Be a Superspeedy. Ancaman Sedang Menuju TelkomCity.


Di suatu siang yang cerah, seorang remaja lelaki duduk sambil menyilangkan dua kakinya di serambi depan rumahnya. Tangannya sibuk memindahkan halaman demi halaman e-book pada smartphone-nya, yang baru saja ia beli dari Qbaca. Dan dari dua telinganya, menjuntai dua untai kabel yang lamat-lamat terdengar lagu dari pemutar musiknya. Dengan sebuah simcard Telkomsel yang ia miliki, ia dapat membeli semua lagu yang diinginkannya dari Melon Indonesia.

Remaja lelaki itu bernama Ryan. Ia tinggal di TelkomCity bersama dengan kedua orang tuanya dan seorang kakak perempuannya. Kesehariannya selain berangkat ke sekolah tiap hari di sebuah SMA Negeri, ia juga adalah seorang hacker lepas yang kadang diperlukan bantuannya oleh Walikota TelkomCity.

Matahari sedang bersinar dengan teriknya di saat sebuah panggilan masuk pada smartphone Ryan. Layarnya kini tergantikan dengan foto berwibawa Walikota TelkomCity, Bapak Abdullah. Dengan cepat Ryan mengangkat panggilan itu.

“Siang, Pak Walikota.” Sapanya ramah.

“Ryan, bisa tolong datang ke gedung Telkom Indonesia sekarang juga? Speedy Monitoring menangkap sinyal aneh dan tidak biasa.” Jelas Pak Walikota.

Dengan respon cepat Ryan menjawab, “Baik, Pak. Saya akan sampai dalam 5 menit.”

Ryan memutus sambungan teleponnya dan bergegas naik pada motor matic-nya, menyalakannya, lalu kemudian melajukannya dengan kecepatan maksimal.

***

Ryan tiba di gedung Telkom Indonesia dalam waktu kurang dari lima menit. Dengan tergesa-gesa ia langsung menuju ruang kontrol Telkom Speedy. Saat ia tiba disana, Pak Walikota tengah berdiskusi dengan Jenderal Polo di sebuah ruang rapat, tepat bersebelahan dengan ruang kontrol Telkom Speedy. Tanpa basa-basi ia langsung bergabung dengan mereka.

“Bagaimana kondisinya, Pak?” Tanya Ryan.

“Sepuluh menit yang lalu, anak buahku menangkap sinyal benda bergerak pada lapisan eksosfer bumi. Pada awalnya kami pikir itu hanyalah sebuah benda langit biasa saja. Tapi lama kelamaan kami menangkap sebuah foto yang terekam pada pesawat ulang alik di titik terjauh dari bumi. Benda itu adalah sebuah pesawat luar angkasa.”

“Dan sejauh yang bisa kami perkirakan. Mereka memiliki lima awak pesawat yang berbentuk seperti piringan pipih.” Lanjut Jenderal Polo.

“Kalian sudah melacak darimana asal mereka?” Tanya Pak Walikota.

Jenderal membetulkan letak baretnya sambil berkata, “Mereka dari Planet Gagarin, sekitar 60 juta kilometer dari bumi. Planet Gagarin merupakan sebuah planet kecil yang berdekatan dengan Planet Mars.”

Ryan merasa pusing dengan banyaknya informasi asing yang disodorkan dengannya. Ia merebahkan tubuhnya pada sebuah sofa yang paling dekat dengannya.

“Lalu… kira-kira apa mau mereka?” Ryan kembali bertanya.

Jenderal Polo memandang lurus pada Ryan, “Planet ini kaya akan sumber daya alam dan seperti yang telah kita tahu, sumber daya alam terbesar kita saat ini berada di TelkomCity. Jika mereka membawa lima awak pesawat, kemungkinan mereka tidak main-main untuk datang dan menginvasi semua hal yang saat ini kita miliki.”

Pak Walikota menahan nafasnya beberapa saat, lalu kemudian menghembuskannya dengan keras.

“TelkomCity saat ini berada dalam status siaga 1. Aku memanggilmu kemari supaya kau bisa membantu kami memasuki sistem mereka dan mengacaukannya. Supaya Jenderal Polo memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan serangan udaranya.”

“Baik, Pak. Akan langsung saya kerjakan.” Ryan menyanggupi permintaan Pak Walikota sambil mengangguk ringan pada Jenderal Polo, lalu kemudian memasuki ruang kontrol Telkom Speedy dan memulai aksinya.

Ryan mengambil sebuah perangkat komputer yang telah disediakan untuknya. Menarikan jemarinya lincah pada keyboard dan mulai meretas sistem piring terbang itu.

Piring terbang utama terletak di barisan paling depan dan berbentuk lebih besar dari empat lainnya. Ia langsung dihadapkan dengan kode-kode rumit sistem pesawat tersebut.

Suara tegas seorang wanita terdengar dari sebuah televisi tak jauh darinya. Sejak kemunculan pertama piring terbang itu, Telkom Vision terus saja menyiarkan berita mengenai perkembangan terbaru. Warga sipil di TelkomCity juga mulai dievakuasi menuju benteng pertahanan yang dilindungi oleh Badan Pertahanan TelkomCity.

“Bagaimana perkembangannya?” Tanya Jenderal Polo pada alat komunikasi yang terpasang di sebelah kiri telinga Ryan.

“Saya sudah memasuki sistem mereka. Dan sebentar lagi saya akan mematikan sistem persenjataan mereka.” Seru Ryan sambil pandangannya terus saja terpaku pada layar monitornya.

