05:59 pm


Kemampuan yang tidak seperti orang normal ini mulai menggangguku. Aku kini harus lebih berhati-hati jika berbicara dengan seseorang, apakah dia nyata atau tidak nyata. Aku kini sama sekali tidak bisa memejamkan mata apabila penerangan dalam kamarku gelap, dan yang paling parah adalah karena aku selalu bermimpi buruk tiap malam mengenai hal yang kulihat di dunia nyata.

Hal ini tidak terjadi sedari aku kecil dan masa kecilku normal-normal saja. Kemampuan itu bermula ketika peristiwa antara hidup dan mati menimpaku saat aku berumur lima belas tahun. Saat itu bus sekolah yang biasa kunaiki meluncur masuk ke dalam jurang dengan ketinggian sepuluh meter. Beruntung aku dapat selamat karena tertahan oleh sabuk pengaman yang menjeratku agar tetap di tempat. Pada saat itu badanku terbentur oleh suatu benda –yang kebetulan sama sekali tidak aku ingat- dan menyebabkan pendarahan pada organ dalam tubuhku. Dokter yang membedahku terpaksa menghentikan jantungku sesaat, agar mereka bisa mengoperasi dan menyembuhkanku. Satu menit enam belas detik. Itu adalah lama waktu disaat aku mati.

Dua tahun berselang sejak kejadian itu, aku benar-benar bersyukur masih diberi kepercayaan oleh Sang Maha Kuasa untuk menikmati hidup. Kini hidupku adalah satu-satunya hal berharga yang terus aku jaga. Aku memandang keluar sambil terus mendengarkan lagu dari pemutar musikku. Kaca jendela bus yang kunaiki kubiarkan terbuka lebar agar angin menerpa wajahku dan membiarkanku terjaga. Di sudut mata aku melihat seorang anak kecil yang duduk di bangku lainnya sedang memandang kearahku. Pandangannya menusuk sampai membuat bulu kudukku meremang. Aku sengaja tidak memandangnya dan malahan melihat ke arah depan dan belakangku. Penumpang bus itu ternyata tidak banyak. Dari yang dapat kuhitung, jumlahnya hanya sekitar sepuluh orang saja termasuk aku. Dua orang remaja putri yang sedang asyik bergurau, sebuah keluarga yang terdiri dari ibu, ayah, dan kedua putranya, seorang nenek yang sedang tertidur pulas, kondektur, supir, dan terakhir aku.

Anak kecil yang sejak tadi terus melihat ke arahku kini mendekati dan duduk di sebelahku. Aku langsung memalingkan wajahku kembali keluar dan memandang jajaran pohon kenari di sepanjang jalan raya. Ujian kelulusan hanya tinggal beberapa bulan lagi dan aku harus rela pontang-panting mengurus berkas agar aku bisa masuk universitas melalui jalur prestasi. Jika tidak begitu, orang tuaku tidak akan mampu terus menyokong biaya pendidikanku.

“Halo.” Bisiknya membuyarkan lamunanku.
Aku diam saja dan malah memperbesar volume pemutar musikku. Anak kecil itu tidak menyerah setelah kudiamkan. Ia mulai menggelitik tangan kananku yang masih memegang pemutar musikku. Genggamanku mengetat dan jantungku kini berdetak lebih cepat.

Bekas sentuhan yang tadi diusapkan oleh jemari anak kecil itu sekarang menyisakan jejak-jejak dingin. Setelah ia selesai dengan tanganku, kini giliran ujung rambut panjangku yang ikal ia mainkan. Mula-mula ia melilitkan di sepanjang jemarinya, kemudian membelainya mulai dari puncak kepalaku. Lalu karena ia tidak memperoleh perhatianku, ia mulai menarik-nariknya hingga kulit kepalaku berdenyut-denyut.

Aku langsung berbalik dan melotot padanya. Ia kini mendapatkan seluruh perhatianku.

“Apa maumu?” Tanyaku dengan ketus sambil melirik ke kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada seorang pun yang mendengarku.

Ia melepaskan tangannya dari rambutku dan mulai meremas-remas kausnya yang berwarna abu-abu. Kuperhatikan umurnya adalah sekitar tujuh atau delapan tahun.

“Aku… sudah tahu bahwa kakak bisa melihatku.”

Jika saja pernah menonton film hitam putih yang diproduksi pada era tahun 1900-an, aku akan berpikir sekarang ini aku sedang terjebak di dalamnya. Dengan teori yang tidak kuketahui, jika saja ada hantu yang berada dalam jarak pandangku semua pemandangan akan berubah menjadi hitam putih. Seperti masa dimana Thoman Alfa Edison menciptakan kamera yang mampu merekam benda bergerak pada tahun 1988. Hanya saja kamera itu belum sempurna, benda itu hanya bisa merekam gerak dinamis tanpa warna dan suara.
Perbedaan manusia dan hantu dari mataku adalah manusia itu memancarkan warna warni auranya yang indah sebagai tanda kehidupan, sedangkan hantu bagiku itu hitam putih, tidak berwarna, tampak seperti negatif film, dan mati. Begitu pula dengan hantu anak kecil di hadapanku ini, ia menyerap hawa kehidupan dan mengganti dengan hawa kematiannya.

