[Lomba Fiksi Fantasi 2012] Pengatur Bayangan


(Keyword : pasar malam, gula-gula, cerpelai, rajah, dan salju)

Kilatan cahaya membutakan Anna, saat ia membuka matanya dengan cepat. Ia merasa asing dengan tempatnya saat ini. Ia seperti berada dalam sebuah penjara, lengkap dengan jeruji besi dan rantai yang membelenggu kedua tangan dan kakinya. Ia melayangkan pandangan dan menyapu setiap jengkal tempat itu. Ia benar-benar bingung mengapa ia bisa berakhir di tempat ini.

Ingatan terakhirnya adalah saat ia berada di pasar malam dengan temannya, Penne. Saat itu, ia dan Penne sedang bersenda gurau mengenai ujian pengelompokan kelas elemen yang dilakukan dua minggu yang lalu. Ia bahkan masih bisa mengecap rasa gula-gula dalam rongga mulutnya.

Di dalam selnya tidak ada benda apapun selain sebuah kursi yang ia tempati. Jendela pun hanya tergantung pada dinding di luar selnya dan disebelahnya bertengger dengan kokoh sebuah cerpelai yang diawetkan. Mata hitam cerpelai tersebut menusuk, menembus mataku seakan-akan sedang mencoba membaca pikiranku.

Tiba-tiba terdengar suara langkah berat seseorang menuruni tangga di ruang bawah tanah itu. Jantungku melonjak dengan cepat dan seluruh tubuhku meronta mencoba untuk membebaskan diri. Tapi belenggu itu begitu kuat menempel pada kulitku.

Ia tiba di depan selku. Wajahnya tidak bisa ku lihat dengan jelas karena ia membelakangi satu-satunya penerangan di ruangan itu. Continue reading

[Shadow] Prolog


(Tammy Rahmasari)

 

Happy birthday to you…

Happy birthday to you…

Happy birthday dear Anna…

Happy birthday to you…

“Selamat ulang tahun, sayang.” Ucap kedua orangtuanya beriringan.

Gadis kecil itu dulu adalah Anna. Tersenyum lebar saat kedua orang tuanya merayakan ulang tahunnya yang ke tujuh. Seharian ini, mamanya terus menyembunyikan perayaan kecil ini, sementara papanya bekerja. Ia dibuat sibuk oleh Sasha, teman sepermainannya sekaligus sepupu jauhnya. Ia berlarian di hutan, mengejar ikan-ikan di sungai, memanjat pohon jeruk tetangganya dan kemudian mencuri buahnya hingga mereka berdua terlalu capai untuk berlari pulang hingga akhirnya tertidur di padang rumput dekat rumahnya, menyerap cahaya matahari sore yang menyinari tubuhnya.

Kedua orang tuanya memeluk ia erat, mendaratkan ciuman hangat pada keningnya. Ia merasa sangat bahagia. Itu semua terlihat dari raut wajahnya. Tidak ada kepura-puraan, hanya kepolosan seorang anak kecil yang selalu bersemangat apabila ulang tahunnya tiba. Papa menyembunyikan sesuatu di punggungnya. Dari tadi ia tahu itu adalah hadiah untuknya, ia semakin tersenyum dengan lebar saat papanya memberikan sebuah liontin kecil berwarna biru padanya. Liontin itu berbentuk kupu-kupu.

“Terima kasih, Papa.”

“Iya, sayang.” Balas papanya. “Berjanjilah kamu akan terus menjaganya dan tidak akan menghilangkannya.” Lanjutnya.

“Aku janji.” Jawab Anna sambil terus memandang liontinnya.

“Nah… ayo sekarang kita makan kuenya.” Seru mamanya.

Anna bertepuk tangan dengan semangat. Respon atas persetujuannya disusul dengan tawa kedua orang tuanya.

Continue reading

Mysterious Fireman


Shadow : [Random Scene]

(Tammy Rahmasari)

 

 

In brightest day, in blackest night.

No evil shall escape my sight.

Let those who worship evil’s might.

Beware my power.

 

Shadow melompati parit dihadapannya, kemudian berlari mendekati sebuah gubuk. Gubuk yang terbengkalai dan ditinggal oleh pemilik sebelumnya, siapapun itu.

“Sebuah tempat persembunyian yang sempurna”, bisik Fog padanya.

Shadow berlari tanpa suara menjauhi Fog, mendekati gubuk tersebut. Mengintip kedalamnya, lalu memastikan benda itu aman untuk ditempati. Ia lalu memberi tanda pada Fog untuk berjalan dan mendekat.

Sebelum memasukin gubuk itu, ia berbisik pada Fog. “Buatlah hujan.”

Kemudian seketika turunlah hujan

Ternyata gubuk itu tidak terlihat seperti yang ia duga. Didalamnya bahkan lebih buruk dari penampilan luarnya.

“Aku tidak mau! Tempat ini jelek sekali.” Fog mengeluarkan sumpah serapahnya.

“Diamlah, Fog. Kita harus mengobati lukamu terlebih dahulu.” Balas Shadow tenang, lalu ia melanjutkan perkataannya, “sini… kulihat seberapa parah lukamu.” Continue reading