#8 Ramai


Aku memperhatikan dengan seksama seorang ibu dan anak perempuan kecilnya tengah berjalan dengan riangnya di jalanan Malioboro yang ramai ini. Beberapa kali genggaman putrinya terlepas tanpa sengaja, lalu beberapa saat kemudian mereka kembali bergandengan tangan.

Sang ibu tengah asyik dengan dunianya sendiri. Memilih beragam jenis batik berwarna-warni yang tengah dihamparkan oleh seorang pelayan toko padanya dan juga pada rombongan lainnya. Tangannya sigap memilih pakaian kebanggaan Indonesia itu. Tangan kanannya tetap saja mengaduk-aduk batik obralan itu sementara di tangan kirinya telah penuh dengan pilihannya. Kini anak perempuan itu mengalah. Ia membiarkan ibunya tenggelam dalam euforia sementara ia merasa tersesat di dunia lain. Satu-satunya yang bisa ia
anggap nyata adalah serat kasar kain celana ibunya yang ia genggam erat. Berkali-kali ia mencari perhatian ibunya dengan menarik-narik pakaiannya.

“Sebentar ya, nak. Tanggung.” Ucap ibunya berulang-ulang.

Anak itu hanya mengiyakan saja, padahal ia sepertinya tidak suka berada di antara keramaian orang dengan urusannya masing-masing.

“Ibu…” bisik anak itu pelan. Tapi suaranya tidak sampai, ibunya tetap dengan riang memilah batik.

Sebuah bus kembali memasuki pelataran parkir Malioboro tak jauh dari toko itu. Rombongan turis domestik riuh saat keluar dari bus tersebut langsung menuju toko yang saat itu memang sengaja mengadakan obral. Kulihat anak kecil itu kian mengetatkan genggamannya pada bawah baju ibunya hingga kusut.

Ia bingung melihat betapa banyaknya orang yang memasuki toko tersebut. Pundaknya bergetar saat ia terdorong-dorong oleh beberapa orang yang datang. Dan pada saat genggamannya terlepas ia menangis sejadi-jadinya. Memanggil-manggil ibunya saat tubuhnya terus terdorong dan dipisahkan dengan paksa dari ibunya.

“Ibuuu!!!” Teriaknya.

Beberapa orang menoleh padanya, tapi hanya beberapa saja yang menatap iba padanya.

“Kayla?” Akhirnya ibu itu menyadari anaknya menghilang.

“Kaylaaa?!!!” Teriakannya semakin kencang.

Anak kecil yang bernama Kayla itu kini berada di luar toko, bergabung dengan hiruk pikuk orang-orang yang sedang berjalan di Jalan Malioboro itu. Ia terhalang oleh berpuluh-puluh orang. Ia bingung, terus menerus memanggil ibunya.

Ini saatnya bagiku untuk menjalankan tugas.

Kukeluarkan sebuah sapu tangan putih dari kantong belakang celanaku. Lalu dari saku depan kuambil sebotol kloroform yang kini sisanya tinggal setengah saja. Kutumpahkan isinya pada saputangan itu secukupnya. Kemudian dengan santai aku berjalan menuju anak perempuan itu.

Dengan sigap aku langsung membekap mulutnya dan kuangkat tubuhnya yang kesadarannya mulai hilang itu dengan kedua tanganku.

Di suasana ramai seperti ini, aksiku yang terbilang ahli ini tidak akan disadari oleh orang-orang itu.

Aku menenteng anak perempuan itu dalam pelukanku. Aku terlihat sempurna seperti seorang ayah yang sedang menggendong putrinya yang kelelahan.

Lumayan… Anak ini cantik. Kalau kujual, aku akan dapat uang banyak. Pikirku singkat.

Protected by Copyscape Online Copyright Checker

Ide cerita ini dibuat karena sekarang semakin banyaknya ibu-ibu yang kurang peduli pada anaknya saat sedang berbelanja. Beberapa kali anaknya dibiarkan tanpa penjagaan, terus terang bikin gw sebel liatnya. Kalau anaknya diculik baru aja sadar dan nyesel >.<

Advertisements

4 thoughts on “#8 Ramai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s