You Are the Ultraman on My Eyes


Tulisan ini dibuat untuk #MelodiHijauOranye @YUI17Melodies dengan tema lagu Green a.live

20 September 2007

Aku memasuki halaman sekolahku di jalan Ir. H. Juanda, cuaca Bogor hari ini lumayan cerah. Beberapa genangan bekas hujan kemarin malam masih membasahi beberapa tempat di lapangan basket depan sekolahku. Aku memalingkan wajah dan kembali berjalan menuju ruang kelasku. Aku kagum pada mekanisme kerja planet ini. Air hasil hujan besar kemarin malam bisa hilang dalam beberapa hitungan jam saja. Padahal air hujan yang kemarin mengisi kolam renang tetanggaku saja, belum hilang dan mengalir pergi. Jika bumi diibaratkan sebuah monster besar, perut bumi mungkin sudah besar dan buncit berisi semua air hujan yang ditumpahkan tadi malam. Lalu untuk mencegah monster itu mengacau, Ultraman akan datang dan menentramkan kembali kehidupan seperti biasa. Oh iya, kira-kira mengapa ya Ultraman setelah membuat babak belur musuhnya selalu membawanya terbang ke luar angkasa dan membuangnya disana? Iyuh… luar angkasa itu sepertinya jadi tempat sampah pembuangan terakhir monster-monster.

Lamunanku tergugah saat sebuah tangan mendarat di atas kepalaku. Tangan itu mencengkram kepalaku kuat lalu kemudian menggoyang-goyangkannya.

“Heh, ngelamun aja. Ngalangin jalan banget sih, sana cepat masuk kelas.”

Aku menengok pada sumber suara itu. Tangannya masih terus berada di atas kepalaku.

“Pagi, Jaja.”

Okay, nama aslinya memang bukan Jaja melainkan Riza Angkasa Putra. Keren kan? Nama itu khusus kuberikan padanya sebagai panggilan sayang. Membedakannya dari panggilan orang lain padanya. Dan suatu kehormatan, ia pun memberikanku sebuah nama…

“Woi… jalan Jumi. Ga sadar apa, badan lo yang gede ngalangin jalan.”

“Brengseeekkkk, nama gue Rahmi. Di akte kelahiran gue juga Rahmi. Lagian bokap gue ga bakal mampu biayain sidang ganti nama.” Kataku sambil membalas memukul punggungnya.

“Buset tenaganya. Pasti tadi pagi makan sebakul penuh ya?”  Riza tertawa terpingkal.

“Sialan lu. Sini buku matematika lu, gue mau ngebandingin jawaban peer kemaren.”

Udah bisa nebak? Yup, Riza adalah Ultraman-ku dalam dunia nyata. Sosok yang kukagumi. Dan panggilan sayang itu bukan kebetulan karena aku memang benar-benar sayang padanya. Seperti kata pepatah −yang entah siapa pertama kali pernah mengucapkannya− dua orang yang berlainan jenis jika bersahabat, akhirnya pun mereka akan jatuh cinta. Tapi ya, mungkin jika kasusnya disini. Hanya aku.

2 Januari 2012, pukul 07.00 pagi

Di saat orang lain masih tertidur lelap dan kecapaian akibat malam pergantian tahun. Di pagi hari tanggal dua januari aku malah menonton Ultraman di televisi dengan semangatnya. Padahal entah sudah berapa kali episode ini diputar dan aku sampai hapal bagaimana jalan ceritanya. Tetapi tetap  saja kutonton.

Siang berganti malam. Lalu malam berganti pagi. Hal itu terus berulang sampai saat ini dan seterusnya. Aku tetap ingat dengan kejadian itu. Kejadian yang kupikir sekarang seharusnya tidak kulakukan.

First love is painful and unrequited love is heartbreaking.

“Mi, tadi waktu mama mau berangkat ke pasar. Mama ketemu sama Riza loh. Sekarang makin ganteng ya?”

