#8 Code


Tulisan sebelumnya: Under The Sky

Serafin baru kali ini melihat benar-benar kamarnya. Sebuah kamar di akademi sihir Incarnia itu berukuran empat kali empat meter dengan sebuah atap tinggi. Dua pasang jendela kaca berbingkai kayu oak yang dicat cokelat tua ditempatkan di sisi kiri dan kanan sejajar dengan sepasang tempat tidur di dalam ruangan itu. Dinding berwarna kuning pucat tampak kosong tanpa sebuah figura foto satupun. Serafin tidak memiliki cukup waktu untuk membereskan semua foto kenangan dalam album foto yang disimpan oleh ibunya dulu. Saat Travesh memintanya untuk datang ke asrama, ia langsung menyetujui ajakan itu dan hanya membawa barang seadanya saja. Rumahnya di Incarnia bagian utara, Isladea, kini benar-benar tidak terawat dan ditinggalkan begitu saja.

Kedua orang tuanya adalah penyihir tingkat tinggi. Tetapi mereka justru meninggal karena pada menyelamatkan seorang anak kecil yang akan tertabrak sebuah bus. Dengan keahlian mereka, bukan hal sulit untuk menghentikan bus itu dengan sihir. Tetapi mereka lebih memilih cara manusiawi, cara yang menurut Serafin lucu.

Di malam itu, Serafin sengaja membuka lebar-lebar tirai jendelanya dan tidur terlentang menghadap langit tanpa bintang. Lampu kamarnya sengaja ia biarkan gelap, agar cahaya bulan purnama masuk dan menyinarinya. Ia teringat pada sebuah kalimat dalam surat yang diberikan oleh Ayrish. Continue reading

#7 Under The Sky


Tulisan sebelumnya: Balas Kangenku, Dong!

“Apa kamu tahu? Berada dekat denganmu sudah menjadi kebiasaan baru untukku.” Ucap Luna sambil ikut berbaring diatas rumput hijau bersebelahan dengan Serafin.

Serafin tertawa lepas. Baru beberapa hari yang lalu Luna mengatakan bahwa ia adalah musuhnya dan datang untuk membunuhnya. Tapi entah mengapa, Serafin justru merasakan hal yang berlawanan. Seolah-olah Luna datang untuk membantunya. Untuk menjadi temannya. Padahal selama beberapa tahun ini Serafin tidak pernah mempunyai teman satupun, semua menghindar saat Serafin berada di dekat mereka seperti sebuah virus berbahaya. Aneh juga dengan bagaimana cara ia memperlakukan Luna. Mungkin karena ia tahu bahwa mereka bermusuhan, maka suatu waktu mereka pun akan kembali pergi. Saling menjauh dan melupakan.

Serafin menatap langit biru yang jauh di atas kepalanya. Hari ini awan tersusun seperti sekumpulan biri-biri yang sedang berbaris. Di sebelahnya, Luna pun menatap langit yang sama.

“Beritahu aku. Apa mimpimu, Luna?” Tanya Serafin tiba-tiba.

Luna menutup perlahan kedua matanya sambil menggeleng perlahan, “Mimpiku… memang seperti halnya mimpi. Tidak akan bisa kuwujudkan, hanya bisa kulihat hanya dalam tidurku.” Continue reading

#6 Balas Kangenku, Dong!


Tulisan sebelumnya: Sambungan Hati Jarak Jauh

Angin di awal musim semi pada tahun 2019 masih terasa dingin karena butiran salju masih belum seluruhnya hilang. Cahaya matahari memantul pada butiran salju dan menghasilkan warna-warni indah yang berpendar ke segala arah. Burung-burung mulai bernyanyi di atas ranting-ranting pohon yang masih meranggas. Serafin mengetatkan mantel musim dinginnya. Ia belum terbiasa tanpa mantel itu di hari yang masih tetap saja dingin seperti hari ini.

Ia berdiri di pinggir jalan raya, di depan sebuah toko kelontong. Ia menyesal tadi membatalkan niatnya untuk menunggu ibunya di dalam mobil dengan pemanas yang dapat menghangatkan tubuhnya. Akhirnya ia memutuskan untuk mengukuti niat awalnya, masuk ke dalam mobil. Jika ibunya memerlukannya untuk mengangkat barang belanjaan, ia tinggal berlari keluar dan menghampirinya.

Serafin berbalik dan membuka pintu toko itu. Sebuah bel yang dipasang di atasnya berdenting pelan pada saat pintu itu terbuka. Suasana toko itu begitu hangat, berbanding terbalik dengan udara di luar sana. Ia menyusuri rak-rak bahan makanan yang diatur berjejer pada ruangan yang kira-kira memiliki luas sebesar tiga ratus meter persegi. Di balik meja kasir ia melihat teman satu sekolahnya yang sedang berkerja paruh waktu di toko itu. Karena ia merasa tidak kenal, Serafin hanya tertunduk saja saat melalui meja kasir tersebut.
Continue reading

#5 Sambungan Hati Jarak Jauh


Tulisan sebelumnya: Cuti Sakit Hati

Tahun 2021

Ruangan kafetaria asrama Incarnia penuh sesak dengan para Ingeniosi. Mulai dari anak kecil, remaja, sampai Ingeniosi tua bercampur dalam satu atap. Alat makan saling berdenting menambah kegaduhan di tempat itu. Kafetaria ini merupakan tempat teramai kedua setelah aula latihan. Beberapa dari mereka bahkan ada yang dengan santainya mempraktikkan ilmu sihir di depan teman mereka lainnya. Dan jika diperhatikan, salah satu keunikan tempat ini adalah bahwa tidak ada satu orangpun yang mencatat dan melayani pesanan. Semua dilakukan dengan sihir.

