Es Loli Semangka


Berhubung Posterous akan ditutup pertanggal 31 April 2013, gue mau mindahin satu-satunya postingan gue disana daripada nanti hilang tanpa bekas. Silakan dinikmati~

Watermelon_Popsicles.jpg.scaled1000

Sepotong es loli semangka kuambil dari lemari pendingin rumahku. Saat ini, cuaca sedang panas-panasnya. Dengan lincah aku kembali menuju bangku di halaman belakang rumahku. Di sana, Evan tengah duduk dengan Continue reading

05:59 pm


Kemampuan yang tidak seperti orang normal ini mulai menggangguku. Aku kini harus lebih berhati-hati jika berbicara dengan seseorang, apakah dia nyata atau tidak nyata. Aku kini sama sekali tidak bisa memejamkan mata apabila penerangan dalam kamarku gelap, dan yang paling parah adalah karena aku selalu bermimpi buruk tiap malam mengenai hal yang kulihat di dunia nyata.

Hal ini tidak terjadi sedari aku kecil dan masa kecilku normal-normal saja. Kemampuan itu bermula ketika peristiwa antara hidup dan mati menimpaku saat aku berumur lima belas tahun. Saat itu bus sekolah yang biasa kunaiki meluncur masuk ke dalam jurang dengan ketinggian sepuluh meter. Beruntung aku dapat selamat karena tertahan oleh sabuk pengaman yang menjeratku agar tetap di tempat. Pada saat itu badanku terbentur oleh suatu benda –yang kebetulan sama sekali tidak aku ingat- dan menyebabkan pendarahan pada organ dalam tubuhku. Dokter yang membedahku terpaksa menghentikan jantungku sesaat, agar mereka bisa mengoperasi dan menyembuhkanku. Satu menit enam belas detik. Itu adalah lama waktu disaat aku mati.

Continue reading

Di Ujung Jalan


Kata kunci: Pohon beringin, jejak, putih, senter, darah.

Setting tempat: Terowongan.

Jumlah kata: 663

 

Jo melajukan civic putihnya dengan kecepatan hampir seratus kilometer per jam. Jalanan di pukul dua dini hari terbilang lengang. Ini adalah kali ketiganya dalam seminggu ini ia harus lembur di tempat kerjanya. Di persimpangan jalan mobilnya berbelok ke kiri, mengambil jalan pintas melalui terowongan. Karena itu adalah jalan tercepat untuk sampai ke rumahnya. Terowongan itu terkenal angker, tetapi rasa lelah yang dirasanya membuatnya tidak memilih jalan panjang yang setiap hari selalu dilaluinya.

Sebuah pohon beringin besar menyambutnya di muka terowongan. Ia memelankan laju kendaraannya sampai setengahnya saat ia mulai memasuki terowongan itu. Sebuah panggilan masuk mendarat di telepon genggamnya. Jo melirik sekilas untuk tahu siapa yang menelponnya. Ternyata dari Shinta, pacarnya.

“Halo, sayang? Kok belum tidur?” tanya Jo setengah mengantuk.

“Sudah. Ini kebangun aja langsung ingat kamu. Gimana laporannya? Beres?” Continue reading

Perempuan Pemulung


Aku duduk di sebuah bangku kayu di taman kota yang terletak tidak jauh dari rumahku. Udara terasa sejuk sekali jika setelah hujan. Pada bangku kayu itu telah duduk seorang lelaki necis berpenampilan seperti pegawai kantoran yang baru saja pulang dan sejenak melepas lelah sambil menikmati udara segar di sini.

Aku kebetulan saja baru pulang dari kampusku. Duduk sebentar di sini sambil menatap hijau daun dan beberapa anak kecil bermain di taman lumayan menghilangkan kepenatanku sedikit. Tugas kuliah lumayan menumpuk, ditambah lagi minggu depan akan ujian tengah semester.

Sebuah bunyi terdengar keluar dari ponselku. Langsung saja aku membuka tas dan mengeluarkan ponsel itu. Ternyata temanku, Siska, menanyakan tentang tugas kelompok yang harus kami kumpulkan besok. Dengan asyiknya aku ber-chatting ria dengan Siska. Continue reading

Delapan Jasad


Sherry menyesali keputusannya menolak permintaan Kyle untuk mengantarkannya ke gedung pertunjukan tempat resital piano pertamanya diadakan. Sherry mengetatkan mantelnya saat angin dingin menerpa tubuhnya. Jalanan dari apartemen menuju gedung itu memang tidak jauh, tapi ia baru sadar ternyata jika malam hari gang sempit yang selalu ia lalui di siang hari berubah menjadi tempat gelap dan menyeramkan. Apalagi di sebuah kota tua seperti ini, volume kendaraan yang lewat pun sangat rendah.

Sherry mempercepat jalannya. Hak stiletto merahnya berbunyi nyaring di sepanjang jalan sepi. Beberapa kali ia menoleh ke belakang, merasa seseorang sedang mengawasi dan mengikutinya.

Sherry mengambil ponsel dari mantelnya dan langsung memencet nomor Kyle. Beberapa kali nada sambung terus terdengar sampai akhirnya sambungan itu terhenti secara otomatis. Continue reading

My Idol [Pertemuan]


Rhara berjalan keluar dari Stasiun Anguk dan berbelok masuk menuju jalan Insa-dong. Setelah sebelumnya berpisah dengan Febri di kereta. Febri lebih memilih menjelajahi Itaewon dibandingkan berjalan bersama Rhara mencari sebuah kedai teh tua yang pernah dilihatnya pada salah satu website jalan-jalan di Korea.

Rhara berjalan sejauh tiga ratus meter sebelum akhirnya berbelok masuk pada sebuah gang kecil diantara Temple Food Shop dan Atelier Seoul. Dan tidak jauh dari situ ia menemukan sebuah kedai dengan suasana tradisional kental.

Sebuah pohon maple menjuntai dan menaungi bagian depan kedai sehingga suasana asri dan nyaman dirasakan oleh Rhara. Sebuah pintu geser berwarna hijau dibuka olehnya dan kemudian ia memasuki kedai itu. Suasananya benar-benar lain. Dengan interior gelap dan misterius, kedai itu seperti membawanya pada sebuah garasi tua. Penuh dengan ornamen tradisional dan furnitur antik. Continue reading