Aku menghembuskan nafas pasrah, “Aku ulang, apa maumu?”

“Aku… aku… hanya ingin mengatakan… kakak sebaiknya cepat turun dari bus ini. Karena hari ini adalah tanggal 2 Februari.”

Keningku berkerut, “Memangnya ada apa dengan tanggal 2 Februari?”

“Kakak turun saja. Terowongan di depan tinggal beberapa menit saja. Kakak jangan lewat situ.” Anak itu mulai menarik-narik ujung bajuku.

Sebuah nada dering penunjuk pesan berbunyi pada ponselku. Dengan cepat aku membuka pesan itu dan tidak menggubris anak itu.

Ibu +62 817-6667-xxxx
Aline sudah sampai mana? Ini sudah mau maghrib kok kamu belum pulang? Nanti titip dibelikan susu ya di mini market dekat rumah.

Ternyata sebuah pesan dari ibuku. Setelah selesai kubaca langsung kuketik balasannya. Kukatakan bahwa aku sudah mau dekat rumah dan akan sampai dalam sepuluh menit.

“Ayo kak, turun.” Tarik anak kecil itu lagi.

“Apa yang kamu lakukan? Berhenti! Jangan mengangguku!” Teriakku kesal.

Kini para penumpang bus mulai memperhatikan dan menaruh curiga padaku. Beberapa dari mereka mulai berbisik-bisik dan melihat ke arahku dengan wajah yang aneh. Tentu saja mereka tidak bisa melihat anak kecil ini dan mereka pikir aku sedang berbicara sendiri.

“Berhenti menggangguku. Sana kamu pergilah.” Ucapku terakhir kali pada anak kecil itu.

“Kakak tidak mengerti… di terowongan itu ada sesuatu yang jahat sedang mengincar korban baru. Ia selalu muncul pada saat waktu kematiannya, pukul lima lebih lima puluh sembilan.”

Ujung terowongan yang dibicarakan oleh anak kecil itu mulai terlihat dari tempatku duduk. Kira-kira dalam waktu satu menit, bus ini akan menggapai pintu masuk terowongan.”

“Oh… tidak. Ayo kak, turun sekarang.” Anak itu menarik tanganku dengan kuat sampai-sampai aku jatuh dari kursi tempatku duduk.

“Lepas tanganmu. Aku sama sekali tidak percaya padamu.” Bisikku kesal.

“Kakak ayo turun. Aku ingin menolongmu.” Anak itu terus memaksa.

Saat aku bangun dari jatuhku, mataku menatap langit di atas terowongan itu. Awan gelap menaunginya, padahal langit di belakangku masih cerah dengan semburat warna senja. Perasaan aneh mulai muncul. Aku merasakan hal buruk pada saat melihat terowongan itu.

“Berhenti, pak! Saya mau turun di sini saja.” Teriakku tiba-tiba.

“Neng, betul mau turun di sini? Halte berikutnya sebentar lagi dan ada di balik terowongan itu.” Kata kondektur bus kepadaku.

Aku berjalan cepat-cepat menuju pintu, “Tidak apa-apa. Seseorang akan menjemputku di taman sana.” Aku menunjuk sebuah taman yang tidak jauh dari tempatku.

Supir bus itu tidak mempedulikanku dan terus saja melajukan busnya. “Maaf, Neng. Tidak bisa. Bus ini hanya bisa berhenti di halte-halte tertentu saja.”

Aku melihat pintu terowongan yang semakin lama semakin dekat. Perasaanku tidak menentu. Hawa jahat menguar pekat dari dalam sana.

“Pak, tolong. Berhenti di sini saja!” Teriakku lagi. Kini air mataku mulai merangsek keluar dengan sendirinya.

Bus itu tidak melambat. Supirnya malah terus menambah kecepatannya. Anak kecil di sebelahku kini mematung sambil tertunduk lesu.

“Padahal sudah kuperingatkan… padahal sudah kuperingatkan.”

Dari arah yang berlawanan muncul tiba-tiba sebuah bus yang berjalan tepat ke hadapan bus yang kunaiki. Keringat dingin mulai menjalar ke seluruh bagian tubuhku.

BRAKKKKKKK.

Suara hantaman keras dua benda yang sama-sama berkecepatan tinggi terdengar memekakkan telinga. Kaca depan pecah. Tumbukan itu membuatku terpelanting ke belakang. Sebuah benda menghantam kepalaku.

Dejavu. Kejadian ini mirip seperti waktu itu.

“Padahal sudah kuperingatkan… padahal sudah kuperingatkan.”
Kalimat terakhir yang kudengar sebelum kesadaranku sepenuhnya  hilang.

***
Ditulis untuk proyek #MelodiHijauOranye @YUI17Melodies dengan tema feel my soul.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s