Kalung Bintang Lingga


Aku duduk termenung di sebuah ruangan besar dan megah yang beratap tinggi, Bandara Soekarno-Hatta. Tapi di dalam tubuhku, hatiku merasa sempit dan hampa. Lima tahun. Hari berganti, wajah berubah, waktu berjalan. Tapi satu yang tidak berubah. Kenangan.

Aku pernah membaca suatu buku. Semakin lama kita hidup, sebuah kenangan akan pudar dengan berjalannya waktu. Tapi pernyataan itu meleset jauh pada kasusku. Tiap hari tidak pernah kulalui tanpa ingat pada Aga, adik kecilku. Ia hilang di bandara ini. Tubuh mungilnya tiba-tiba hilang dari pandangan mata kami sesaat sebelum kami memasuki pesawat yang akan membawa aku, Aga, mama, dan papa ke Dubai.

Semua orang di sekitarku panik. Papa membatalkan tugasnya ke Dubai, mama menangis sambil terus memanggil Aga, dan petugas bandara pun kocar-kacir mencari sosok Aga. Hanya aku yang diam mematung di dalam ruangan yang besar ini, tak tahu harus berbuat apa.

Beberapa bulan yang lalu aku menonton Hugo di bioskop bersama dengan Tiara, sahabatku. Jika saja Hugo Cabret bisa tinggal  di Gare Montparnasse -stasiun kereta Paris- maka mungkin juga adikku bisa tinggal di bandara ini dan menjalani hidupnya sambil menunggu takdir kembali mempertemukan kami. Lalu kemudian pikiran asalku itu langsung ditertawakan Tiara. Khayalanku terlalu jauh, sejauh hatiku yang terus mengembara mencari Aga.

“Lingga, tunggu di sini ya. Mama mau sholat ashar dulu.” Aku mengangguk lemah mengiyakan.

Tahun kelima dirasa sudah cukup bagi papa untuk menemukan Aga. Aku dan mama diminta untuk menemaninya di London, tempat ia menjadi duta besar di sana. Tetapi baik mama ataupun aku, sangat berat meninggalkan Indonesia tanpa Aga. Maka dari itu, hari ini sengaja kami datang lebih awal sebelum jadwal keberangkatan kami. Untuk terakhir kali, aku ingin mencari sosok Aga diantara ribuan penumpang. Sebuah harapan terakhir.

Aku menangkap sosok bocah lelaki tak jauh dari tempatku duduk, usianya kutaksir sekitar sepuluh atau sebelas tahun. Jika Aga besar, kemungkinan akan tumbuh menjadi sebesar itu. Mataku terus melekat pada bocah itu. Jemari-jemari kecilnya sibuk meraba-raba tumpukan koper-koper para tentara yang telah disusun rapi dalam troli.

Tunggu. Ia sedang apa?

Matanya menangkap aku yang sedang memperhatikannya. Ia berkedip sekali lalu kemudian memasukkan kedua tangannya pada saku celana dan berlalu pergi.

Tanpa sadar aku mengikutinya. Ada sensasi aneh yang menjalar di seluruh tubuhku. Ia berjalan cepat saat tahu aku ada dibelakangnya. Kupercepat langkahku dan kucengkram kerah kemeja birunya.

“Tunggu! Apa yang tadi kamu lakukan?” Tanyaku padanya. Ia memberontak ingin lepas dariku.

“Jawab dulu. Kamu mau mencuri ya?” Matanya langsung melirik padaku dengan sebal, tapi tanpa berkata apapun.

Mirip sekali dengan Aga.

Kusapukan jemariku di sepanjang lengannya dan terakhir, kutangkap pergelangan tangannya dengan erat.

“Jika kamu memang tidak berniat jahat. Aku akan melepaskanmu, maka diamlah dan jawab pertanyaanku. Siapa namamu?”

“Aku dipanggil Kepi.”

Nama yang aneh, pikirku.

“Dimana orangtuamu?

Kepi hanya menggeleng. Di saat yang sama aku merasakan sebuah tepukan ringan di punggungku. Dengan cepat aku menoleh. Di sana berdiri seorang anak kecil yang usianya tidak jauh dari Kepi tersenyum lebar padaku.

“Maaf kak tersenggol.” Katanya dan berlalu pergi.

Aku kembali bergerak menghadap Kepi, tapi ternyata ia sudah tidak ada. Di lantai tempatnya berdiri terdapat sebuah kalung perak berbandul bintang yang sepertinya kukenal. Kalung bintang pemberian papa yang hilang saat lima tahun yang lalu bersamaan dengan menghilangnya Aga. Aku mengambil dan menyentuh permukaannya. Rasanya memang mirip dan sama dengan kalung milikku dulu.

“Lingga, kok melamun?” Tanya mamaku membuyarkan semua.

