Promise


Semburat berwarna-warni tampak menghiasi langit senja yang dihiasi oleh awan-awan. Beberapa burung beterbangan melintasi langit di atas kepala Intan dan Tian ke suatu tempat di balik pepohonan tak jauh dari pantai. Burung tersebut sepertinya tahu, bahwa disaat seperti sekarang ini adalah waktunya pulang dan bertemu kembali dengan sanak keluarganya. Suara nyaring dari burung tersebut bersatu membentuk sebuah harmoni indah bersama dengan deburan ombak yang secara berkala membentur dinding karang.

Intan dan Tian meresapi pemandangan itu sambil terus menatap laut dari pinggir pantai. Celana khaki Intan yang senada dengan pasir pantai kini mulai basah terkena air laut pasang, tapi ia tetap bergeming dan terus menatap matahari yang perlahan-lahan mulai menghilang. Mereka berdua duduk di pinggir pantai sambil memeluk lututnya masing-masing.

Tian menatap Intan, “Aku… mau bilang sesuatu sama kamu.”

“Hmm… apa?” Jawab Intan pelan.

“Besok aku pindah, Tan.” Bisik Tian.

Tian kini mendapatkan perhatian sepenuhnya dari Intan. Intan memandang wajah Tian sambil memicingkan kedua matanya.

“Maksud kamu? Pindah rumah?”

Tian mengangguk.

“Kok tiba-tiba sih. Aku juga baru dikasih tahu sekarang.” Cerocos Intan.

Tian menggembungkan kedua pipinya dan menjawab, “Karena aku pikir tadinya aku tidak perlu pindah. Lagi pula aku kan sudah di terima di universitas lewat jalur prestasi pula di sini.”

“Lalu?”

“Ayah ditugaskan ke Jepang, Tan. Beliau pikir, akan lebih bagus jika aku melanjutkan sekolah disana.”

Intan membuang nafas panjang. “Terus kita gak bisa ketemu lagi dong?”

Tian menggoyangkan kedua tangannya dengan tiba-tiba sebagai sanggahan atas pertanyaan Intan barusan. “Engga gitu juga. Setelah aku lulus, aku akan kembali ke Indonesia kok.”

Intan menatap Tian lama. Mencari ketulusan diantara binar kedua mata Tian.

“Janji?” Ucap Intan sambil menyodorkan jari kelingking kanannya.

Tian mengangguk dengan cepat lalu menyambut jari itu dan menautkannya dengan miliknya, “Janji.”

***

Dua tahun kemudian…

Kriiiinggg… Kriiiinggg…

Dering telepon membuyarkan konsentrasi Intan pada jurnal ilmiah yang berusaha ia selesaikan. Penelitiannya sudah cukup lengkap dan ia tinggal menerjemahkan angka-angka yang berada dalam catatannya menjadi sebuah penjelasan panjang lebar dalam halaman kosong di microsoft word-nya.

“Halo. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam.” Balas sebuah suara di ujung jaringan teleponnya.

“Kak Indah?”

“Halo bocah. Apa kabar?” Sebuah panggilan yang sejak kecil diberikan padanya oleh kakak kandungnya terdengar kembali setelah beberapa bulan Intan sibuk dengan penelitiannya dan jarang berkomunikasi dengan keluarganya.

“Ih… Kakak! Aku sudah besar sekarang, bukan bocah lagi.” Rajuk Intan.

Terdengar suara tawa Kak Intan yang berhasil menggoda adik semata wayangnya.

“Eh, Tan. Lampu rumah sebelah nyala loh.”

“Maksud Kakak?” Kening Intan berkerut, “Kakak telepon aku cuma untuk ngomong begitu aja?”

“Yah kamu, masa engga ngerti sih. Rumah-sebelah-rumah-sebelah.” Seru Kak Indah dengan penekanan.

Indah masih tidak mengerti, “Rumah Pak Wiryo?”

“Ah kamu, lemot banget sih, bukan rumah yang itu, tapi rumahnya Tian.”

“EH?!”

“Tadi ada sebuah mobil dan beberapa truk datang, sepertinya sih mereka sudah pulang dari Jepang.”

“Beneran nih, Kak?”

“Ya bener lah, Masa aku bohong. Pulang sini… ketemu pacar lama.” Ledek Kak Intan sambil tertawa cekikikan.

“Ih Kakak, Tian bukan pacar aku tahu!”

“Tapi pengen kannnn?” Goda Kak Indah.

“Udah ah aku tutup ya teleponnya.”

