#8 Code


Tulisan sebelumnya: Under The Sky

Serafin baru kali ini melihat benar-benar kamarnya. Sebuah kamar di akademi sihir Incarnia itu berukuran empat kali empat meter dengan sebuah atap tinggi. Dua pasang jendela kaca berbingkai kayu oak yang dicat cokelat tua ditempatkan di sisi kiri dan kanan sejajar dengan sepasang tempat tidur di dalam ruangan itu. Dinding berwarna kuning pucat tampak kosong tanpa sebuah figura foto satupun. Serafin tidak memiliki cukup waktu untuk membereskan semua foto kenangan dalam album foto yang disimpan oleh ibunya dulu. Saat Travesh memintanya untuk datang ke asrama, ia langsung menyetujui ajakan itu dan hanya membawa barang seadanya saja. Rumahnya di Incarnia bagian utara, Isladea, kini benar-benar tidak terawat dan ditinggalkan begitu saja.

Kedua orang tuanya adalah penyihir tingkat tinggi. Tetapi mereka justru meninggal karena pada menyelamatkan seorang anak kecil yang akan tertabrak sebuah bus. Dengan keahlian mereka, bukan hal sulit untuk menghentikan bus itu dengan sihir. Tetapi mereka lebih memilih cara manusiawi, cara yang menurut Serafin lucu.

Di malam itu, Serafin sengaja membuka lebar-lebar tirai jendelanya dan tidur terlentang menghadap langit tanpa bintang. Lampu kamarnya sengaja ia biarkan gelap, agar cahaya bulan purnama masuk dan menyinarinya. Ia teringat pada sebuah kalimat dalam surat yang diberikan oleh Ayrish.

Pergilah ke tempat dimana bayangan bulan menetap dengan indahnya.

Kalimat itu terus berada dalam kepala Serafin beberapa hari ini. Entah mengapa, ia merasa teka-teki itu penting baginya. Perlahan ia merasakan kantuk mulai menyerangnya. Matanya yang lelah kini sepenuhnya menutup dan ia mulai tertidur.

Dengan cepat ia terlelap dan bermimpi. Ia berada di suatu gurun pasir tandus saat malam hari. Bulan tampak dekat dari puncak kepalanya. Ia berjalan tak tentu arah tanpa tahu tujuan.  Matanya terus tertuju pada bulan itu dan kakinya melangkah sendiri tanpa diperintahnya. Cahaya bulan membutakan mata Serafin, ia kemudian menutupnya dengan cepat.

Tak lama kemudian Serafin membuka kembali matanya. Latar tempat telah berganti. Kini ia berada di dalam satu ruangan luas berwarna putih. Ia hampir menyangka bahwa ruangan itu adalah tempat tak berujung jika saja matanya tidak menangkap sebuah pintu di sana. Sebuah pintu yang mirip dengan pintu kamar asramanya.

Ia melangkahkan kakinya perlahan menuju pintu itu. Kakinya terasa berat saat menapaki dan melangkah. Seolah-olah tubuhnya tertekan oleh gravitasi yang sangat besar. Saat jaraknya tinggal lima meter saja, lantai di belakangnya mulai runtuh seperti lapisan es yang mulai retak dan mencair. instingnya memerintahkannya untuk segera berlari. Dengan cepat Serafin memaksa seluruh otot tubuhnya untuk bergerak menuju pintu itu. Pintu itu langsung terbuka saat Serafin mulai mendekat. Seseorang telah membukanya dari arah luar. Di sana tengah berdiri Luna. Dengan menggunakan mini dress berwarna putih, ia begitu bercahaya. Pendar tubuhnya mengingatkan Serafin pada sesuatu. Cahaya bulan purnama.

Luna mengulurkan tangan kanannya pada Serafin. Tapi seolah takjub dengan keindahan bulan, Serafin malah berdiri terpaku sambil menatap Luna. Lantai di belakangnya mulai runtuh. Serafin terjatuh…

Dengan nafas yang terengah-engah Serafin bangun dari tidurnya. Masih merasa limbung akibat mimpinya tadi, ia menutup kembali matanya.

Teka-teki itu… adalah tentang Luna.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s