Delapan Jasad


Sherry menyesali keputusannya menolak permintaan Kyle untuk mengantarkannya ke gedung pertunjukan tempat resital piano pertamanya diadakan. Sherry mengetatkan mantelnya saat angin dingin menerpa tubuhnya. Jalanan dari apartemen menuju gedung itu memang tidak jauh, tapi ia baru sadar ternyata jika malam hari gang sempit yang selalu ia lalui di siang hari berubah menjadi tempat gelap dan menyeramkan. Apalagi di sebuah kota tua seperti ini, volume kendaraan yang lewat pun sangat rendah.

Sherry mempercepat jalannya. Hak stiletto merahnya berbunyi nyaring di sepanjang jalan sepi. Beberapa kali ia menoleh ke belakang, merasa seseorang sedang mengawasi dan mengikutinya.

Sherry mengambil ponsel dari mantelnya dan langsung memencet nomor Kyle. Beberapa kali nada sambung terus terdengar sampai akhirnya sambungan itu terhenti secara otomatis.

Sial… Orang itu selalu saja tidak bisa dihubungi jika kuperlukan.

Sherry merasa lega. Karena dari tempatnya berjalan ia sudah bisa melihat pintu masuk gedung pertunjukkan yang hanya tinggal berjarak dua blok saja. Ponsel Sherry tiba-tiba berbunyi. Dengan cepat ia langsung mengangkatnya.

“Halo…” sapanya.

Satu detik… dua detik… tiga detik…

“Halo? Ini siapa ya?”Β Sherry tidak memedulikannya dan langsung memutuskan panggilan.

Tiba-tiba seseorang menyergapnya. Orang itu sepertinya telah menunggunya dan kemudian langsung menyerangnya. Sebuah saputangan putih membekap mulut Sherry. Ia tidak bisa menghindar ataupun melawan. Orang itu lebih kuat darinya.

***

Sherry terbangun di suatu tempat yang tidak dikenalnya. Seluruh ruangan itu tertutup keramik berwarna putih dan tidak jauh dari tempatnya berbaring, ia dapat mencium bau pembersih lantai menguar kuat di udara. Ia mencoba bangun, tetapi rantai membelenggu kedua kaki dan tangannya dengan kuat. Ia meronta dan berusaha berteriak. Tetapi, sebuah lakban hitam menempel kuat menutupi mulutnya.

Ia terus saja bergerak-gerak. Sekujur tubuhnya sampai terasa sakit karena terus dipaksa bekerja dengan aktif. Sherry tersadar, ternyata bukan hanya dia yang berada di ruangan itu. Di sebelahnya kira-kira terdapat lelaki dan perempuan yang terbujur kaku pada sebuah meja aluminium.

Mata Sherry membelalak lebar.

Oh Tuhan… seseorang memotong putus kedua pergelangan tangan mereka.

Ia menghitung satu persatu mayat itu.

Delapan! Ada delapan jasad di sini!

Oh Tuhan… tolong aku.

Sherry kembali menjerit dalam hatinya.

Butir-butir air mata mulai berjatuhan pada kedua pipinya. Sebuah pintu tak jauh dari tempatnya terbuka lebar. Seseorang masuk dengan sangat tenang, sampai-sampai ia tidak bisa mendengar jejak langkahnya.

“Halo, Sherry.” sapanya.

Sherry benar-benar tidak percaya dengan penglihatannya.

Ia mendekati Sherry dan membuka lakban yang menutupi mulutnya.

“Kyle! Lepaskan aku! Biarkan aku pergi.” teriak Sherry.

Kyle mengangkat telunjuknya dan menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan sebagai ungkapan tidak setuju.

“Tidak, Sherry sayang. Aku ingin memilikimu.”

“Hmm… tepatnya. Ingin memiliki jemari-jemari indahmu. Tapi kamu sepertinya tidak bisa kurayu dengan cara halus, jadi ya… aku ambil cara seperti ini. Dari dulu, aku selalu terpukau pada jemari indah para pianis yang menari dengan lincah menekan tuts piano. Hanya saja aku tidak berbakat dalam dunia musik.” lanjutnya sambil mengangkat kedua bahunya.

Sherry kembali menangis. “Bebaskan aku, Kyle. Kumohon…” pinta Sherry.

Kyle membelai puncak kepala Sherry lembut. “Maaf sayang, sebentar lagi kita akan terus bersama selamanya. Kamu juga akan bisa mempunyai teman sesama pianis. Bukankah itu bagus?”

“Tidak! Tidak! Kumohon Kyle. Lepaskan aku.”

Kyle tidak mendengar permintaan Sherry, ia mulai membuka kotak perkakasnya dan mengeluarkan sebuah gergaji. Pupil matanya melebar dan senyumnya terkembang.

“Nah, sekarang ayo kita mulai. Kamu mau yang kanan dulu atau kiri?”

Protected by Copyscape Plagiarism Detection

Maaf kalau misalnya ada typo dan lainnya. Ga sempet edit >.<

Advertisements

8 thoughts on “Delapan Jasad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s