#2 Pukul Dua Dini Hari


Tulisan sebelumnya: Kenalan Yuk!

Tahun 2020

Serafin melirik jam antiknya. Waktu telah menunjukkan pukul dua dini hari dan ia sama sekali belum mengantuk. Lempengan logam bundar yang dijadikan bandul pada kalung talinya kini terasa panas di kulitnya. Biasanya lempengan itu akan memanas jika ia sedang melompati waktu, tapi saat ini ia sedang berbaring santai pada tempat tidurnya di asrama Incarnia. Sebuah asrama yang dihuni oleh para Ingeniosi muda dari seluruh penjuru Incarnia untuk mengasah kemapuan sihir mereka.

Lempengan logam itu ia dapatkan dari masa lalu. Saat ia bertemu dengan Travesh muda yang menyadari tentang kekuatannya. Beliau bilang, lempengan itu akan menyerap tenaga berpindah Serafin agar tidak melompat terlalu jauh.

Ia melirik tempat tidur kosong disebelah miliknya. Beruntung bahwa ia ditempatkan sendiri dalam kamar asrama itu. Semua mata memandang aneh pada saat ia diperkenalkan oleh Travesh di depan kelasnya. Kelas yang sama sekali bukan spesifikasinya. Karena di Incarnia sama sekali tidak ada kelas yang memuat tentang pemutar waktu.

Jika dunia ini memang ada makhluk asing yang bernama alien, mungkin ia adalah alien itu. Perbedaan itu secara tidak langsung akan membuatmu tersingkir, jauh dari dunia nyata.

Serafin menyibak selimut tebalnya dan turun dari tempat tidurnya. Merasa gerah akibat panas yang ditimbulkan oleh lempengan logamnya, ia berjalan keluar kamar menuju beranda. Pada saat ia membuka pintu kaca, hembusan angin dingin menerpa wajahnya dan menerbangkan rambut ikal panjangnya yang dibiarkan tergerai tidak beraturan. Ia duduk di kursi besi dan memandang kelamnya langit tanpa bintang sambil mempertanyakan apa alasannya ada di dunia ini. Dua puluh tahun usianya dilaluinya begitu saja. Terasa kosong, singkat, dan tanpa kenangan berarti apapun.

Ia ingat saat ia berada di bangku taman kanak-kanak. Saat ia pertama kali mendapatkan jam antik itu. Saat ia pertama kali berpindah tempat.

Saat itu Serafin diganggu oleh sekelompok anak perempuan yang iri dengan boneka miliknya. Mereka terus saja mengganggunya sampai akhirnya kepala boneka itu putus karena ditarik oleh salah satu anak perempuan di sana. Ia menangis dan mengucapkan harapan. Menjadi lebih tua dan tidak bertemu lagi dengan anak-anak penggangu itu.

Harapannya terkabul. Jam antiknya berputar maju dan membawanya menembus waktu untuk pertama kalinya.

Serafin menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir kenangan itu jauh-jauh. Lalu kemudian di saat yang sama, ia melihat udara terbelah menjadi dua disertai dengan memancarnya cahaya yang menyilaukan mata.

Kalungnya kembali memanas.

Seseorang telah membuka dimensi waktu.

Dari potongan ruang itu muncul seorang anak laki-laki seusianya. Anak laki-laki bercelana pendek hitam itu menggenggam sebuah jam antik mirip seperti miliknya. Ia merasa belum pernah melihat atau pun mengenalnya, maka akan terasa anehnya jika ternyata anak laki-laki itu tersenyum cerah padanya. Seperti ia telah mengenalnya lama.

“Halo.” Sapanya.

Serafin masih mematung terdiam dan tidak berkata apa-apa. Di hadapannya kini berdiri seorang pengatur waktu sama seperti dirinya. Dalam hatinya ia sedikit merasa lega, bahwa ternyata ia tidak sendirian di dunia ini. Bahwa ternyata ada seseorang juga yang sepertinya.

“Kenalan, yuk! Nama aku Ayrish. Kamu siapa?” Tanyanya ramah.

Serafin mencoba mendekat dan menyodorkan tangan kanannya pada Ayrish. Awalnya ia ragu-ragu, tapi akhirnya ia membalas juga, “Aku Serafin.”

Ayrish menyambut tangan Serafin sambil kembali tersenyum.

(Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s