Jleb. Nama yang setengah mati kulupakan kembali masuk dalam kepalaku.

“Oh ya? Bagus dong.” Jawabku datar sambil terus memandang sosok Ultraman yang kini lampu di dadanya mulai kelap-kelip dan mengeluarkan bunyi nyaring. Mirip seperti alarm kebakaran yang menyala saat situasi genting. Mirip dengan situasiku saat ini.

“Kalian kan dekat, sana main ke rumahnya. Sapa dia gitu.”

“Males ah…” balasku sambil mengetatkan pelukan pada sebuah boneka Ultraman kesayanganku.

“Eh kenapa? Mamanya Riza kadang masih suka nanyain kamu loh kalau pas arisan. Katanya ‘mana Rahmi? Kok jarang main sekarang’?”

“Aku kan sibuk, Ma. Lagipula Riza juga kuliahnya jauh, masa iya aku datang ke rumahnya waktu orangnya gak ada.” Akhirnya… aku mengucapkan namanya lagi.

“Ya udah. Sekarang kan orangnya udah ada. Sana datengin, ga enak tuh sama mamanya yang nanyain kamu terus. Sekalian nanti tolong kasih bed cover pesanannya Bu Tina ya, tetangga sebelahnya Riza. Eh iya, ini dari mamanya Riza tadi. Mama taruh di atas nakas ya.”

Aku tidak membalas perkataan mamaku. Aku hanya memandang layar televisi yang kini layarnya menjadi semakin buram oleh air mataku.

26 Desember 2007

“Jumiiiiiiiiii.” Teriak Riza di depan kelas. Dengan cengiran yang masih terpasang dengan jelas di wajahnya, ia berjalan menuju bangkuku.

“Apaan sih, Ja. Berisik banget sih lo.”

Guess what?”

What?” balasku datar, lalu menatap kembali LKS yang barusan teralihkan.

“Ish… garing banget sih lo. Ayo dong tebak.”

Di salah satu cabang batang otakku masih bertengger rumus teori relativitas dan Riza kini memintaku menebak salah satu teka-tekinya.

“Kecepatan benda A relatif terhadap kecepatan benda B sama dengan kecepatan benda A relatif terhadap acuan nol ditambah kecepatan benda B relatif terhadap acuan nol dibagi dengan satu ditambah kecepatan benda A relatif terhadap acuan nol ditambah kecepatan benda B relatif terhadap acuan nol dibagi dengan kecepatan cahaya, dikuadratkan.” Jawabku.

“Ih… ini bocah. Gue bukan nanya rumus fisika.”

“Ya lagian lo malah nanya gue pas lagi ngerjain soal fisika.”

“Putri, Jum. Dia ngasih gue lampu hijau.” Ucapnya dengan antusias.

“Terus? Ya tinggal majuin lagi aja mobil lo.”

Riza memukul kepalaku dengan pensil, “Gak asik banget sih lo. Ucapin selamet kek, apa gitu. Ini malah biasa aja.”

Aku kembali memasang muka datar, “Pak Syamsul lebih serem ketimbang lo, Ja. Gue harus ngerjain soal ini dulu.”

Riza tidak berhenti sampai disitu. Keesokan harinya ia kembali mengulang topik yang sama.

Okay… here we go again.” Bisikku saat Riza mendatangi bangkuku saat jam istirahat.

Si Ultraman dalam kehidupan nyataku kini mulai menyebalkan. Bukannya sibuk menumpas semua monster-monster jahat, dia malah pindah dongeng. Menjadi ksatria untuk menyelamatkan Putri Salju.

Aku mengacak-acak rambutku dengan frustasi, “Hari ini ada apa dengan Putri?” Tanyaku mendahuluinya.

“Jadi gini, tadi pagi pas jemput dia dari rumahnya. Di jalan gue tanya tuh, mau gak nonton bareng dengan gue minggu ini. Eh, dia mau loh. Seneng banget gue, Jum!”

