#7 Under The Sky


Tulisan sebelumnya: Balas Kangenku, Dong!

“Apa kamu tahu? Berada dekat denganmu sudah menjadi kebiasaan baru untukku.” Ucap Luna sambil ikut berbaring diatas rumput hijau bersebelahan dengan Serafin.

Serafin tertawa lepas. Baru beberapa hari yang lalu Luna mengatakan bahwa ia adalah musuhnya dan datang untuk membunuhnya. Tapi entah mengapa, Serafin justru merasakan hal yang berlawanan. Seolah-olah Luna datang untuk membantunya. Untuk menjadi temannya. Padahal selama beberapa tahun ini Serafin tidak pernah mempunyai teman satupun, semua menghindar saat Serafin berada di dekat mereka seperti sebuah virus berbahaya. Aneh juga dengan bagaimana cara ia memperlakukan Luna. Mungkin karena ia tahu bahwa mereka bermusuhan, maka suatu waktu mereka pun akan kembali pergi. Saling menjauh dan melupakan.

Serafin menatap langit biru yang jauh di atas kepalanya. Hari ini awan tersusun seperti sekumpulan biri-biri yang sedang berbaris. Di sebelahnya, Luna pun menatap langit yang sama.

“Beritahu aku. Apa mimpimu, Luna?” Tanya Serafin tiba-tiba.

Luna menutup perlahan kedua matanya sambil menggeleng perlahan, “Mimpiku… memang seperti halnya mimpi. Tidak akan bisa kuwujudkan, hanya bisa kulihat hanya dalam tidurku.”

Serafin membalikkan badannya dan menghadap Luna. “Aku tidak tahu bagaimana bisa, tapi kita benar-benar mirip.”

“Enak saja. Kita tidak mirip.”

“Tunggu, bukan secara fisik.” Serafin tertawa. “Jika fisik, aku memang akan kalah darimu. Maksudku tentang hal lainnya. Cara berpikir dan memandang suatu hal. Dan yang pasti kita sama-sama terhubung dengan seseorang.”

Luna terdiam. Ayrish memang benang merah yang menghubungkan mereka.

“Bagaimana hidupmu sebelum ini?” Tanya Luna pada Serafin.

“Bukan hal yang menyenangkan pastinya.”

“Lalu tentang keluargamu?”

Serafin menghela nafas panjang, “Kedua orangtuaku sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu di saat sebelum aku datang ke asrama ini.”

“Jadi kamu datang karena tidak memiliki tempat tinggal?”

“Bukan. Travesh datang suatu hari setelah pemakaman ayah dan ibuku. Beliau menawarkan rumah, teman, dan pendidikan untukku. Pada awalnya aku langsung setuju saja, Hanya saja… aku tidak merasakan itu semua dan kini aku ragu dengan keputusanku. Asrama ini sama sekali tidak seperti rumah, penghuninya pun sama sekali bukan temanku, dan yang terpenting tidak ada satu mata pelajaran pun yang cocok dengan spesialisasiku.” Serafin tertawa saat menyudahi perkataannya.

“Kalau begitu kita sama. Aku datang ke sini pun hanya karena terlampau berjanji pada seseorang.”

“Nah kan, kita sama.” Serafin tertawa.

Mau tak mau Luna pun ikut tertawa berbarengan dengan Serafin, “Semaumu lah.”

“Apa janji itu karena Ayrish?”

“Sedikit banyaknya iya, tapi selebihnya janji itu pada diriku sendiri.” Jelas Luna.

Mereka terdiam dan tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.

“Apa kau penah melihat Ayrish berpindah?” Tanya Serafin, kembali memulai percakapan.

“Seringnya iya. Saat ia datang, entah mengapa ia selalu datang di Shalira.”

“Hmm…”

“Saking seringnya, ia pun mengenal keluargaku. Ia akrab dengan kakekku, teman berlatih kakak laki-lakiku, dan ia sangat lembut dengan ibuku.”

“Bagaimana dengan ayahmu?”

“Meninggal di tengah laut saat kapalnya karam.”

Serafin menghembuskan nafas, “Aku… turut berduka.”

Ia melihat ke arah Luna saat Luna menutup kedua matanya, “Tidak apa-apa. Itu bukan salahmu hingga kapal ayahku karam.”

“Ah… sudah mulai panas. Masuk yuk, sebentar lagi kelas akan dimulai.” Serafin berdiri.

Luna bergeming di tempatnya. “Eh, bolos aja yuk. Malas ikut pelajaran sihir yang sama sekali tidak kumengerti.”

“Baiklah. Kita bolos hari ini.” Ucap Serafin lalu berbaring kembali di atas rumput. Lalu kemudian mereka berdua tertawa bersama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s