#8 Ramai


Aku memperhatikan dengan seksama seorang ibu dan anak perempuan kecilnya tengah berjalan dengan riangnya di jalanan Malioboro yang ramai ini. Beberapa kali genggaman putrinya terlepas tanpa sengaja, lalu beberapa saat kemudian mereka kembali bergandengan tangan.

Sang ibu tengah asyik dengan dunianya sendiri. Memilih beragam jenis batik berwarna-warni yang tengah dihamparkan oleh seorang pelayan toko padanya dan juga pada rombongan lainnya. Tangannya sigap memilih pakaian kebanggaan Indonesia itu. Tangan kanannya tetap saja mengaduk-aduk batik obralan itu sementara di tangan kirinya telah penuh dengan pilihannya. Kini anak perempuan itu mengalah. Ia membiarkan ibunya tenggelam dalam euforia sementara ia merasa tersesat di dunia lain. Satu-satunya yang bisa ia Continue reading

Advertisements

#7 Biru, Jatuh Hati


Pada perairan dangkal tempat berkumpulnya karang-karang aku terpesona pada sebuah sosok manusia. Ia tengah berdiri menghadap laut sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Kemeja putihnya bergoyang-goyang tertiup angin, dan begitu pula dengan rambut hitam pendeknya. Dengan berlatarkan langit biru hari itu, aku jatuh hati padanya.

Hampir setiap hari aku pergi ke pesisir Pantai Pangandaran dengan tujuan yang sama, melihat kembali sosoknya yang menyatu dengan langit. Tapi entah mengapa hari ini aku tidak melihatnya, ia tidak berdiri di tempat itu. Jejak kaki pada pasir pun tidak ada. Entah karena telah hilang tersapu ombak, atau memang ia sama sekali tidak menjejakkan kakinya di sana. Continue reading

#6 Sehangat Serabi Solo


Aku berdiri dengan cemas di gerbang Stasiun Solo Balapan, menunggu seseorang yang sama sekali belum pernah kutemui. Komunikasi kami hanya terjalin lewat dunia maya dan pesan singkat saja selama setahun ini, walaupun kadang sesekali kami pun saling menelpon. Tapi selebihnya, aku hanya pernah melihat wajahnya pada sebuah layar dua dimensi saja.

Kemudian pada saat ia menelponku dua hari yang lalu aku sangat terkejut. Ia tiba-tiba akan mampir sebentar di Surakarta sebentar, setelah menyelesaikan tugasnya di Jogja. Perjalanan dari Stasiun Lempuyangan ke Stasiun Solo Balapan mungkin hanya sekitar satu jam saja. Tetapi tetap saja, aku datang lebih awal dengan jantung berdebar-debar dan perasaan gugup yang tidak bisa kuhilangkan.

Aku sudah sampai. Kamu dimana?

Sebuah pesan singkat muncul di layar ponselku. Aku langsung membalasnya. Continue reading

#5 Sepanjang Jalan Braga


Pram duduk di salah satu cafe di Jalan Braga sambil menghilangkan pegal pada kakinya sambil menatap dalam mata seseorang di depannya. Ia kembali dijebak oleh mahkluk manis yang selalu bergelayut manja padanya setiap waktu. Setelah perjalanan yang melelahkan pada minggu lalu ke kota Padang, kini ia harus menyusuri seputaran Bandung dengan berjalan kaki, gara-gara Ayu bilang cuaca hari ini sejuk dan bagus untuk berjalan-jalan.

“Pram, sejuk ya udaranya. Jarang-jarang jam segini Bandung sejuk.” Seru Ayu memecahkan suasana.

Ternyata betul, Ayu memang tidak bisa diam. Selalu saja melompat kesana kemari dan berceloteh tidak ada habisnya. Padahal ia baru saja mendapatkan ketenangan selama lima menit saja. Continue reading

#4 Kerudung Merah


“Bay, ingetin kenapa sekarang gue bisa ada di sini?” Tanya Radya pada Bayu dengan nada kesal.

“Soalnya lu taruhan bola sama gue kemaren.” Jawab Bayu sambil tertawa bangga penuh kemenangan.

“Ah… sialan lo! Gue kan gak taruhan bayarin tiket pulang pergi lo ke Danau Toba!” Ucap Radya semakin kesal.

Bayu menepuk-nepuk punggung sahabatnya seolah memberi semangat, “amal, Dya. Sekali-kali doang. Kan lo baru aja gol proyek gede kemaren.” Continue reading

#3 Jingga di Ujung Senja


[Seberang Ulu]

Arini, masih ingatkah kamu dengan janji kita setahun yang lalu untuk bertemu di sini pada saat senja datang. Di sisi Jembatan Ampera, di tepian Sungai Musi.

Arya menenteng kamera sakunya dengan cemas. Mencoba mengambil gambar keadaan Sungai Musi saat itu. Tapi gambar yang ia ambil dengan setengah hati, sama sekali tidak bagus hasilnya. Arya kembali menghapus puluhan foto itu. Kemudian ia mengecek kembali inbox email-nya, tapi pesan itu masih tetap sama, sama sekali belum ada balasan dari seseorang yang tunggu sejak pesan itu terkirim.

Arini, tanggal 14 Juni ini aku akan ke Palembang. Masih ingat janji kita kan?
Aku akan menunggumu di sisi Jembatan Ampera, tepat pukul 3 sore. Continue reading

#2 Pagi Kuning Keemasan


Aku menggenggam sejumput pasir putih di tepi pantai. Dengan cepat pasir itu lolos dari sela-sela jariku. Tak jauh dari tempatku berada, sebuah mercusuar menjulang tinggi menantang langit Pulau Lengkuas yang berwarna biru cerah. Dan hamparan batu granit yang digunakan oleh beberapa turis domestik maupun mancanegara untuk sekedar beristirahat menikmati pemandangan indah yang sama sekali tidak bisa didapat di ibukota.

“Della, ayo kemari. Air lautnya bening, sampai-sampai bintang lautnya terlihat jelas.” Panggil Geri.

Aku berdiri dan melangkah mendekatinya. Terpaan lembut angin dan kicauan riuh burung-burung membuatku lupa bahwa aku kini berada di dunia nyata bukannya di alam mimpi. Continue reading