Ryan terus berusaha untuk menguasai sistem mereka. Dan bukan hal yang mudah, sistem pesawat Gagarin dilengkapi dengan pertahanan berlapis-lapis. Tetapi itu bukanlah masalah bagi Ryan. Berbekal semua pendidikan dan pengalamannya, walau masih duduk di bangku sekolah menengah atas ia sudah dipersiapkan sejak dini oleh ayahnya yang juga menduduki sebagai Kepala IT di Telkom Indonesia.

“Pesawat mereka kini telah memasuki lapisan termosfer. Dan tidak lama lagi kita akan melihatnya di atas langit TelkomCity.” Kata Jenderal Polo.

“Jenderal, saya akan mencoba untuk mengambil alih awak pesawat utama mereka. Menggiringnya ke tempat aman. Dan setelah itu, Anda tinggal melakukan tugas Anda untuk melindungi kota ini.”

“Baik, Ryan. Seluruh pesawat tempur sudah siap menunggu aba-aba darimu.”

Melalui Indonesia Wifi. Dalam sekali tekan, sebuah virus komputer ciptaannya langsung terkirim dan mulai menginfeksi sistem pesawat Gagarin. Pesawat utama Gagarin langsung berputar ke kanan menjauhi TelkomCity. Ryan sengaja membawanya jauh dari kota itu dan menuju sebuah gurun pasir yang beratus-ratus kilometer jauhnya. Di belakang pesawat utama itu, empat pesawat lainnya mengikuti seperti perkiraan Ryan.

“Sekarang, Jenderal!” Seru Ryan.

(Sumber: google)

Sekitar tiga puluh pesawat tempur mengikuti piring terbang itu dari belakang. Beberapa kali Ryan kehilangan kontrol atas kendali piring terbang itu sehingga beberapa roketnya mengenai pesawat tempur dan membuatnya terbakar dan jatuh. Tetapi untung saja, pasukan Jenderal Polo memang terkenal kuat. Empat piring terbang telah dijatuhkan hanya dalam beberapa menit saja.

Kemudian hal yang ditakutkannya terjadi. Ia betul-betul kehilangan kontrol atas piring terbang utama yang daritadi ia kendalikan. Alarm memekakkan telinga terdengar meraung-raung di seluruh ruang kontrol itu. Pesawat Gagarin itu mencoba menyerang balik dan memasuki sistem pengendali. Ryan terpaksa harus mematikan sistemnya apabila ia tidak ingin dikuasai oleh makhluk Gagarin itu.

(Sumber: google)

“Jenderal maaf, makhluk Gagarin itu menyerangku balik. Sekarang giliran Anda untuk menjatuhkannya.” Kata Ryan.

“Baik, tenang saja. Sekarang giliranku.” Suara Jenderal Polo terdengar yakin.

Ryan berdiri menghadap layar televisi, menatap semua perkembangan yang disiarkan langsung oleh Telkom Vision. Dalam layar itu, lima pesawat tempur TelkomCity terus membombardir piring terbang itu tanpa henti. Bukan hal yang mudah untuk menjatuhkan pesawat Gagarin itu, beberapa kali pesawat tempur yang berawakan anak buah Jenderal Gagarin harus mengambil manufer sulit dan berbahaya.

Lalu tibalah, saat salah satu pesawat tempur mengenai sisi kanan piring terbang itu. Sebuah roket mengenainya dan membuatnya hilang kendali. Dan dalam beberapa detik saja, piring terbang itu jatuh menghantam tanah dengan bunyi ledakan keras.

Seketika ruangan itu berubah riuh. Semua bertepuk tangan dengan perasaan lega dan sebuah senyum menghiasi setiap wajah mereka.

“Syukurlah.” Ucap Ryan pelan.

Pak Walikota yang sejak tadi tegang kini ekspresinya mencair dan tersenyum pada Ryan.

“Terima kasih atas bantuannya.” Pak Walikota menjabat erat tangan kanan Ryan dan menggoyangkannya.

Sorakan lega juga terdengar dari earphone yang masih terpasang di telinganya. Jenderal Polo masih tersambung dengannya.

“Terima kasih, Ryan. Jika bukan karena bantuanmu, kita semua tidak akan berhasil menjatuhkan piring terbang itu. Kamu berhak menyandang nama Superspeedy, pahlawan TelkomCity.

Ryan tertawa ringan, “Berterima kasihlah pada Telkom Indonesia, Jenderal. Kita beruntung memiliki teknologi secanggih ini.”

Lalu mereka semua tertawa bersamaan dan mengucap syukur dalam hati karena mereka bisa melindungi TelkomCity jauh dari bahaya. Melindungi keluarga, teman, dan orang-orang yang mereka cintai.

***

Advertisements

10 thoughts on “Be a Superspeedy. Ancaman Sedang Menuju TelkomCity.

  1. hahaha.. sebenernya udah baca sih.. cman baru bisa komen sekarang coz kmaren” inet lemot..
    ~_~ gw jd malu.. wkwk
    bagus ceritanya.. gw baca sambil ngayal adegannya kyk di film ironman. wkwkwk
    btw itu nama gagarin dpt dari mana ya? o.o
    lady gaga kah? jadi itu pasukan lady gaga? wkwkwk #ngacomodeOn

    • Telat ah lu. Harusnya sebelum tanggal 15 Januari komennya, udah ada pengumuman pemenangnya sekarang. Dan gw ga menang. Hahahaha…

      Bukan, itu Gagarin emang ditentuin. Harus itu namanya -_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s