#7 Biru, Jatuh Hati


Pada perairan dangkal tempat berkumpulnya karang-karang aku terpesona pada sebuah sosok manusia. Ia tengah berdiri menghadap laut sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Kemeja putihnya bergoyang-goyang tertiup angin, dan begitu pula dengan rambut hitam pendeknya. Dengan berlatarkan langit biru hari itu, aku jatuh hati padanya.

Hampir setiap hari aku pergi ke pesisir Pantai Pangandaran dengan tujuan yang sama, melihat kembali sosoknya yang menyatu dengan langit. Tapi entah mengapa hari ini aku tidak melihatnya, ia tidak berdiri di tempat itu. Jejak kaki pada pasir pun tidak ada. Entah karena telah hilang tersapu ombak, atau memang ia sama sekali tidak menjejakkan kakinya di sana.

Aku berenang di sekitar pantai, mencari sosoknya kesana kemari. Pikiran yang selalu kuenyahkan dari pertama kali ku melihatnya kembali hinggap.

Jika ia muncul secepat datangnya. Maka mungkin ia pun akan hilang dalam sebuah kedipan mata.

Aku menggeleng cemas. Belum cukup aku melihatnya, aku ingin bertemu dengannya kembali. Karena sejak bertemu dengannya, impian yang kuanggap tak ada kini muncul kembali.

“Karin!” Suara yang kukenal membuyarkan lamunanku.

“Medea? Kenapa kamu tahu aku ada di sini?” Tanyaku heran.

“Aku berenang mengikutimu sejak tiga hari yang lalu.”

Aku menelan ludah dengan susah payah.

“Ratu mencarimu. Ia bilang area ini terlarang mulai hari ini bagimu.” Lanjutnya.

Aku tertunduk lemas sambil menggenggam seutas rambutku yang berwarna pirang keemasan, “Aku kan tidak salah apapun…”

“Paduka ratu tahu, Karin. Kamu telah jatuh cinta dengan seorang manusia. Ia sengaja membuat larangan itu supaya kamu tidak membocorkan dunia kita.”

“Aku tidak akan memboc…”

“Sudah cukup. Ikutlah denganku, ia tidak pantas denganmu. Temukanlah lelaki baik dari bangsa duyung. Itu takdirmu. Takdir kita.”

Jika saja dongeng yang beredar di dunia manusia itu benar. Aku sungguh akan memberikan suaraku hanya agar bisa menjadi manusia dan bersama denganmu. Atau kah kini aku lebih dahulu menjadi buih karena hatiku telah hancur sedikit demi sedikit saat aku pergi meninggalkan Pantai Pangandaran ini?

Takdir. Jika saja aku bisa mengubahnya, aku ingin bersamanya…

Protected by Copyscape DMCA Takedown Notice Violation Search

Gak sengaja bikin dongeng remake Putri Duyung, semoga bisa diterima 😄

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s