Perempuan Pemulung


Aku duduk di sebuah bangku kayu di taman kota yang terletak tidak jauh dari rumahku. Udara terasa sejuk sekali jika setelah hujan. Pada bangku kayu itu telah duduk seorang lelaki necis berpenampilan seperti pegawai kantoran yang baru saja pulang dan sejenak melepas lelah sambil menikmati udara segar di sini.

Aku kebetulan saja baru pulang dari kampusku. Duduk sebentar di sini sambil menatap hijau daun dan beberapa anak kecil bermain di taman lumayan menghilangkan kepenatanku sedikit. Tugas kuliah lumayan menumpuk, ditambah lagi minggu depan akan ujian tengah semester.

Sebuah bunyi terdengar keluar dari ponselku. Langsung saja aku membuka tas dan mengeluarkan ponsel itu. Ternyata temanku, Siska, menanyakan tentang tugas kelompok yang harus kami kumpulkan besok. Dengan asyiknya aku ber-chatting ria dengan Siska.

Tiba-tiba seorang perempuan pemulung datang menghampiri. Ia menaruh karung besar di bawah, lalu kemudian duduk di sebelahku. Tubuhnya yang besar menyita semua ruang kosong yang tersisa di bangku itu.

Aku menarik rokku yang diduduki olehnya kemudian bergeser lebih jauh dan mendekati lelaki tadi. Sebuah noda besar cokelat tercetak di atas rok putihku. Aku pasrah dan memandang sebal perempuan itu.

Perempuan itu melirikku dan tersenyum ramah padaku. Tetapi karena aku sudah sebal, aku langsung membuang muka dan meneruskan chatting-ku dengan Siska.

“Neng, sering ke taman ini ya?” perempuan itu bertanya.

Aku menghembuskan nafas panjang dan menjawab singkat, “Iya, Bu.”

“Kok ga langsung pulang ke rumah, Neng? Udah mau maghrib loh.” Katanya lagi, berusaha mengajakku mengobrol.

“Iya, sebentar lagi.”

Menyadari nada ketusku, perempuan itu diam. Ia memajukan kepalanya ke depan dan menatap lelaki di sebelahku. Saat kulihat pandangan matanya, tampak sekali sorot mata tidak suka terpancar darinya.

Ibu ini kenapa sih? Keluhku tak bersuara.

Ia melirik lagi padaku dan tersenyum. “Neng mendingan pulang deh. Udah mau gelap tuh.”

Aku semakin sebal padanya. “Ibu… terserah saya dong mau lama-lama di sini juga. Kenapa ibu jadi kaya yang melarang-larang saya?”

Tetapi orang yang kuajak bicara ternyata tidak menaruh perhatian padaku. Ia malah semakin sengit menatap lelaki itu. Dan lelaki itu pun dibuat serba salah dengan sikapnya.

Tak lama kemudian, lelaki itu membereskan barang-barangnya. Sebuah tas besar dijinjingnya di samping tubuhnya, lalu pergi dengan tergesa-gesa keluar dari taman.

Menyadari lelaki itu telah pergi, perempuan itu langsung bernafas dengan lega.

“Neng, coba periksa tasnya. Ada yang hilang gak.” Perintahnya.
Refleks aku langsung memeriksa tasku. Dan ternyata pinggirannya telah disayat sekitar delapan sentimeter panjangnya. Dengan cepat aku langsung memeriksa isi di dalamnya.

Dompetku masih tetap di tempat terakhir kali aku menaruhnya. Demikian juga dengan tabletku.

“Masih ada kan, Neng?” tanyanya khawatir.

“Iya, Bu. Masih.” Balasku lega.

“Neng, lelaki itu sebenarnya copet. Ibu sering lihat dia beraksi di taman ini, makanya ibu kenal betul dengan wajahnya.”

“Makanya, tadi ibu nyuruh eneng pulang. Maaf ya, kalau bikin eneng gak nyaman.” Lanjutnya.

Aku sungguh malu pada diriku sendiri saat menyadari niat baik perempuan itu dan kepicikanku yang menilai buruk pada perempuan itu.

“Iya, gak apa-apa. Maaf juga ya, saya sudah ketus sama Ibu.” Ucapku.

Ia tersenyum ramah. Benar-benar tidak marah sedikitpun akan sikapku padanya.

“Sudah adzan maghrib, Neng. Pulang aja ke rumah, nanti mamanya nyariin.”

“Iya, Bu. Ibu juga hati-hati ya, cepet pulang juga. Terima kasih untuk yang tadi.” Kataku sambil berdiri dan berpamitan padanya.

Advertisements

3 thoughts on “Perempuan Pemulung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s