#6 Balas Kangenku, Dong!


Tulisan sebelumnya: Sambungan Hati Jarak Jauh

Angin di awal musim semi pada tahun 2019 masih terasa dingin karena butiran salju masih belum seluruhnya hilang. Cahaya matahari memantul pada butiran salju dan menghasilkan warna-warni indah yang berpendar ke segala arah. Burung-burung mulai bernyanyi di atas ranting-ranting pohon yang masih meranggas. Serafin mengetatkan mantel musim dinginnya. Ia belum terbiasa tanpa mantel itu di hari yang masih tetap saja dingin seperti hari ini.

Ia berdiri di pinggir jalan raya, di depan sebuah toko kelontong. Ia menyesal tadi membatalkan niatnya untuk menunggu ibunya di dalam mobil dengan pemanas yang dapat menghangatkan tubuhnya. Akhirnya ia memutuskan untuk mengukuti niat awalnya, masuk ke dalam mobil. Jika ibunya memerlukannya untuk mengangkat barang belanjaan, ia tinggal berlari keluar dan menghampirinya.

Serafin berbalik dan membuka pintu toko itu. Sebuah bel yang dipasang di atasnya berdenting pelan pada saat pintu itu terbuka. Suasana toko itu begitu hangat, berbanding terbalik dengan udara di luar sana. Ia menyusuri rak-rak bahan makanan yang diatur berjejer pada ruangan yang kira-kira memiliki luas sebesar tiga ratus meter persegi. Di balik meja kasir ia melihat teman satu sekolahnya yang sedang berkerja paruh waktu di toko itu. Karena ia merasa tidak kenal, Serafin hanya tertunduk saja saat melalui meja kasir tersebut.

Di rak paling ujung Serafin menemukan ibunya sedang berjongkok bingung memilih deterjen mana yang akan ia beli. Ia langsung menghampiri ibunya dari arah belakang.

“Ibu, aku pinjam kunci mobilnya. Di luar masih dingin ternyata, mau masuk di dalam mobil saja.” Pintanya.

Ibu Serafin merogoh saku kemeja putihnya dan menyerahkan kunci mobil Chevrolet tua yang sekarang sedang terparkir di luar toko. “Ini. Sebentar lagi aku selesai.”

Setelah menerima kunci itu Serafin langsung berjalan keluar dan menghampiri mobilnya. Betapa kagetnya Serafin, ternyata ada seorang anak lelaki yang sedang bersandar dengan santainya pada pintu mobilnya. Ia menilik wajah laki-laki itu. Ia tidak ingat pernah kenal atau bertemu dimanapun selain saat ini.

“Maaf, bisa pindah dari sana. Aku mau masuk ke dalam mobil.” Pinta Serafin dengan sopan.

Laki-laki itu tidak berpindah sedikitpun, malahan membalas permintaan Serafin dengan sebuah senyuman ramah.

“Kupikir aku tidak pernah kenal denganmu, jadi tolong cari mobil lain untuk disandari.” Serafin mulai kesal.

Laki-laki itu meluruskan tubuhnya. Kini tubuhnya tidak lagi bersandar pada pintu mobil Serafin.

“Bisa kita bicara sebentar?” Tanyanya.

“Untuk apa? Aku kan tidak kenal kamu. Tolong pergi saja.”

“Sebentar saja. Bagaimana kalau di bangku itu.” Laki-laki itu menunjuk sebuah bangku di depan taman yang letaknya berseberangan dengan toko kelontong.

“Aku tidak mau.” Tolak Serafin.

“Sebentar saja, ibumu pun masih akan lama di dalam. Aku tidak akan berniat jahat. Lagipula jalanan cukup ramai, kamu akan aman.”

Serafin ragu-ragu. Ia benar-benar tidak kenal dengan laki-laki itu. Tapi instingnya mengatakan bahwa dia memang bukan orang jahat.

“Sebentar saja ya. Jika ibuku datang, aku akan langsung menghampirinya dan menyudahi pembicaraan kita.”

Laki-laki itu mengangguk setuju dan langsung memimpin berjalan menuju bangku itu. Dan tidak lama kemudian, ia langsung duduk begitu sampai di sana.

“Aku tidak akan lama. Aku hanya datang untuk menyerahkan ini.” Ia memberikan sebuah amplop pada Serafin.

“Bacalah di saat kamu benar-benar siap. Dan mudah-mudahan pesanku itu jelas bagimu.” Lanjutnya.

Laki-laki itu melirik ke kanan dan ke kiri, seolah-olah sedang diperhatikan oleh seseorang.

Serafin mengambil amplop itu dan menyelipkannya ke dalam novel yang berada dalam tote bag-nya. Ia bilang aku membacanya jika sudah benar-benar siap saja kan? Jadi nanti-nanti saja bacanya. Malas…

“Baiklah. Cukup itu saja, aku pergi dulu ya. Sampai ketemu lagi nanti.”

Serafin menatap laki-laki itu dengan lekatnya. Mata teduhnya menenangkannya, padahal baru kali ini ia bertemu dengannya. Laki-laki itu melambai padanya lalu langsung berlari dan hilang di balik pepohonan besar di persimpangan jalan tak jauh dari tempat ia berdiri.

“Tunggu… siapa namamu.”

***

Serafin terbangun dengan keringat bercucuran. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan jantung yang masih berdetak kencang.

“Oh… Ayrish.” Bisik Serafin. Ia lalu teringat akan mimpinya.

Bukan mimpi. Itu kenyataan.
Ayrish memang mendatangiku waktu itu.
Bagaimana aku bisa melupakanmu…

Serafin mulai menangis. Dadanya terasa sesak saat kembali mengingat saat itu. Tubuhnya merasakan kerinduan yang teramat sangat pada sosok laki-laki yang tadi bersamanya dalam mimpi.

“Ayrish… apa kamu merindukanku juga?”

Advertisements

6 thoughts on “#6 Balas Kangenku, Dong!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s