Secangkir Cokelat Panas


Lonceng yang diletakkan di atas pintu Caffè Nero berdentang beberapa kali saat daun pintu itu dibuka oleh sesosok wajah yang kukenal. Kerah kemeja putihnya basah oleh titik-titik air hujan yang jatuh dari rambutnya. Ia menutup pintu itu lalu menepuk-nepuk beberapa bagian bajunya yang basah dan ujung celana jeans-nya yang terciprat tanah. Terlihat Koran yang sedang dibawanya kini berubah warna karena basah. Auranya pun kini senada dengan langit di luar. Kelabu.

Ia mengedarkan mata pada deretan bangku di Caffè Nero sedang mencari sosokku yang kontras dengan latar di luar. Kaus merah terang dipadukan dengan celana kargo putih.

Ia menghentikan gerakannya saat melihatku dan tersenyum.

Ah… senyum itu. Mau tak mau aku membalasnya. Senyum yang selalu membuat hatiku juga ikut tersenyum.

Ia berjalan mendekat. Membuat otakku terperangkap dalam sebuah adegan slow motion. Setiap langkah yang ia ambil membuat jantungku berdetak liar. Entah mantra apa yang digunakannya. Aku selalu saja merasakan hal ini setiap saat.

“Sendirian, Stany?” Ia bertanya.

“Kelihatannya?” Balasku dengan senyum yang kubuat berlebihan.

Ia menarik kursi dan langsung duduk di depanku.

“Cuacanya parah ya? Tiba-tiba hujan begini. Padahal kemarin-kemarin kering terus.” Katanya basa-basi.

“Iya nih, jadi macet jalanan kalau sudah begini. Eh iya, ga bareng Andre, Raf?”

Deg.

Padahal hanya sepenggal namamu.

I can’t say “I love you”
I can’t see anyone but you
Whenever my eyes meet yours
Whenever I hear your voice
I fall more in love with you
I fall in deeper despair

“Engga. Tadi aku langsung dari rumah. Kalau Andre aku gak tahu. Desainnya sudah jadi kan?”

“Delapan puluh persen, Raf. Aku nyerah deh, sisanya kalian aja ya. Owner-nya agak rewel nih sekarang, minta diganti-ganti terus desainnya.”

Aku boleh kan terus menyelipkan namamu di setiap percakapan kita?

Rafa mengangguk. “Iya, aku juga pusing. Padahal deadline-nya minggu depan.”

My heart aches
I want to touch you and get to know you better,
my feelings continue to grow…

Seorang pelayan wanita menghampiri kami. Ia menanyakan pesanan Rafa lalu menyerahkan cokelat panas yang sebelumnya telah kupesan.

“Cokelat panas lagi?” Tanya Rafa setengah tertawa.

Ia tahu tentang ketidaksukaanku pada kopi. Tetapi walaupun begitu, aku selalu cinta setengah mati pada kedai kopi. Sangat suka pada aroma harum yang tercipta tatkala kopi digiling dan dicampur dengan air panas. Sama seperti laki-laki dihadapanku…

Satu-satunya yang dapat kumiliki hanyalah aromanya. Aku tersenyum pahit sambil menyesap cokelat panas yang kupesan.

Aku menenggelamkan aromamu jauh-jauh dari kepalaku dan mencium aroma cokelat dengan rakus. Semoga saja aku pun bisa menjauhkan dia dari hatiku.

Lonceng pada pintu Caffè Nero berdentang lagi. Kami refleks langsung menolehkan kepala bersamaan. Seorang laki-laki dengan wajah yang kembali kukenal. Ia tidak mempedulikan seberapa lebat hujan di luar sana ataupun seberapa basah bajunya, ia langsung melambai pada kami dengan semangat.

“Hai, Ndre!” Rafa balas melambai pada Andre.

“Maaf, mobilku mogok. Tadi ke bengkel dulu.”

Andre langsung duduk di sebelahku dan mendaratkan sebuah ciuman sapaan di pipiku yang kini bersemu merah.

“Kamu gak nunggu aku lama kan, sayang?” Tanya Andre.

Aku menggeleng perlahan. Salah tingkah di depan mereka berdua sambil menahan perasaanku yang mulai campur aduk.

Aku memang menggenggam tangannya. Tapi sebaliknya, hatiku masih tetap menggenggammu dengan erat, Rafa. Sampai kapan aku harus mempertahankan sandiwara ini?

Hatiku menjerit.

It’s hopeless, I can’t stop my love for you
It would be perfect if we could be together forever, but…
I’m serious. I seriously love you…

***

Tulisan ini dibuat untuk Proyek #30HariLagukuBercerita. Dengan mengambil lirik lagu miwa – Kata Omoi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s