Mulai dari mencatat pesanan yang dilakukan oleh sebuah nota terbang, urusan mengantarkan piring dan gelas juga dilakukan dengan sihir. Sang koki tinggal menjentikkan jarinya, lalu pesanan langsung berpindah ke atas meja pemesannya.

Dari pintu masuk kafetaria, Serafin muncul dan kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan mencari seseorang. Nafasnya tersengal-sengal karena berlari dari gedung asrama menuju kafetaria yang jaraknya cukup jauh. Tak lama kemudian, ia melihat seseorang yang dicari-carinya. Dengan setengah berlari, Serafin menuju meja Luna di ujung dalam kafetaria. Continue reading

#4 Cuti Sakit Hati


Tulisan sebelumnya: Orang Ketiga Pertama

Tahun 2021

Luna memasuki ruangan kamar di asramanya dan langsung menghempaskan tubuhnya pada sebuah kasur empuk yang dilapisi oleh quilt[1] buatan ibunya. Aroma yang menguar dari quilt itu membawanya pada suasana rumahnya di Shalira. Keputusannya untuk pindah dan bersekolah di Incarnia bukanlah sebuah keputusan yang mudah. Keluarga dan guild-nya pun menentang habis-habisan. Ia adalah cucu dari tetua Shalira, berkelana keluar wilayah tanpa maksud yang jelas. Setidaknya itu yang mereka tahu. Padahal maksudnya itu kuat. Sekuat keinginannya untuk melupakan seseorang.

Ayrish…

Nama itu selalu muncul saat hatinya terasa sakit. Seakan-akan nama itu telah menancap kuat dan dalam seperti sebuah belati. Sedikit saja bergerak atau dengan sengaja menarik belati itu, maka ia akan terus merasakan sakit. Luna mengangkat tangan kanannya dan menaruhnya diatas kedua matanya. Menutupnya dan mulai menangis.

Keraguan mulai merayapi pikirannya. Seharusnya ia langsung saja berputar balik saja saat kereta api memasuki wilayah Incarnia. Seharusnya ia melupakan saja rencana bodohnya dan terus melanjutkan hidup. Seharusnya ia mendengarkan perkataan ibunya. Seharusnya… seharusnya… ia tidak pernah bertemu Ayrish. Continue reading

#3 Orang Ketiga Pertama


Tulisan sebelumnya: Pukul Dua Dini Hari

Tahun 2021

Serafin mendorong tubuhnya masuk ke dalam ruangan kelas. Suara bising di dalam kelas itu malah membuat kepalanya semakin pusing. Tadi malam ia terjaga sampai pukul tiga dini hari hanya untuk membaca sebuah buku lama tentang pengatur waktu yang kemarin lusa diberikan oleh Travesh padanya.

Ia akhirnya sampai pada tempat duduknya. Sebuah kursi ketiga dari depan dan tepat di sebelah jendela besar yang menghadap langsung sebuah taman cantik yang dipenuhi oleh bunga-bunga beraneka warna. Saat musim semi, ia bahkan bisa mencium wangi bunga saat angin menerbangkan aromanya.

Secara tidak sengaja, Serafin menangkap pembicaraan ketiga teman sekelasnya.

“Eh, katanya ada anak baru loh hari ini?” Ucap perempuan berpita merah jambu yang namanya tidak ia tahu.

“Iya, tadi aku juga mendengar hal itu saat sarapan.” Kata perempuan berambut pendek sebahu menimpali. Continue reading

#2 Pukul Dua Dini Hari


Tulisan sebelumnya: Kenalan Yuk!

Tahun 2020

Serafin melirik jam antiknya. Waktu telah menunjukkan pukul dua dini hari dan ia sama sekali belum mengantuk. Lempengan logam bundar yang dijadikan bandul pada kalung talinya kini terasa panas di kulitnya. Biasanya lempengan itu akan memanas jika ia sedang melompati waktu, tapi saat ini ia sedang berbaring santai pada tempat tidurnya di asrama Incarnia. Sebuah asrama yang dihuni oleh para Ingeniosi muda dari seluruh penjuru Incarnia untuk mengasah kemapuan sihir mereka.

Lempengan logam itu ia dapatkan dari masa lalu. Saat ia bertemu dengan Travesh muda yang menyadari tentang kekuatannya. Beliau bilang, lempengan itu akan menyerap tenaga berpindah Serafin agar tidak melompat terlalu jauh.

Ia melirik tempat tidur kosong disebelah miliknya. Beruntung bahwa ia ditempatkan sendiri dalam kamar asrama itu. Semua mata memandang aneh pada saat ia diperkenalkan oleh Travesh di depan kelasnya. Kelas yang sama sekali bukan spesifikasinya. Karena di Incarnia sama sekali tidak ada kelas yang memuat tentang pemutar waktu.

Jika dunia ini memang ada makhluk asing yang bernama alien, mungkin ia adalah alien itu. Perbedaan itu secara tidak langsung akan membuatmu tersingkir, jauh dari dunia nyata. Continue reading