My Idol [Pertemuan]


Rhara berjalan keluar dari Stasiun Anguk dan berbelok masuk menuju jalan Insa-dong. Setelah sebelumnya berpisah dengan Febri di kereta. Febri lebih memilih menjelajahi Itaewon dibandingkan berjalan bersama Rhara mencari sebuah kedai teh tua yang pernah dilihatnya pada salah satu website jalan-jalan di Korea.

Rhara berjalan sejauh tiga ratus meter sebelum akhirnya berbelok masuk pada sebuah gang kecil diantara Temple Food Shop dan Atelier Seoul. Dan tidak jauh dari situ ia menemukan sebuah kedai dengan suasana tradisional kental.

Sebuah pohon maple menjuntai dan menaungi bagian depan kedai sehingga suasana asri dan nyaman dirasakan oleh Rhara. Sebuah pintu geser berwarna hijau dibuka olehnya dan kemudian ia memasuki kedai itu. Suasananya benar-benar lain. Dengan interior gelap dan misterius, kedai itu seperti membawanya pada sebuah garasi tua. Penuh dengan ornamen tradisional dan furnitur antik.

Rhara berjalan lebih dalam dan mencari tempat yang tepat untuknya. Suara gemercik air terdengar dri sebuah pancuran yang dibawahnya adalah sebuah kendi besar yang berisi tanaman lotus. Rhara langsung teringat dengan rumah neneknya pada saat melihat pancuran itu, dimana saat kecil dulu ia selalu bermain air di sana dan dimarahi oleh ayah.

Rhara tersenyum tipis. Belum juga seminggu, aku sudah kangen rumah. Bagaimana mau setahun di sini. Pikirnya geli.

Akhirnya Rhara duduk di salah satu sudut kedai itu, lalu memesan mogwa-cha[1] dan kue beras. Dinding sudut yang ditempati Rhara saat ini tertutup penuh oleh tulisan, gambar, tanda tangan, dan nama pengunjung yang datang ke sana sebelumnya. Ia membaca sebagian tulisan itu dan tersenyum kecil saat membayangkan pasangan muda-mudi atau pengunjung biasa lainnya yang datang ke kedai itu dan menuliskan pesan mereka di dinding itu.

Sambil menunggu pesanan datang, Rhara terus saja memanjakkan matanya dengan semua keunikan yang ada di sana sambil terus saja bertanya-tanya sendiri dalam hati.

Kenapa di sana ada kotak pos besar berwarna merah dipajang?

Wah… layang-layangnya bagus.

Toples besar itu isinya apa ya? Apa itu teh fermentasi?

Ia terus saja melontarkan pertanyaan sendiri sambil terus melihat kesana kemari. Lalu tiba-tiba. Tak jauh dari tempatnya duduk, ia melihat sebuah sosok yang ia rasa ia kenal.

Wajah yang tertutup separuh oleh sebuah topi besar, hidung yang mancung, dan sebuah bahu yang tidak begitu lebar. Ya ampun…

“Kibum oppa.” Bisik Rhara pelan.

Sang pemilik nama langsung mendongak dan menatap Rhara, sebelum akhirnya ia menaruh jari telunjuknya di mulut. “Shh…”

Rhara masih saja terkaget-kaget. Ia benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengan Kim Kibum, personel Super Junior yang selalu diidolakannya.

Rhara langsung berdiri dan menghampiri Kibum dengan cepat.

“Annyong haseyo, nae ireumeun Rhara imnida. Pangawoyo.[2]” kata Rhara gugup sambil menunduk memberi salam.

Kibum hanya tersenyum ramah padanya dan mempersilakan duduk.

Pembicaraan mereka terhenti saat mogwa-cha yang dipesan oleh Rhara datang. Teh pesanannya ditempatkan dalam sebuah gelas keramik beralaskan sebuah kayu tua.

“Kamu bukan orang Korea kan?” tanyanya.

Rhara menggeleng. “Aku dari Indonesia, oppa.”

“Oppa sedang apa disini?” lanjutnya.

Kibum lalu melirik ke kiri dan kanan, “Aku sedang kabur dari managerku. Sekali-kali tanpa sorotan kamera saat datang ke tempat seperti ini terasa sangat menyenangkan.” Ucapnya sambil terkikik.

Rhara mengobrol dengannya dalam bahasa Korea pas-pasan yang baru saja dipelajarinya selama tiga bulan ini. Ternyata oppa-nya adalah orang yang ramah, baik, dan menyenangkan. Dan tak terasa ia telah berada di sana selama dua jam. Senja mulai datang dan ia tahu ia harus pulang, walaupun ia merasa tidak ingin.

“Oppa, aku akan pulang.” Kata Rhara pelan.

Kibum memberikan sorot mata sedih sambil tersenyum lemah. “Baiklah, sudah sore memang. Padahal aku baru saja menemukan teman mengobrol yang asyik.”

“Oppa, aku boleh bertemu lagi denganmu kan?” tanya Rhara bersemangat.

Kibum mengangguk mengiyakan.

“Kita bertemu di sini lagi saja. Aku akan menunggumu di hari dan jam yang sama dengan saat pertemuan kita tadi. Oppa boleh datang kapanpun sempat. Janji?”

Rhara memberikan jari kelingkingnya ke hadapan Kibum.

“Janji.” Kibum menyambut jemari itu dan menautkannya.

Setahun di sini, kemungkinan aku akan sangat betah. Pikir Rhara.


[1] Mogwa-cha : teh tradisional Korea yang dibuat dari pepaya China/Chinese quince yang dibuat dengan cara memasukkan Chinese quince kering ke dalam air mendidih atau bisa juga memeras buahnya menjadi jus dan memasukkannya dalam air mendidih. Harga sekitar 7.000 – 7.500 won.

[2] Halo, namaku Rhara. Senang bertemu denganmu.

Protected by Copyscape Plagiarism Detection

Bersambung? Mungkin. Lihat nanti 😛

Sumbangan judul dari @rhaZora. Enjoy :D

Untuk Rhara dan Kibum

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s