perlahan. Sensasi pahit teh tiba-tiba tergantikan dengan manisnya kue cokelat. Sebuah kombinasi yang aneh, tapi entah mengapa aku suka.

Ponsel yang sedari tadi kubiarkan tergeletak di meja kini bergetar. Sebuah panggilan masuk disertai dengan munculnya foto seseorang yang kukenal pada layar ponsel itu. Kutekan tombolnya disertai dengan tarikan nafas panjang.

“Halo, Dita.” Sapaku.

Sebuah suara di seberang sana langsung saja menimpali dengan cepat, “Dhea! Akhirnya diangkat juga. Gimana? Mau kan?”

“Engga. Pokoknya sekali engga, tetap engga. Aku gak mau dijodohin. Kaya jaman Siti Nurbaya aja.” Kataku yang kesekian kalinya pada Dita. Continue reading

Sebuah Pesan


Aku memasuki sebuah warung bakso langgananku di dekat kampus sendirian. Suasana di dalam sangat riuh karena pada saat sekarang ini berbarengan dengan jam istirahat makan siang pegawai kantoran. Ada yang asyik mengobrol sambil tertawa-tawa, ada pula yang hanya berniat untuk makan siang dan tidak repot-repot menunggu lama untuk menghabiskan hidangan bakso penggugah selera yang telah tersedia di hadapan mereka.

Aku mengambil bangku paling ujung, di dekat meja kasir warung itu. Hanya di tempat itulah satu-satunya bangku kosong berada. Warung bakso Pak Min memang selalu laris dibajiri oleh para pelanggan setianya. Harganya yang murah dan rasanya yang tidak kalah dengan warung bakso lainnya menjadi daya tarik tersendiri.

Setelah berteriak mengenai pesananku, aku langsung duduk diam sambil mengotak-atik ponselku. Beberapa kolom chat yang tadi belum ku jawab, kini ku balas satu per satu. Pesananku datang setelah lima belas menit lamanya aku menunggu. Kini suasana di warung Continue reading

Teman Masa Kecil


“Neng, jangan naik-naik pohon mulu. Nanti jatuh loh.” Suara mang Dadang nyaring terdengar dari bawah pohon. Aku yang selalu tidak bisa diam ini, mulai memanjat pohon sejak aku kecil. Mama dan papa selalu dibuat khawatir dengan kelakuanku ini. Ini dikarenakan di halaman rumahku ada pohon mangga besar yang selalu berbuah di sepanjang tahun, sedangkan mang Dadang  -tukang kebun langganan keluargaku- sudah terlalu tua untuk memanjat. Jadi daripada mangga harumanis yang enak itu mubazir, aku selalu memanjat dan menikmati memetik buahnya.

“Sebentar lagi ya, ini belum semua diambil mangganya.” Teriakku dari atas pohon.

“Aduh… nengggg. Turun aja, ga usah diambil semua. Nanti ibu tahu eneng naik lagi, mamang yang dimarahin.”

Sejak aku kuliah dua tahun yang lalu, mama selalu melarangku naik pohon ini lagi. Sampai-sampai katanya akan menebang pohon ini. Soalnya kata mama, anak perempuan itu harus anggun ga boleh jingkrak-jingkrak ga mau diam seperti anak monyet. Masa anaknya disamain sama anak monyet. Huh, dasar mama…

“Iya deh, mang. Dinda turun deh sekarang.” Balasku sambil merenggut sebal. Continue reading

[Lomba Fiksi Fantasi 2012] Pengatur Bayangan


(Keyword : pasar malam, gula-gula, cerpelai, rajah, dan salju)

Kilatan cahaya membutakan Anna, saat ia membuka matanya dengan cepat. Ia merasa asing dengan tempatnya saat ini. Ia seperti berada dalam sebuah penjara, lengkap dengan jeruji besi dan rantai yang membelenggu kedua tangan dan kakinya. Ia melayangkan pandangan dan menyapu setiap jengkal tempat itu. Ia benar-benar bingung mengapa ia bisa berakhir di tempat ini.

Ingatan terakhirnya adalah saat ia berada di pasar malam dengan temannya, Penne. Saat itu, ia dan Penne sedang bersenda gurau mengenai ujian pengelompokan kelas elemen yang dilakukan dua minggu yang lalu. Ia bahkan masih bisa mengecap rasa gula-gula dalam rongga mulutnya.

Di dalam selnya tidak ada benda apapun selain sebuah kursi yang ia tempati. Jendela pun hanya tergantung pada dinding di luar selnya dan disebelahnya bertengger dengan kokoh sebuah cerpelai yang diawetkan. Mata hitam cerpelai tersebut menusuk, menembus mataku seakan-akan sedang mencoba membaca pikiranku.

Tiba-tiba terdengar suara langkah berat seseorang menuruni tangga di ruang bawah tanah itu. Jantungku melonjak dengan cepat dan seluruh tubuhku meronta mencoba untuk membebaskan diri. Tapi belenggu itu begitu kuat menempel pada kulitku.

Ia tiba di depan selku. Wajahnya tidak bisa ku lihat dengan jelas karena ia membelakangi satu-satunya penerangan di ruangan itu. Continue reading

Gadis Pemburu Pelangi


Titik-titik air terakhir yang jatuh menyentuh bumi kini telah merembes pada tanah dan meninggalkan jejak-jejak basah. Aku menantikan datangnya pelangi. Namun langit diam dan tetap memulaskan warna kelabu awan hujan. Lalu kamu malah termenung menatap langit tanpa menyuarakan seluruh pikiranmu.

Aku tidak keberatan dengan ritualmu itu. Saat kamu terus berdialog dengan dirimu sendiri dalam kepalamu tanpa mengajakku bergabung. Aku menyukai pemandangan yang ku lihat saat ini. Saat wajahmu berlatarkan senja dengan semburat jingganya yang memerangkapmu seperti dalam sebuah lukisan.

“Apa kamu tahu dongeng sedih tentang senja?” Tanyanya tiba-tiba.

Aku berhenti memandangmu lalu ku tengadahkan kepalaku menatap langit dari perbukitan di sore itu. “Aku tidak tahu, Cutis.”

Ia mengganti posisi duduknya. Badannya kini bersentuhan dengan tanah, terlentang menghadap langit. Continue reading

Beku


(Tammy Rahmasari)

Aku tidak ingin melepasmu pergi.

Tapi, jika di dekatku kamu tidak bisa bahagia.

Dengan rela, aku akan membiarkanmu pergi.

Semoga berbahagia dengan hidup barumu.

Lola menuliskan sebait kalimat tersebut pada selembar kertas usang, bekas bon belanja di sebuah mini market. Dengan tergesa-gesa ia menyelipkan kertas tersebut pada celah daun pintu apartemen itu.

Ia sengaja tidak menuliskan namanya. Toh penerimanya pun akan tahu itu dari dirinya. Ia lalu bergegas meninggalkan bangunan itu dan meninggalkan kepingan hatinya, lalu masuk dalam kehangatan mobilnya. Di luar suhu udaranya sangat dingin. Musim dingin di Rotterdam kali ini beda dengan biasanya. Ia menstater mobilnya beberapa kali, tapi mobilnya tidak sejalan dengannya. Padahal ia ingin cepat pergi sebelum pemilik apartemen itu kembali.

Jared… Continue reading