Serka dan Maliki


Di sebuah negeri, yang alamnya asri nan elok dengan perekonomian yang stabil dan sejahtera. Hiduplah seorang pemimpin bernama, Maliki. Ia adalah tokoh yang paling disegani di negara tersebut. Ia adil, arif, disegani oleh rakyat, dan seorang pedagang yang berhasil. Tapi gemerlapnya harta dan kekuasaan kini mulai membuatnya lupa diri.

Pada suatu hari, datanglah seseorang bernama Serka. Ia tidak memiliki apa-apa. Datang ke negara itu pun, hanya berbekal sebuah bungkusan kumal saja.

Tidak banyak barang istimewa yang dibawa oleh Serka. Bungkusan kumal yang ada di dalam genggamannya hanya berisi baju-baju bekas yang sebenarnya sudah tidak layak pakai lagi. Meski begitu Serka tetap saja membawanya. Hanya itu saja yang kini ia miliki. Hanya itu yang tersisa darinya. Beberapa pekan sebelumnya Serka dan seluruh rombongannya harus menanggung kerugian yang sangat banyak. Kafilah dagang mereka disergap oleh segerombolan perampok berkuda yang menyerang dan mengambil seluruh harta mereka. Continue reading

Advertisements

Dariku di Masa Depan


Untuk Tammy kecil,

Ingatkah kamu saat di taman kanak-kanak dulu, kamu menangis begitu kencangnya karena tidak mau ikut memakai busana daerah saat peringatan Hari Kartini? Mama sampai pusing bagaimana lagi membujukmu. Penyebabnya adalah saat seorang temanmu meledekmu dengan ucapan jahil, “Adeuh… Amy sama Andi pacaran nih. Sampe pake bajunya samaan.” Padahal lelaki itu adalah sepupumu sendiri. Kemudian beberapa tahun setelah itu, kamu pun ngambek dan tidak pernah mau memakai kebaya lagi.

Juga ingatkah kamu? Saat kamu bolos sekolah agama, papa begitu marah dan menghukummu. Tidak apa-apa, ia ingin sekali kamu menjadi anak yang sholeh dan tahu cara membedakan mana yang benar dan salah.

Lalu ingatkah kamu dengan saat semua orang rumah mencarimu ketar-ketir sampai malam? Papa yang khawatir dan mama yang terus menangis bertanya-tanya ada apa denganmu. Ternyata kamu hanya kemalaman main di rumah temanmu dan lupa memberi kabar. Tapi begitu papa menemukanmu, bukanlah amarah yang ada di dalam matanya. Melainkan perasaan lega karena masih bisa bertemu lagi denganmu. Begitu pula mama, saat melihatmu ia hanya terus memelukmu erat sambil terus menggumamkan syukur. Continue reading

Kopi Tubruk


Satu pesan muncul di layar ponselku.

Di, pak Nirwan minta direvisi proposalnya. Katanya kurang greget. Gue masih ngerjain proposal laen nih. Bantuin gue ya. Pleaseee… Niko.

Ku tutup kembali pintu pagar rumahku. Ku hembuskan nafas pasrah. Niko memang selalu begitu, memanfaatkan kebaikannya. Tapi bodohnya dia, ia menerimanya saja tanpa banyak bicara.

Aku kembali memasuki rumah, langsung menuju kamarku. Ku nyalakan kembali laptopku, alih-alih menjeput Riri untuk mengajaknya makan malam bersama. Padahal kemarin-kemarin aku sampai rela lembur tiap hari untuk membereskan pekerjaannya yang menumpuk agar bisa keluar malam ini dengan Riri.

Tapi nasibnya berkata lain. Ia sedang sial. dan sial itu bernama Niko.

Kolom chat-nya berbunyi. Riri mengirimkan pesan.

“Kamu kok online lagi, Di? Katanya mau langsung berangkat tadi?”

Aku mengetik dengan malas.

“Biasa. Niko. Minta aku ngerjain revisi yang diminta pak Nirwan 😦 “

Riri tidak langsung membalas. Adi tahu, ia pasti kesal karena rencana mereka berdua batal lagi gara-gara pekerjaannya. Continue reading

Soto Koya


Hujan. Itu yang terjadi setiap hari selama sebulan ini. Sedangkan aku, daripada harus berat membawa payung. Aku lebih suka bermain dengan hujan.

Hari ini aku pun tertahan oleh hujan. Berada satu ruangan dengannya pada ruangan yang hanya berukuran tiga kali empat meter ini terasa sesak. Jika saja bukan karena dalih tugas kelompok yang harus kami selesaikan, aku tidak akan bisa berkonsentrasi saat berdekatan dengannya. Kami satu universitas, satu jurusan, dan juga berada pada kelas yang sama. Kebetulan tugas kali ini mendesakku untuk bekerja sama dengannya.