Mulutku menganga lebar, “Minggu besok? Lo lupa dengan janji lo nganterin gue ambil aplikasi beasiswa di kedutaan Jepang?”

Wajah Riza memucat.

“Aduh, Jum. Sori… gue…”

“Udah lupain!” Teriakku sambil berdiri dari bangkuku. “Gue pergi sama Ultraman aja daripada sama lo. Dia lebih nepatin janji daripada lo.”

20 Juli 2008

Patah hati. Beasiswa melayang. Terdampar di jurusan yang sama sekali bukan minatku. Lengkap sepertinya kesialanku. Jika kubuat sebuah film pendek, mungkin durasinya bisa sampai tiga puluh menit sampai satu jam. Tapi lebih tidak menarik jika dibandingkan dengan setiap episode Ultraman.

Dengan cerobohnya aku minggu kemarin keceplosan dan mengatakan isi hatiku pada Riza. Tentu saja seperti yang kuperkirakan sebelumnya, Riza betul-betul terperangah kaget. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa aku jatuh cinta padanya. Dan sekarang aku berdiri di depan gerbang sekolahku, menunggunya menepati janji untuk yang kedua kalinya. Sebelum ia pergi ke kota lain untuk memulai kuliahnya.

Aku benar-benar rindu pada hubungan kami yang hanya bertitel sahabat. Jika saja aku tidak mengacaukannya dengan mengatakan ‘suka’ padanya. Hubunganku dengannya tidak akan menjadi canggung seperti ini. Ia menghindariku sebisanya dan aku tidak berani sedikitpun menatap matanya.

Aku bersandar pada pagar besi yang dengan kokohnya membatasi sekolahku dengan jalan besar tempat dimana mobil berlalu lalang dengan cepatnya. Tidak peduli saat hujan ataupun panas, jalanan itu selalu ramai saja. Apalagi dengan letak sekolahku yang dekat dengan Istana dan Kebun Raya Bogor, hari libur seperti hari ini pun jalanan malah semakin ramai.

Aku mengecek kembali jam tanganku. Sudah terlambat tiga puluh menit dari waktu yang dijanjikan. Rintikan hujan mulai turun di tengah panasnya kota. Aku berlindung di bawah rindangnya pohon yang sejak dari dulu berdiri tegak di depan sekolahku. Batang pohon itu menjulur keluar sampai ke trotoar. Salah satu arsitektur Jalan Juanda yang selalu kusuka. Penuh dengan pohon rindang yang membuat asri suasana.

Dari kejauhan kulihat motor bebek Riza datang, helm merahnya yang penuh dengan stiker langsung kukenali.

“Maaf telat.” Katanya saat menghampiriku dan kubalas dengan gelengan.

“Gimana packing-nya? Udah selesai?” Tanyaku basa-basi.

Ia hanya mengangguk pelan.

Aku menghembuskan nafas frustasi. Kecanggungan itu terus saja menggantung di antara kami.

“Jadi… soal minggu kemarin…” Mulaiku.

“Maaf.” Potong Riza. Ia menggigit bibir bawahnya dengan keras.

“Aku suka Putri. Kami… kami mulai pacaran sejak seminggu lalu.”

Aku tahu. Makanya aku memberanikan diri mengungkapkan isi hatiku padamu, Za.

Aku menarik nafas panjang.

“Ah… Jaja. Serius banget sih lo. Iya iya, gue ngerti. Gue cuma mau bilang, omongan gue waktu itu lupain aja. Gue cuma iseng kok.” Ucapku berlawanan dengan hatiku.

Aku menepuk bahunya ringan, “Gue juga minta lo kesini Cuma buat pamitan kok, gak enak kalau datang ke rumah lo tar gue ngeganggu. Hati-hati ya nanti di Surabaya. Cari temen lain buat gantiin gue. Kan gue udah ga bisa ada di samping lo. Jangan lupa oleh-olehnya kalau lo pulang. Nyokap gue pasti suka tuh kalo lo hadiahin batik.”

Riza tersenyum padaku.