Intan menggenggam gagang telepon dengan erat dan menempatkannya di depan dada. Ia berharap semoga sambungan telepon kakaknya sudah terputus. Intan takut bahwa kakaknya bisa mendengarkan debaran hatinya yang kini semakin kencang setelah tahu kabar kepulangan Tian. Seulas senyum terkembang menghiasi wajah Intan yang kini bersemu merah.

Ternyata kamu masih ingat janji kita. Aku selalu menunggumu, Tian.

Beberapa hari kemudian akhirnya Intan tiba di kota kelahirannya, Tasikmalaya. Sebelumnya ia telah menyelesaikan dan menyerahkan jurnal ilmiahnya kepada dosennya. Beruntung proses penyelesaiannya cukup lancar, padahal pikirannya bercabang menjadi dua selama penulisan jurnal tersebut.

Intan menghirup dalam-dalam udara bersih kotanya sebelum beranjak masuk ke dalam rumahnya. Sebentar ia melirik ke arah rumah dua lantai yang bersebelahan dengan rumahnya sesaat sebelum langkahnya terus masuk ke dalam rumah yang selama enam bulan ditinggalkannya.

“Assalamu’alaikum. Ma, Intan pulang.”

Suara langkah kaki setengah berlari terdengar dari arah dapur.

“Intan… sudah sampai, Nak? Ayo sini makan dulu, Mama baru saja masak tumis kangkung kesukaanmu.”

Intan menaruh ranselnya di atas sofa di ruang tamunya lalu bergegas mengikuti mamanya ke dapur. Aroma tumisan yang baru saja matang menggugah selera makannya.

“Ma, aku mau langsung mak… eh, ada Tante Fira.” Kalimat Intan terpotong oleh kehadiran sosok Ibunya Tian.

“Wah wah… Intan sekarang tambah cantik saja ya, Jeng Nina.” Puji Tante Fira.

“Ah biasa saja kok, kalau saya yang melihatnya setiap hari sih kayaknya ga cantik-cantik amat si Intan.” Canda mamanya.

“Ih Mama… kok gitu sih sama anaknya.” Intan langsung cemberut.

“Iya… iya. Anak-anak Mama cantik semua kok.”

Intan tersenyum lalu langsung duduk di sebelah Ibunya Tian di meja makan.

“Gimana kabar Tian, Tante? Sehat?” Tanya Intan bersemangat.

Entah mengapa pertanyaan itu justru mendatangkan awan kelabu pada wajah Tante Fira dan menghapus senyumnya.
“Tian… alhamdulillah sehat.”

Intan tidak tahu harus berkata apa lagi. Seolah-olah jawaban singkat Tante Fira itu adalah kalimat pembungkam Intan agar tidak bertanya lebih jauh.

“Udah… nih makan dulu. Nanti tumis dan tempe gorengnya engga enak kalau sudah dingin.” Sela Mamanya Intan.

***

Seminggu berlalu sejak kepulangan Intan ke rumahnya. Ia berusaha berkali-kali untuk mengunjungi Tian di rumahnya, tetapi selalu di tolak oleh keluarganya. Alasan yang mereka berikan hanya satu, katanya Tian sedang sakit. Perasaan Intan menjadi tidak menentu. Rindunya semakin kuat. Ia ingin sekali bertemu dengan Tian.

Akhirnya dengan tekad Intan yang besar, Tante Fira mengizinkan Intan untuk bertemu dengan Tian di halaman belakang rumahnya. Disana Tian telah duduk membelakanginya sambil terus menatap dinding putih pembatas antara rumahnya dan milik tetangganya. Ia tampak normal bagi Intan, tidak seperti orang yang sedang sakit. Dengan riang Intan mendekatinya.

“Halo, Tian. Apa kabarnya nih?” Tanya Intan lalu duduk dihadapannya. Tak jauh darinya, Tante Fira memperhatikan mereka sambil terus menjaga jarak.

Tian diam saja sambil terus menatap Intan bingung.

“Kamu… siapa?” Balas Tian.

Kening Intan berkerut, “Ini aku, Intan.”

“Aku gak kenal kamu. Kamu siapa?” Nada bicara Tian mulai meninggi.

“Ini aku! Intan. Jangan bercanda dong, masa udah lama gak ketemu kamu begini.”

“Bunda! Bunda! Dia siapa?!” Teriak Tian.

Tante Fira dengan cepat menghampiri Tian dan berusaha menenangkannya. “Intan, tolong tunggu Tante di dalam ya.”

Intan yang bingung hanya mengangguk dan menuruti perkataan Tante Fira. Hatinya hancur berkeping-keping saat Tian melontarkan kata-kata seolah Intan adalah orang asing baginya. Tian yang selalu ia tunggu. Tian yang selalu ia sayangi kini bertingkah laku bukan seperti dirinya sendiri.

