Hitam Putih Oktober


Stany meniup permukaan cokelat panas pada mug kaca yang dipegangnya. Ia selalu memesan menu yang sama di kafe itu. Sebuah kafe yang selalu menjadi tujuannya dikala santai atau apapun. Kadang ia pun sering menyelesaikan desain gambarnya di  Caffè Nero dengan ditemani oleh Rafa dan Andre. Teman setimnya.

Langit di luar mendung sejak tadi pagi. Tapi tampaknya, awan-awan kehitaman itu enggan membagi tangisnya.

Lampu di dalam kafe itu berkedip beberapa kali. Stany melihat ke arah sebuah lampu yang tepat di atas kepalanya. Ia melihat ke arah orang-orang yang berada di sana. Tapi tidak seorang pun yang memedulikan kerlipan lampu itu.

Ah… sudahlah. Pikirnya.

Garis demi garis ia tambahkan dalam lembaran file AutoCAD-nya, sambil sesekali terdiam saat ia memikirkan sebuah ide baru. Stany begitu larut dalam pekerjaannya, sampai-sampai ia tidak menyadari saat seorang anak kecil duduk di hadapannya.

“Halo, kakak.” sapa anak itu.

Konsentrasi Stany akhirnya terpecah dan langsung menatap anak kecil itu. Jelas ia adalah anak lelaki, walaupun potongan rambutnya sepanjang bahu. Mengenakan sebuah celana pendek hitam dan sebuah kemeja lengan pendek biru cerah.

“Halo.” balasnya sambil tersenyum.

“Kakak sendirian ya hari ini? Teman kakak yang lain mana?” tanyanya.

Kening Stany berkerut, “Kamu sering ke sini ya? Kok tahu sama kakak dan temannya kakak?” tanya Stany heran.

Anak itu tersenyum sambil menggoyang-goyangkan kedua kakinya di bawah meja. “Iya. Aku sering lihat kakak di sini.” katanya.

Stany menghentikan pekerjaannya lalu menutup komputer jinjingnya.

“Siapa nama kamu? Kamu sendirian apa dengan orangtuamu di sini?”

Anak kecil itu menopang dagu dengan kedua tangannya lalu menjawab, “Aku Ayrish. Aku bisa memainkan waktu loh.”

“Maksud kamu?”

“Aku suka kakak dan sering memperhatikan kakak. Nah… makanya aku kasih satu permintaan untuk kakak.”

Stany menaikkan salah satu alisnya.

“Kakak mau kembali di waktu kapan?”

Stany tertawa terbahak. “Kamu jangan bercanda, dik. Sudah makan belum? Kakak traktir ya?”

Ayrish menggeleng dan memajukan bibirnya. “Ini bukan bercanda, kak. Aku benar bisa memainkan waktu. Kakak pilih saja, mau tanggal berapa?”

“Hmm… tanggal berapa ya?” Stany tidak percaya dengan anak kecil itu dan malahan mengikuti permainannya.

“Tanggal 4 Oktober bisa?”

Entah apa yang ia lakukan. Stany memilih tanggal saat ia merelakan Rafa pergi, bukan menahannya. Sebuah kejadian yang selalu ia sesali. Jujur pada diri sendiri itu lebih baik, walaupun dibalik semua itu seseorang akan tersakiti.

Ayrish langsung berdiri. Dari celana pendeknya ia mengeluarkan sebuah jam tua dengan ukiran rumit di sekelilingnya. Ia menyentuh permukaannya perlahan, lalu menggerakkan jari terlunjuknya berlawanan arah dengan jarum jam.  Dan kemudian tiba-tiba waktu terasa terhenti.

Warna berubah menjadi hitam putih sebelum akhirnya semua warna berbaur cepat seperti tersedot dalam sebuah lubang. Dalam sekejap waktu berpindah.

Stany melihat sekitarnya dengan takjub. Baju yang ia kenakan kini telah berubah menjadi baju yang ia kenakan pada saat tanggal 4 Oktober. Dan dihadapannya telah berdiri Rafa, lengkap dengan koper besarnya sesaat sebelum ia pergi ke Jepang.

Dari belakang tubuh Rafa, kepala Ayrish mengintip.

“Berbahagialah, Kakak. Ucapkan apa yang menjadi keinginanmu. Ini kesempatan keduamu.” bisik Ayrish.

Stany tersenyum dan langsung memandang Rafa.

“Aku sayang kamu.”

Ayrish lalu mengedip pada Stany dan kemudian menghilang bersamaan dengan berjalannya waktu. Tik… Secepat sebuah detik.

 

Untuk melihat cerita sebelumnya, klik tautan dibawah ini:

Secangkir Cokelat Panas – http://wp.me/pLMiV-pN

Advertisements

10 thoughts on “Hitam Putih Oktober

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s