Jimmy Surya Pradipta


Adi menatap sebuah surat penangkapan dirinya dengan lemas. Jelas-jelas disana tertera namanya, Jimmy Surya Pradipta. Ia menatap kosong pada salah satu titik di ruang introgasi tersebut. Pengacaranya sibuk berceloteh tentang semua pasal yang tidak ia mengerti.

Ruangan itu dingin dan sedikit lembab. Sebuah kaca besar terbentang di hadapannya. Memenuhi salah satu sisi ruangan itu. Ia tahu itu adalah sebuah kaca dua arah, dimana seseorang dibalik sana sedang menunggunya untuk melakukan kesalahan. Lalu kemudian memaksa salah satu petugas di hadapannya untuk melakukan segala cara agar Adi bisa membuka mulutnya. Mengenai seseorang yang ia cintai. Seseorang yang akan terus ia lindungi sampai kapanpun.

“Jadi… kamu mungkin sudah tahu mengenai prosedurnya. Hari ini statusmu masih sebagai saksi. Tetapi besok, saat surat itu benar-benar sampai di tanganmu. Kamu adalah tersangka utama kasus kami.” Jelas petugas itu.

“Siapa namamu?”

“Maaf?” kening petugas itu berkerut.

Adi menghembuskan nafas panjang, “Aku tanya siapa namamu. Aku harus tahu, aku sedang berbicara dengan siapa. Setidaknya itu sopan santun tahap dasar kan?”

“Radit.”

Adi tersenyum lesu, “Nah, Radit…”

“Kamu punya keluarga?” lanjut Adi.

Radit berdiri dan menggebrak meja di hadapan Adi dengan sangat kencang.

“Berhenti berputar-putar. Cepat katakan siapa pemasokmu?”

Pengacara Adi ikut berdiri dan mulai melindungi kliennya, “Dengan sangat hormat saya beritahukan. Klien saya disini memenuhi tugasnya sebagai saksi. Dan tolong jaga sikap Anda atau saya akan mengadukan sikap kasar Anda pada atasan Anda.”

“Jawablah, Radit. Aku hanya sekedar bertanya.” kata Adi dengan tenang.

Radit duduk dengan cepat sambil mengatur kembali emosinya.

“Tentu saja, saya punya.”

Adi menyender pada sandaran kursi dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“Nah, sama sepertimu. Aku pun memiliki seseorang yang sangat aku sayangi dan dengan sekuat tenaga akan aku lindungi. Jadi maaf, aku menolak tawaranmu.”

Sebuah langkah bodoh yang diawali dengan kebodohan lainnya. Mata Adi menerawang jauh pada saat ia mulai coba-coba menggunakan serbuk putih haram itu. Awalnya ia membelinya secara berkala pada seorang kenalannya, lalu lama kelamaan dengan tidak sengaja ia menjadi perantara benda tersebut. Dan akhirnya mengantarkannya pada pertemuan pertamanya dengan Rina, seseorang yang tidak sangka-sangka membuatnya jatuh hati. Dan sebuah kebetulan lagi, Rina itu adalah pemasok utama sabu-sabu di daerah Jakarta.

“Jadi, Radit. Cukup sampai di sini, saya mau pulang. Dan satu lagi, saya akan menanti surat itu di depan pintu rumah saya besok.” kata Adi sebagai kalimat perpisahan pada Radit.

Adi berdiri menuju sebuah pintu keluar dari ruangan itu dengan diikuti oleh pengacaranya. Bersiap-siap dengan kebodohan lain yang akan menantinya besok.

Rina… seharusnya aku tidak perlu mengenalmu. Adi membatin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s