#6 Sehangat Serabi Solo


Aku berdiri dengan cemas di gerbang Stasiun Solo Balapan, menunggu seseorang yang sama sekali belum pernah kutemui. Komunikasi kami hanya terjalin lewat dunia maya dan pesan singkat saja selama setahun ini, walaupun kadang sesekali kami pun saling menelpon. Tapi selebihnya, aku hanya pernah melihat wajahnya pada sebuah layar dua dimensi saja.

Kemudian pada saat ia menelponku dua hari yang lalu aku sangat terkejut. Ia tiba-tiba akan mampir sebentar di Surakarta sebentar, setelah menyelesaikan tugasnya di Jogja. Perjalanan dari Stasiun Lempuyangan ke Stasiun Solo Balapan mungkin hanya sekitar satu jam saja. Tetapi tetap saja, aku datang lebih awal dengan jantung berdebar-debar dan perasaan gugup yang tidak bisa kuhilangkan.

Aku sudah sampai. Kamu dimana?

Sebuah pesan singkat muncul di layar ponselku. Aku langsung membalasnya.

Di dekat pintu keluar. Pakai topi merah.

Sengaja kutekankan salah satu barang yang kukenakan sekarang padanya, agar ia bisa langsung mengenaliku dengan topi merah pemberiannya sebulan yang lalu. Topi yang sama dengannya.

Ia selalu saja mengejutkanku dengan sebuah paket tanpa nama di depan pintu rumahku. Sampai pada awalnya, mama merasa ketakutan ketika menerima paket darimu saat kurir jasa pengiriman barang datang membawanya. Tapi kemudian, beberapa hari kemudian aku melihat kamu memakai topi yang sama dengan yang kuterima pada sebuah foto di jejaring sosial. Men-tag-ku dan memasang peace sign di foto itu.

“Shara?”

Jantungku melonjak saat ia memanggil namaku.

“Rafa?”

Kemudian ia mengangguk singkat sambil menunjukkan sederet giginya yang rapi dan tersenyum lebar.

Ia mengelus sekilas pundak kepalaku sambil berkata, “akhirnya… aku ketemu kamu juga.”

Ia menggiringku keluar stasiun sambil menggandeng tanganku tanpa meminta persetujuan dahulu dariku, tapi bukannya marah aku malah membiarkannya saja.

“Kita mau kemana?” Tanyanya.

“Loh… kamu mau apa ke sini? Masa gak tahu?” Balasku.

“Hmm… kalau mau beli batik? Buat orang rumah nih.”

Aku tersenyum padanya, “ke Pasar Klewer aja. Cuma lima belas menit dari sini.”

Kami langsung menuju Pasar Klewer setelah aku menyarankan padanya. Pasar Klewer adalah pusat batik yang lumayan lengkap di Solo. Biasanya para wisatawan sering membeli batik di sana.

“Bagus ya batiknya. Jadi bingung pilihnya.” Kata Rafa.

“Ya kamu tinggal pilih aja yang paling bagus.”

“Pilihin dong…” Bujuknya.

Lalu kesibukanku memilih batik pun dimulai. Beberapa potong akhirnya berhasil aku pilihkan untuk oleh-oleh keluarganya.

“Eh lapar nih. Ada yang bisa dimakan gak ya di sekarang sini?” Tanya Rafa.

“Ada. Ke mbok tukang serabi langgananku yuk. Gak jauh dari sini, lumayan sejalan juga ke stasiun.” Saranku.

Kami berjalan ke tempat itu tak lama. Serabi panas dan sebotol air mineral cukup untuk mengisi perut kami yang kosong.

“Aku senang… ketemu kamu.” Ucapnya tiba-tiba.

“Aku juga.” Balasku malu-malu.

“Lain kali, kamu ya yang ke jakarta. Sekalian dikenalin sama keluargaku.” Lanjutnya.

Aku hanya tersipu malu sambil mengangguk dengan pelan. Ia lalu menggandeng tanganku di warung serabi itu, tanpa peduli orang lain memandang kami dengan lucu.

Advertisements

2 thoughts on “#6 Sehangat Serabi Solo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s