#4 Cuti Sakit Hati


Tulisan sebelumnya: Orang Ketiga Pertama

Tahun 2021

Luna memasuki ruangan kamar di asramanya dan langsung menghempaskan tubuhnya pada sebuah kasur empuk yang dilapisi oleh quilt[1] buatan ibunya. Aroma yang menguar dari quilt itu membawanya pada suasana rumahnya di Shalira. Keputusannya untuk pindah dan bersekolah di Incarnia bukanlah sebuah keputusan yang mudah. Keluarga dan guild-nya pun menentang habis-habisan. Ia adalah cucu dari tetua Shalira, berkelana keluar wilayah tanpa maksud yang jelas. Setidaknya itu yang mereka tahu. Padahal maksudnya itu kuat. Sekuat keinginannya untuk melupakan seseorang.

Ayrish…

Nama itu selalu muncul saat hatinya terasa sakit. Seakan-akan nama itu telah menancap kuat dan dalam seperti sebuah belati. Sedikit saja bergerak atau dengan sengaja menarik belati itu, maka ia akan terus merasakan sakit. Luna mengangkat tangan kanannya dan menaruhnya diatas kedua matanya. Menutupnya dan mulai menangis.

Keraguan mulai merayapi pikirannya. Seharusnya ia langsung saja berputar balik saja saat kereta api memasuki wilayah Incarnia. Seharusnya ia melupakan saja rencana bodohnya dan terus melanjutkan hidup. Seharusnya ia mendengarkan perkataan ibunya. Seharusnya… seharusnya… ia tidak pernah bertemu Ayrish.

Bertubi-tubi kata seharusnya terus muncul di kepala Luna. Dan membuat tangisnya semakin keras.

Luna terbangun oleh suara ketukan pelan di pintu kamarnya. Tak terasa ternyata tadi ia tertidur setelah capai menangis. Ia melirik jam kecil diatas nakasnya, waktu menunjukkan pukul sebelas malam, seharusnya sudah tidak ada seorang pun yang berkeliaran di jam seperti ini. Kecuali ia memang menyelinap keluar dan melanggar jam malam. Luna tidak menggubris ketukan itu dan menutup kembali matanya.

Ketukan itu semakin lama semakin hilang. Tergantikan oleh suara garukan pada bawah daun pintu kamarnya. Luna bangun dari posisi tidurnya dan dengan cepat menyambar rapier yang ia tempatkan di sisi kanan tempat tidurnya. Ia berjalan mengendap-endap mendekati pintu. Suara langkahnya terbenam pada karpet tebal yang menutupi lantai. Suara yang bergema kini hanyalah detak jantungnya.

Jarak Luna dan daun pintu hanya tinggal selangkah saja. Tangan kirinya kini terulur pada kenop pintu. Suara garukan itu masih terdengar, tapi sekarang semakin lemah. Ia memutar kenop pintunya perlahan. Suara berdecit samar terdengar pada saat Luna membuka pintunya.

Luna melompat mundur. Di depannya kini terbaring seorang perempuan yang ia taksir akan pingsan sebentar lagi… atau mati. Karena tubuhnya sama sekali tidak bergerak. Hanya jemari tangannya saja yang bebas dan berusaha menggapai sesuatu. Dengan cepat Luna menyarungkan rapier-nya dan mencoba menariknya masuk ke dalam kamar. Mencoba menolongnya. Ia berusaha mengangkat tubuh perempuan itu dan mrmbaringkannya di atas tempat tidurnya. Rambut ikal panjang perempuan itu menutupi seluruh wajahnya, sehingga Luna tidak bisa menerka siapa dia.

Luna menyibak rambut panjang perempuan itu dan terperanjat.

“Kamu! Untuk apa kamu datang kemari, Serafin?” Tanya Luna.

Serafin masih belum pulih. Nafasnya kini tersengal-sengal.

“Jawab!” Teriaknya sambil menarik kembali rapier-nya dari sarungnya.

Serafin berusaha memulihkan diri, ia kini lebih tenang. “Ada… banyak yang… ingin kutanyakan padamu.”

“Tentang apa? Ayrish?” Luna tertawa meremehkan.

“Mulutku terkunci jika tentang dia. Aku datang kesini untuk membuatmu mengerti. Untuk melupakan dia. Untuk membuat kalian tidak bisa bertemu. Bahkan jika terpaksa, aku akan berlaku… sangat jahat padamu.” Lanjutnya.

Serafin berusaha duduk dan menghadap Luna. Kedua tangannya menopang kuat tubuhnya agar tidak terjatuh.

“Aku perlu tahu, Luna. Mengapa Ayrish datang. Dan mengapa ia tampak familier denganku. Mungkin aku pernah bertemu dengannya di masa lalu atau apa. Entahlah. Tapi aku perlu tahu jawabannya. Dan aku perlu mengambil sebuah benda yang ia ambil dariku.” Jelas Serafin.

Mata Luna terfokus pada lempengan logam di leher Serafin. “Tadi… kamu melompat?”

“Aku ingin bertanya padamu.”

“Seberapa jauh?”

“Apanya?”

“Seberapa jauh kamu melompat?!” Teriak Luna.

Serafin terlonjak, “Sepertinya satu minggu.”

“Apa ada efek lain selain seolah-olah-kau-akan-mati-barusan?” Luna melebih-lebihkan.

Serafin menggeleng perlahan.

“Kusarankan… jika kau tidak mau mati dan hilang dalam dimensi waktu. Hentikan melompat.”

Serafin kembali heran. Bagaimana Luna bisa begitu hafal dengan kekuatannya.

“Tapi katamu waktu itu kamu datang kesini untuk membunuhku.” Bisik Serafin.

“Memang. Itu masih belum berubah. Tapi bukan sekarang saatnya.”

Mereka tidak bisa bertemu. Tidak boleh! Waktu di dunia ini akan kacau jika mereka bersama.

Sialan. Sialan. Sialan. Sakit hatiku masih belum sembuh. Dan kini aku harus terus berurusan dengan seseorang yang menjadi tujuan hidupmu, Ayrish.

Sedikitpun aku tidak bisa cuti dari sakit hatiku.

“Apa alasanmu ingin membunuhku? Aku sama sekali tidak mengenalmu.”

“Mungkin kamu tidak. Tapi aku kenal kamu, Serafin. Lebih dari yang kamu kira.”

“Apa Ayrish memberitahukan tentang aku padamu? Oh iya, itu mungkin saja. Dia kan tunanganmu.” Tersirat nada getir keluar dari mulut Serafin.

“Ayrish telah hilang ke masa lalu, Luna. Ia tidak bisa kembali ke masa kini. Sama seperti aku yang tidak bisa kembali ke masa di mana aku memutar waktu. Kami tidak akan bisa bertemu lagi, jika itu yang kamu khawatirkan.”

“Itu yang kamu kira. Ayrish telah menyerap kekuatanmu melalui benda milikmu. Ia kini bisa datang di masa manapun.”

(Bersambung)


[1] Selimut buatan tangan yang biasanya dibuat dari kain perca.

Advertisements

3 thoughts on “#4 Cuti Sakit Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s