#1 Menunggu Lampu Hijau


“Ayo dong, Pram. Cepet jalannya.” Desak Ayu pada Pram.

“Bentar, aku capek nih. Atau kamu duluan aja deh.”

“Jadi cowok kok lemah sih.” Ejek Ayu sambil menjulurkan lidahnya.

Padang memang sedang panas-panasnya. Rasa lelahnya mulai terasa. Kepalanya berdentam-dentam gara-gara kurang tidur semalam, lalu ditambah lagi setelah Pram tiba di Jakarta dari Makassar, ia harus kembali terbang selama kurang lebih satu jam menuju Padang.

Tidak sampai disitu. Setibanya di bandara, Ayu langsung menyeret Pram menuju Jam Gadang di cuaca seterik saat ini.

“Yang lemah itu siapa. Gak inget apa, aku baru aja sampai di Jakarta udah diseret lagi ke sini.” Goda Pram.

Orang yang merasa disindir hanya tersenyum saja sambil terus memamerkan deretan gigi putihnya dengan polos.

“Lagian mau aja aku ajak-ajak.” Ayu membela diri.

“Demi siapa coba? Ngapain juga repot-repot kalau bukan karena…”

Cinta. Lanjut Pram dalam hati.

“Karena apa?” Tanya Ayu dengan penasaran.

“Karena dipaksa!” Jawab Pram ketus.

Ayu tertawa terkikik, ia mengeluarkan kamera saku berwarna pink-nya dari saku ranselnya.

“Nih. Foto aku ya. Janji harus bagus hasilnya.” Perintah Ayu tanpa menghiraukan kekesalan Pram.

Pram menghembuskan nafas panjang, “dasar gak peka.” Bisiknya pelan.

Ayu berpose ceria di bawah Jam Gadang yang gagah berdiri sebagai kebanggan Kota Padang. Beberapa lembar foto berhasil diambil oleh Pram pada kamera saku Ayu.

“Mana aku mau lihat hasilnya.” Ayu menyerbu Pram dan kamera sakunya.

Pram langsung menyodorkan kamera itu dengan cepat pada Ayu, lalu berbalik pergi menjauhinya. Seketika, hal itu membuat Ayu kaget. Tidak seperti biasanya Pram bersikap seperti ini. Semanja apapun Ayu, selalu saja diterima dengan baik oleh Pram. Bahkan sebagian besar permintaannya, selalu dikabulkan oleh Pram.

Pernah suatu kali, saat itu Pram dan Ayu sedang berjalan-jalan di sekitar daerah Pondok Indah. Dengan impulsifnya Ayu tiba-tiba ingin memakan bakso di Bandung. Semua rengekan Ayu langsung Pram lakukan hanya dengan sebuah anggukan pasrah dan mereka pun langsung berangkat ke Bandung saat itu juga. Hal itu pun tidak berakhir sampai di situ, beberapa kali Ayu terus saja melakukan hal yang sama pada Pram. Sampai kali ini… menyeretnya tanpa ampun pergi ke Padang hanya untuk melihat Jam Gadang langsung.

Ayu tahu ia salah. Tapi itu semua ia lakukan hanya agar bisa terus bersama Pram. Membuat kenangan sebanyak-banyaknya dengannya.

“Pram. Tunggu dong.” Panggil Ayu.

Pram terus saja berjalan tanpa menoleh ke belakang.

“Pram, kamu kenapa?” Ayu akhirnya berhasil menyusul Pram dan menarik tangannya.

Tapi Pram hanya diam saja. Ia terus saja memandang ke arah lain tanpa mau melihat Ayu.

“Maaf deh… aku tahu kamu pasti capek. Dengan egoisnya langsung beli tiket ke sini tanpa biarkan kamu istirahat dulu.” Sesal Ayu.

Pram masih saja diam.

“Pram, maaf…” isak Ayu yang tiba-tiba menangis.

“Bodoh, malah nangis lagi.” Ucap Pram sambil mengelus kepala Ayu pelan dan menarik tubuhnya dalam dekapannya.

“Jangan marah dong.” Rengek Ayu sambil mengetatkan pelukannya pada Pram.

“Ih geer, yang marah siapa coba. Aku lapar tahu, di seberang sana ada nasi padang. Aku belum makan dari semalam.” Aku Pram sambil tertawa meledek.

“Kamuuu jahatttt… kirain marah!” Dengan cepat Ayu melepaskan tangannya dan berjalan menghentak-hentak menuju warung nasi padang itu.

Sinyal lampu kuning itu kini sepertinya akan mulai berganti hijau. Sepertinya Ayu pun menaruh hati padaku. Ucap Pram dalam hati.

“Yuk ah makannnnn!” Ajak Pram riang.

Protected by Copyscape Web Plagiarism Detector

Advertisements

9 thoughts on “#1 Menunggu Lampu Hijau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s