Di Ujung Jalan


Kata kunci: Pohon beringin, jejak, putih, senter, darah.

Setting tempat: Terowongan.

Jumlah kata: 663

 

Jo melajukan civic putihnya dengan kecepatan hampir seratus kilometer per jam. Jalanan di pukul dua dini hari terbilang lengang. Ini adalah kali ketiganya dalam seminggu ini ia harus lembur di tempat kerjanya. Di persimpangan jalan mobilnya berbelok ke kiri, mengambil jalan pintas melalui terowongan. Karena itu adalah jalan tercepat untuk sampai ke rumahnya. Terowongan itu terkenal angker, tetapi rasa lelah yang dirasanya membuatnya tidak memilih jalan panjang yang setiap hari selalu dilaluinya.

Sebuah pohon beringin besar menyambutnya di muka terowongan. Ia memelankan laju kendaraannya sampai setengahnya saat ia mulai memasuki terowongan itu. Sebuah panggilan masuk mendarat di telepon genggamnya. Jo melirik sekilas untuk tahu siapa yang menelponnya. Ternyata dari Shinta, pacarnya.

“Halo, sayang? Kok belum tidur?” tanya Jo setengah mengantuk.

“Sudah. Ini kebangun aja langsung ingat kamu. Gimana laporannya? Beres?”

Jo menggenggam ponsel di tangan kirinya, sembari tangan kanannya memegang setir dengan erat. “Iya, lumayan. Besok tinggal sedikit lagi.”

Saat Jo sedang asyik menelpon dan mengemudikan mobilnya dengan santai, tiba-tiba sesosok perempuan muncul di tengah jalan dan mengagetkannya. Jo langsung menginjak pedal rem dalam-dalam. Suara decitan ban mobil yang bergesekan dengan aspal menggema di seluruh dinding terowongan. Mobil yang dikendarai Jo berhenti dengan cepat.

“Jo, ada apa?” tanya Shinta khawatir.

“Nanti aku telepon lagi. Sepertinya aku menabrak sesuatu.” Jawab Jo singkat lalu membuka pintu mobilnya dan melangkah keluar.

Jo heran. Jelas-jelas tadi ia melihat seorang perempuan berdiri di tengah jalan dan menatap lurus padanya. Tetapi pada saat ini, jejaknya sama sekali tidak ada. Jo membuka dashboard mobilnya dan mengambil sebuah senter. Penerangan di terowongan itu benar-benar buruk. Beberapa lampunya ada yang sudah mati dan sebagian lagi menyala tapi terus berkedip-kedip.

Jo menyorot bagian depan mobilnya dan mendapati tidak ada apa-apa di sana. Ia lalu berjalan maju sambil terus mengarahkan senter ke depan. Sebuah bercak merah mulai terlihat pada aspal. Awalnya hanya setetes, lalu pada saat Jo melangkah lebih maju ia terus melihat genangan darah semakin lama semakin banyak. Darah itu masih segar, berwarna merah dan kental.

Bulu kuduknya meremang. Ia mengarahkan senter ke kiri dan ke kanan sambil terus melirik ke segala arah. Sebuah bayangan putih berkelebat mengarah ke arahnya. Sebelum bayangan itu tertangkap oleh mata Jo, tiba-tiba bayangan itu hilang secepat datangnya.

Jo berbalik arah, ia mulai berjalan cepat saat nalurinya merasakan hal yang tidak beres. Nyala lampu senter menari-nari di atas atap terowongan tatkala Jo berjalan. Ia sudah tidak peduli lagi dengan sosok yang tadi dicarinya itu. Jo hanya bahwa ia harus cepat-cepat pergi dari tempat itu sekarang juga.

Seketika Jo membeku di tempatnya berdiri ketika ia melihat sosok putih itu muncul di dekat mobilnya. Wajah pucat dengan sinar mata menusuk menatapnya lekat. Sosok putih itu berjalan mendekatinya. Bercak-bercak darah di baju putihnya kini mulai terlihat saat ia berada cukup dekat dengan Jo.

Jo tersadar. Ia langsung memasuki mobilnya dan menyalakan mesinnya. Jantungnya berdegup sangat kencang sekali. Jo menginjak pedal gas sampai ke dasar. Ia kembali berteriak ketika menangkap sosok putih itu melalui kaca spionnya. Wanita itu duduk di bangku belakang mobilnya dengan tangan terjulur ke depan mendekati Jo. Tangan dinginnya membelai wajah Jo.

“Ikut… aku…”

“Ikut… aku…” katanya berulang-ulang.

“Kumohon, pergilah.” Pinta Jo mengiba.

Jo terus-terusan menatap antara jalan dan kaca spion mobilnya. Ia ingin cepat-cepat keluar dari terowongan itu. wajah wanita itu mendekati Jo. Mata Jo membelalak saat ia melihat carut marut luka pada wajahnya dan darah yang terus keluar dari seluruh lukanya.

“Sebentar lagi… sebentar lagi…”

Jo tidak bisa fokus, beberapa kali tangannya tergelincir saat memegang setir mobilnya. Ia terus saja menginjak pedal gasnya sampai kecepatannya terus bertambah. Pada saat itu, dari arah yang berlawanan datang sebuah kontainer dengan kecepatan tinggi berjalan lurus ke arahnya. Jo menginjak pedal rem dengan cepat dan membanting stirnya ke kiri. Tapi ia terlambat beberapa detik. Mobilnya tertabrak kontainer itu dan terseret beberapa meter sebelum akhirnya berhenti. Sebuah benturan keras merenggut nyawa Jo. Supir kontainer yang panik, kembali melajukan mobilnya dan meninggalkan Jo sendiri.

Sosok putih itu tersenyum senang saat Jo terbujur kaku dihadapannya. Ia kemudian menggandeng tangan Jo dan mengajaknya rohnya pergi.

Protected by Copyscape Plagiarism Software

Tulisan ini adalah contoh untuk tulisan #FFHalloween @YUI17Melodies. Untuk ikut berpartisipasi, klik tautan berikut ini untuk informasi lebih lanjut http://wp.me/p2d4Bk-7H

Advertisements

6 thoughts on “Di Ujung Jalan

  1. Pingback: #FFHalloween – Treat or you’ll be tricky | #YUI17Melodies
  2. Pingback: Daftar Tulisan #FFHalloween | #YUI17Melodies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s