(Bukan) Milikku


Matahari siang di bulan September bersinar dengan teriknya. Gelombang tenang ombak Pantai Pangandaran memantulkan cahaya matahari ke semua arah, termasuk mataku. Menyilaukan.

Aku kembali teringat peristiwa setahun yang lalu. Saat aku dan kamu berlarian mencoba menerbangkan sebuah layang-layang di tepi pantai ini. Kita begitu bahagia. Tak memedulikan perihnya tubuh kita masing-masing yang tersengat matahari.

“Lautnya bagus ya.” katamu saat itu, setelah kita kehabisan nafas berlarian menantang panas yang menyengat.

“Silau ah, Rasya.” timpalku.

Kamu tersenyum ke arahku. “Bagus kok. Menurutku laut tampak indah bukanlah pada malam hari melainkan pada siang hari, saat ombak membiaskan cahaya matahari. Dan kadang itu seperti kamu, Indah. Terlalu menyilaukan.”

Saat itu aku tidak mengerti sama sekali apa maksudmu. Baru kemudian sebulan setelah itu kamu pergi dan memutuskan komitmen kita. Dan kamu bilang, “Kamu terlalu membutakan mataku. Aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih jika dekat denganmu.”

“Apa maksudnya?” tanyaku saat itu.

“Aku perlu melanjutkan hidup, Indah. Aku selalu terperangkap dalam dunia mimpi jika denganmu. Dengan semua harapan dan perangkapnya.”

“Bukankah itu bagus? Itu tanda bahwa kamu benar-benar cinta aku.”

Kamu menggeleng, “Aku butuh berada dalam dunia nyata. Maaf bila aku egois. Bukan perkara mudah juga bagiku untuk melepaskanmu.”

Ya, kamu egois. Lebih mementingkan egomu daripada hatimu. Aku berteriak kembali dalam hati untuk kesekian kalinya dalam lima bulan ini.

Aku menatap laut yang sama dengan yang kulihat setahun yang lalu. Entah apa yang ada di dalam kepalaku kemarin. Memutuskan untuk pergi di saat detik-detik terakhir, padahal aku akan melihatmu setelah lima bulan lamanya. Tapi setelah kupikirkan matang-matang, ini justru keputusan paling tepat. Aku tidak akan sanggup lagi melihatmu berdiri berdampingan dengan wanita lain di atas pelaminanmu. Karena kamu kini, bukanlah milikku.

Apakah dia tidak membuatmu buta seperti yang kulakukan? Sepertinya itu bukan cinta.

“Setidaknya hatimu masih milikku.”

Aku tersenyum samar sambil menatap laut yang berkilauan.

 

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s