Ia duduk pada sofa berwarna kuning pucat di ruang keluarga. Televisi yang dari tadi dibiarkan menyala, tidak menarik minatnya. Intan terus saja melirik ke arah halaman belakang dan menunggu Tante Fira datang menemuinya.

Tak lama kemudian Tante Fira memasuki rumah dan meninggalkan Tian yang kini sudah tenang di halaman belakang. Intan memperhatikan Tante Fira lekat-lekat. Badannya tampak lebih kurus dibandingkan dengan dua tahun lalu dan lingkaran hitam di bawah matanya menandakan bahwa ia kurang tidur dalam beberapa hari ini. Wajahnya pun lesu, sama sekali tidak segar seperti dulu. Gambaran saat Tante Fira di dalam dapur rumahnya seminggu yang lalu kembali hadir dalam kepala Intan.

“Tante, sebenarnya ada apa dengan Tian?” Tanya Intan setelah Tante Fira duduk di sebelahnya.

“Tian… mengalami dementia, Tan.”

“Dementia?”

“Jadi Tian mengalami penurunan fungsional yang disebabkan oleh kelainan yang terjadi pada otak. Dia tidak dapat berpikir dengan baik dan akibatnya tidak dapat beraktivitas dengan baik pula. Disamping itu dia mengalami penurunan ingatan dan kemampuan berpikirnya.”

“Maksud Tante? Alzheimer?”

Tante Fira menggeleng, “Bukan. Dokter bilang, dementia vaskuler yang diderita Tian berbeda dengan Alzheimer dan kemungkinan untuk pulih itu ada.”

Intan semakin bingung dengan banyaknya informasi yang dijejalkan masuk ke dalam kepalanya, “Tian… tidak ingat padaku.” Kata Intan lesu.

“Bukan begitu, Intan. Jika saja kamu tahu… setiap hari di Jepang ia tidak pernah melupakanmu. Ia selalu bilang pada Tante, bahwa ia ingin cepat menyelesaikan kuliahnya untuk bertemu denganmu.” Tangis Tante Fira pecah, refleks Intan langsung menggenggam tangannya dan mengelus-elus punggung Tante Fira.

“Tante tahu, kalian… saling menyayangi. Makanya Tante bawa Tian pulang untuk bertemu kamu, siapa tahu berada di dekat orang-orang yang menyanyanginya bisa mempercepat penyembuhannya.”

“Lalu mengapa Tante menolakku bertemu dengan Tian?” Ucap Intan dengan nada meninggi.

Tante Fira kembali menangis, “Maaf. Aku cuma takut, kalau kamu tidak bisa menerima Tian apa adanya. Bahwa kamu akan pergi dan tidak peduli pada Tian seperti ayahnya.”

“Oh… tidak. Om Ferdy…”

Tante Fira mengangguk dalam sela tangisnya, “Dia menyerah, Tan. Padahal Tian membutuhkan kehadirannya. Tapi ia malah menyerah pada anaknya sendiri dan lebih memilih pekerjaannya.”

Intan ikut menangis bersama Tante Fira. Menangisi nasib Tian yang kini berbalik mengujinya. Tuhan, sembuhkanlah dia. Demi Tante Fira dan demi Om Ferdy… juga demi aku. Aku ingin kembali melihat senyuman tulusnya kepadaku.

***

“Halo, Tian. Apa kabar?” Tanya Intan sambil tersenyum.

Tian diam sejenak lalu balik bertanya, “Kamu… siapa?”

“Aku Intan, tetangga sebelahmu. Salam kenal.” Jawab Intan sambil menyodorkan tangan kanannya pada Tian.

Sayonara anata wo wasurerareru hodo
Suteki na yume nado nai wa
Donna ni kirei na akari tomoshitemo
Kagami no mae ni tachidomaru
Jishin nante nai no

Kitto dare mo onaji hazu
Anata no yokogao omoi dashiteita no
Itsumade mo anata o wasurerarenai mama
Yume no tsudzuki wo sagashita
Kowai mono nante naku naranain da
Atashi ni mo wakattekita wa
Utsumuite rarenai desho?

Aku harap suatu hari kamu bisa kembali uluran tanganku lagi, Tian. Dan pada saat waktu itu tiba, aku akan tersenyum sangat cerah padamu sambil mengatakan bahwa aku sayang kamu.

***

Ditulis untuk proyek menulis #MelodiHijauOranye @YUI17Melodies

Advertisements

4 thoughts on “Promise

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s