“Hujan, Rie. Laper ga?” Tanyanya menembus melodi hujan yang kini mengalun indah menjadi suara latar kami. Continue reading

Tantangan #15HariNgeblogFF


Suatu malam di tanggal 11 Januari 2012. Sebuah tweet pendek dari mbak Unge menarik perhatian saya. Tweet itu tentang tantangan membuat flash fiction selama 15 hari berturut-turut dan dinamakan #15HariNgeblogFF. Syaratnya gampang lagi, asal punya blog sendiri boleh ikut proyek ini. Saking semangatnya ikut, tulisan pertama saya yang berjudul “Halo, Siapa Namamu?” nangkring dengan mulus di No. 1 daftar tulisan yang terkumpul hari itu.

Maksud diadakannya #15HariNgeblogFF itu adalah untuk menghalau writer’s block jauh-jauh. Kadang kita jenuh saat menulis cerpen yang idealnya harus memuat 3000-4000 buah kata. Sebelumnya pun saya belum pernah juga menulis flashfic. Jadi saya berniat coba-coba menulis, bagus ya syukur… engga bagus juga namanya juga belajar. Hehe…

Ikut proyek ini tuh seperti berkomitmen, setia setiap harinya. Saya meniatkan untuk ikut setiap hari, tidak peduli sejelek apa tulisan saya. Akan coba saya tulis dan share. Lalu perasaan tulisan kita dibaca dan dikomentari oleh orang lain itu tidak ada duanya. Senang… tidak peduli itu positif bahkan negatif sekalipun.

Pokoknya lima belas hari ini kencan sama mbak Unge dan mas Momo itu menyenangkan! Lagi makan mikirin ff. Lagi kerja mikirin ff. Lagi bengong mikirin ff. Sampai-sampai, bangun tidur juga langsung buka laptop penasaran sama judul hari ini.

Tapi tidak terasa ternyata sudah lima belas hari terlewati. Saat-saat seperti ini pasti bikin kangen. Soalnya ikut proyek ini itu bener-bener terbantu. Paling pertama itu jadi rajin nulis, nambah teman juga, terus mengasah kemampuan nulis. Nah! yang terakhir itu bener-bener teruji. Tulisan saya sekarang ini -rasanya- jadi lebih bagus karena tiap hari latihan.

Jangan selesai sampai disini ya… direncanakan saja, tiap tiga bulan sekali, atau enam bulan sekali, bahkan kalau perlu setahun sekali. Ya ya ya?

Peluk jauh untuk mba Unge dan mas Momo. Terima kasih untuk lima belas hari ini 😀

Protected by Copyscape Online Plagiarism Test

Sumber gambar : etsy.com

[15] Sah!


Laras melihat pantulan dirinya pada cermin.. Rok songket berwarna krem keemasan dipadupadankan dengan sebuah kebaya putih nan cantik membalut sempurnya tubuhnya. Ia tersenyum cerah pada sosok yang terpantul di cermin itu. Hari ini merupakan momen terpenting dalam hidupnya. Sebuah awal dari hidup barunya.

Jantungnya berdetak tidak karuan sejak tadi malam, menunggu hari ini tiba. Bertempat di sebuah mesjid yang tidak jauh letaknya dengan rumahnya, ia akan melangsungkan prosesi ijab kabulnya dengan Banyu.

Pikirannya melayang pada kenangan-kenangan bersama Banyu. Mulai dari perkenalan mereka yang ternyata diatur oleh kedua teman dekat mereka, kemudian sampai kejadian di restoran saat Banyu melamar Laras tiga bulan yang lalu. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa Banyu akan berbuat demikian disaksikan berpuluh-puluh pasang mata yang melihat. Continue reading

[15] Menikahlah Denganku


Bobot benda yang berada dalam saku celana katun Banyu kini beratnya terasa berpuluh-puluh kilogram. Semua kisah hidupnya sebelum ini terpusat pada benda itu. Hari ini, ia sengaja memesan tempat di salah satu restoran terbaik di kotanya untuk acara spesialnya. Ia pun memakai pakaian paling rapi.

Jam menunjukkan pukul delapan tepat, tapi orang yang ia tunggu-tunggu belum datang juga. Ia gelisah di tempat duduknya. Sesekali ia melayangkan pandangan ke luar melalui kaca jendela di sebelah kirinya. Ia mengecek kembali benda itu. Memastikannya masih tetap tersimpan dengan manis disana.

Tiba-tiba sesosok malaikat menghampirinya. Setidaknya itulah yang dilihat Banyu malam itu. Laras cantik sekali dalam balutan gaun putih selutut dan dengan ornamen bunga lili sebagai pemanis rambutnya. Saat ia duduk di hadapan Banyu, musik latar berganti sendu. Terdengar suara seksi saxophone mengiringi lagu You and I dari Stevie Wonder.

Here we are on earth together,
It’s you and I,
God has made us fall in love, it’s true,
I’ve really found someone like you.

Suasana malam itu terasa romantis. Laras tersenyum manis saat mereka saling menautkan jari sambil menunggu pesanan makan malam mereka. Irama musik terus mengalun, menenggelamkan pikiran penat dari aktivitas hari ini. Pokoknya harus malam ini, yakin Banyu. Continue reading