Reuni


Senyumku terkembang saat memasuki sebuah jalan masuk sekolah menengah pertama negeri di kota tempat kelahiranku, Bogor. Sudah sepuluh tahun lamanya aku tidak menginjakkan kakiku di sini. Tapi pohon-pohon besar masih tetap berdiri gagah di sepanjang jalannya. Gemersik dedaunan bersentuhan ketika angin membelainya membawaku menuju kenangan saat itu. Dimana aku selalu berlari pagi-pagi bersama dengan sahabatku, Evie. Kami tahu kami akan dihukum, tapi masih tetap saja bersenda gurau dan tertawa-tawa kecil seakan-akan masalah di depan mata saat itu tidak ada artinya apabila dibandingkan dengan waktu yang kami habiskan bersama setiap pagi.

Aku berhenti di depan pintu gerbang sekolahku. Catnya masih sama berwarna merah dengan saat itu, hanya saja warna kusamnya kini telah tergantikan. Bangunan dua tingkat yang mengelilingi sebuah lapangan masih tetap berdiri tegak sama seperti dengan ingatanku. Tempat favoritku dan Evie di pojokan antara kelas dua dan tiga masih tetap berada di sana, beserta bangku kusam yang kini semakin tua.

Sebuah spanduk besar dipasang pada dinding ruangan guru di lantai dua, menghadap gerbang masuk dan menjuntai sampai setengah tinggi bangunan di lantai satu. Selamat Datang untuk Alumni Reuni Akbar Angkatan 1986 – 2011.

Hampir di semua dinding, beraneka warna pita kertas dibentuk untuk memeriahkan acara hari ini. Para tamu undangan pun hampir seluruhnya datang, membuat suasana menjadi riuh.

Sepasang tangan menepuk bahuku pelan. “Hei.”

Aku menengok ke belakang dan menghadap orang tersebut.

“Manda kan?” Tanyanya.

Aku mengangguk mengiyakan sambil menerjemahkan garis-garis wajahnya menjadi seseorang yang kukenal dulu.

“Pasti lupa deh… Ini gue, Ratu.”

Klik. Sebuah suara dalam otakku sepertinya sependapat dengannya. Beberapa kilasan kenangan tiba-tiba muncul sesaat setelah nama itu disebut.

“Engga lupa kok. Apa kabarnya sekarang, Ratu?” Kataku menyangkal.

“Alhamdulillah baik. Waktu itu loe cuma sebentar sih sekelas bareng kita, jadi kalau loe engga inget gue juga gak apa-apa. Dulu pindah ke Palembang kan? Betah ya sampai gak balik-balik lagi ke sini.” Cerocosnya lalu diakhiri dengan tawa lepas canggung.

Aku hanya tersenyum padanya dan tidak menjawabnya sambil kepalaku terus saja celingukan kesana kemari mencari sesosok wajah. Wajah polosnya yang tidak pernah berubah di dalam ingatanku.

“Cari siapa, Da?” Tanya Ratu.

“Eh iya, ingat temen sekelas kita gak? Evie. Dia udah datang atau belum?”

“Hmm… kayanya belum deh. Coba aja tunggu.”

“Ya udah, aku jalan ke sana dulu ya.”

Aku berjalan meninggalkan Ratu menuju sebuah meja prasmanan. Mengambil salad sedikit dan mencari tempat sepi dimana aku bisa makan dan menunggu Evie.

Sebuah teriakan nyaring terdengar tak jauh dari tempatku berdiri.

Seorang wanita cantik dengan rambut hitam sepanjang bahu tengah tersenyum cerah padaku. Wajah itu tampak cocok dengan wajah sahabatku dulu. Minus kacamata tebal dan kawat gigi yang menyamarkan wajah cantiknya.

“Evie!” Teriakku.

Ia langsung berlari menyerbu ke arahku. Piring kertas yang kupegang pun hampir saja jatuh ketika ia mendaratkan sebuah pelukan dengan tiba-tiba di tubuhku.

“Manda… kangen ih.”

“Aku juga kangen nih. Sengaja jauh-jauh dari Palembang ingin ketemu dengan kamu.”

“Kirain kamu sudah lupa sama aku.” Katanya sambil memelukku lagi.

Aku balas memeluknya. Kami saling bertukar cerita. Mempersempit jarak sepuluh tahun itu seakan-akan tidak ada. Seakan-akan kami memang selama ini selalu bersama. Dan iya, aku selalu ingat kamu dan cerita kita. Tidak akan pernah lupa.

I remember…
The way you glanced at me, yes I remember
I remember…
When we caught a shooting star, yes I remember
I remember…
All the things that we shared, and the promise we made, just you and I
I remember…
All the laughter we shared, all the wishes we made, upon the roof at dawn
 

I remember…
The way you glanced at me, yes I remember.
When we caught a shooting star,
Yes I remember…
When we were dancing in the rain in that December.
And the way you smile at me,
Yes I remember…

***

Tulisan ini dibuat untuk Proyek #30HariLagukuBercerita. Dengan mengambil lirik lagu Mocca – I Remember.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s