Aku memasukkan benda itu ke dalam saku celanaku dan menjawab, “cuma lagi lihat-lihat aja, ma. Sudah lama juga kita engga ke sini semenjak…”

Aku menahan lidahku. Ekspresi riang mama berubah menjadi tak terbaca pada saat aku akan memunculkan topik tentang Aga. Buru-buru aku mengalihkan pembicaraan.

“Makan dulu yuk, tadi mama kan belum makan siang.”

Mamaku menyetujuinya lalu kami berjalan menuju restoran cepat saji dan memesan menu yang sesimpel mungkin. Tetapi pada saat akan membayar aku merasakan ada yang aneh. Aku menepuk dan merogoh semua saku dalam baju yang kukenakan hari ini. Padahal tadi jelas aku ingat, aku meletakkan dompetku di saku belakang kanan.

“Ah! Bocah tadi!”

“Ada apa, Lingga?”

“Ma, tunggu di sini aja ya. Lingga tadi menjatuhkan sesuatu, nanti Lingga ke sini lagi.”

Dengan setengah berlari aku menggerakkan badanku di sepanjang lantai licin yang terus mengeluarkan bunyi decit nyaring saat bergesekan dengan sepatu kets-ku. Aku langsung menuju tempat saat pertama kali aku melihat bocah itu. Dan betul saja, ia kini sedang meraba-raba koper para tentara tadi. Caranya tersenyum, caranya berdiri, dan caranya menggigit bibir bawahnya saat sedang gugup benar-benar mirip dengan Aga.

Apakah ini suatu kebetulan? Ataukah ini memang keajaiban. Tepat disaat kami akan mengikhlaskannya, ia datang kembali memberi warna kehidupan kami.

“Aga berhenti!” Seruku lantang.

Dengan cepat aku mendapatkan seluruh perhatian dari orang-orang yang datang ke bandara hari ini. Bocah itu mematung dalam diam, tatapan matanya berubah liar saat mendengar sepenggal nama yang kulontarkan.

“Aga, ini Kak Lingga. Kamu masih ingat kan sama kakak…”

Aku tidak bisa melepaskan kesempatan ini. Karena jika dia memang Aga dan aku beranjak pergi tanpa berbuat sesuatu. Maka pasti aku akan menyesalinya seumur hidupku.

Sebutir air mata menetes pada pipinya, kemudian diikuti dengan butir-butir lainnya yang melesak keluar dan membanjiri kedua pipinya yang kini memerah.

“Kakak benar-benar Kak Lingga?” Tanyanya ragu.

Aku mengangguk cepat. Tanganku masih menggenggam kalung berbandul bintang itu dengan keras.

“Kenapa baru sekarang mencari Aga?!” Tangisnya pecah. Aku langsung berlari menghampirinya.

Untung saja waktu itu Aga memainkan kalung ini. Untung saja dia tidak sempat mengembalikannya padaku. Jika bukan karena kalung ini, kalung yang dibuat khusus oleh papa untukku dan hanya satu-satunya di dunia ini. Kemungkinan besar aku tidak akan bisa bertemu lagi dengan Aga.

Aku mendengar suara terkesiap dari arah belakangku. Di sanalah berdiri mama sedang membekap mulutnya sambil berlinang air mata menatap tubuh kurus Aga dalam rengkuhanku.

“Aga sayang…”

Tangannya terulur pasrah, menunggu Aga mendekat dalam jangkauannya.

“Mama!” Teriaknya sambil berlari.

Kami terus berpelukan erat. Beberapa orang yang melihat kejadian itu ada yang ikut menangis haru, ada pula yang sekedar lewat dan tidak tahu dengan apa yang terjadi.

Seorang wanita memberikan sebuah sapu tangan padaku. Kutaksir ia sedang melepas pacar atau suami tentaranya untuk pergi bertugas. Ia menyentuh puncak kepala Aga sekilas dan berkata.

“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi selamat ya, kamu menemukan adikmu kembali. Tuhan itu memang ada, dan ia telah mengabulkan doamu.”

“Iya, Dia memang ada dan telah sangat baik pada kami.”

Hal yang kuketahui setelahnya dari Aga adalah ia terjatuh ke dalam conveyor belt saat sedang mencari mainannya yang tersenggol dan terjatuh ke dalam sana. Kepalanya terantuk dasar ban berjalan itu dan pada saat ia siuman, ia telah berada di ruangan lain tanpa disadari oleh diapapun. Aga sebenarnya pun waktu itu mencari kami kemana-mana, tapi ternyata kami tidak dipertemukan. Seorang temannya dan sekaligus kepala komplotan pencuri cilik menemukan dan mengajaknya tinggal bersama. Tapi sudahlah… apapun yang telah ia lalui aku tidak mempermasalahkannya. Aku hanya bersyukur ia ada. Yang lain tidaklah penting.

__________
Maaf ya kalo ff-nya ngelantur dan aneh. Hehe XD

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s