Akhirnya… senyum itu kembali tertuju untukku setelah hilang selama seminggu ini. Mungkin hanya ini yang bisa kulakukan. Mencoba kuat untuknya. Cinta itu memang sebuah pengorbanan. Mengorbankan hati seperti sebuah kepingan puzzle. Merangkainya menjadi indah, lalu memecahnya kembali menjadi seperti semula. Sebelum semuanya berulang kembali. Dirangkaikan kembali oleh pemain yang lain.

2 Januari 2012, pukul 09.30

Dengan sedikit ragu aku mengetuk pintu rumah Riza dan mengucapkan salam. Pintu yang hampir empat tahun tidak pernah kuketuk. Dari arah dalam terdengar suara seorang laki-laki membalas salamku dan membukakan pintu. Saat kenop pintu berputar dan daun pintu berderit terbuka, aku kembali melihat Riza.

“Halo.” Sapaku.

Ia tampak terkejut saat melihatku, tapi ia tetap mempersilakanku untuk masuk.
“Udah lama ya. Hampir empat tahun kita tidak bertemu.” Kataku saat duduk di sofa ruang tamunya.

Riza hanya tersenyum-senyum saja sambil terus melihat ke arahku.

“Kenapa sih ngeliatin terus? Kangen ya?” Godaku.

“Iya, gue kangen banget sama sahabat gue yang satu ini.” Balas Riza.

Aku menatap lekat Riza dengan kedua mataku. Kini rambutnya tidak dibiarkan acak-acakan lagi seperti dulu, matanya pun kini memancarkan sorot serius dibalik bingkai kacamatanya. Wajahnya lebih tegas, dan garis-garis lugu seorang bocah remaja kini telah hilang tergantikan dengan wajahnya yang dewasa. Riza yang baru, Riza yang tidak kukenal.

Menatap Riza yang telah berubah, sepertinya membuatku lega. Kusadari juga hatiku pun ikut berubah. Ia terasa asing dan hatiku tidak mengenali frekuensi getarannya saat ini.

“Gimana Surabaya? Mana nih oleh-olehnya?”

“Engga sempat, Mi. Ini aja pulang karena mau ngurus surat-surat ke Desa dan sebagainya.”

Mi… Jadi sekarang hanya Rahmi.

Kemudian aku teringat pada sebuah undangan yang tadi berada di atas nakas.

“Hmm, Za. Gue ga bisa lama-lama. Selamat ya… gue mungkin ga bisa dateng ke Surabaya untuk resepsi pernikahan lo, jadi gue ngucapinnya sekarang aja ya. Long last ya sama Putri.” Kataku sambil berdiri dan berjalan menuju pintu rumahnya.

“Eh, kok cepet-cepet? Gak minum dulu?”

“Gak apa-apa. Gue juga mau pergi ini, ada janji.” Kilahku.

“Oh ya udah deh. Salam ya sama nyokap lo.”

Perpisahan kedua kalinya. Tapi kali ini untuk selamanya.

Aku kembali memunggungi Riza saat melangkah keluar dari rumahnya, sama seperti waktu itu. Suatu hari dimana aku benar-benar merelakannya pergi dengan harapan kami bisa kembali bersama seperti biasanya.

Gaia berhasil mengalahkan Raja Mons dengan cahaya laser super kuatnya dan dapat menyelamatkan bumi.  Gaia kemudian berubah menjadi Gamu kembali. Dan sebelum ia kembali ke dunianya, Gamu mengembalikanbuku Tsutomu dan mengatakan “Berkat buku ini, kita bisa bertemu lagi.”

Sama seperti Gamu, aku mengembalikan sebuah buku yang selama ini tersimpan dengan rapi di dalam hatiku kembali pada pemiliknya. Buku yang selama ini berisi semua halaman tentang Riza.

***

Terima kasih sudah membaca cerita gak jelas yang saya tulis 😄

Advertisements

4 thoughts on “You Are the Ultraman on My Eyes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s