Kembali


Mia menoleh kembali ke belakang. Ia jelas-jelas sadar bahwa dirinya sedang diawasi olehku. Ia kembali melihat jalanan di belakangnya kosong tanpa ada satu orang pun berjalan di trotoar jalan itu. Nafasnya tertahan, ia langsung berbalik kembali dan berjalan cepat-cepat menuju sebuah bangunan apartemen berlantai tiga dengan dinding putih kotor yang kini terlihat berwarna abu-abu.

Ia menaiki tangga depan apartemen itu sebelum akhirnya masuk ke dalam pintu depan. Aku kembali mengikutinya. Aku berjalan pelan masuk ke dalam apartemen itu. Terdengar langkah berat sepatu Mia berjalan menapaki tangga satu per satu. Aku pun mengikutinya.

Di lantai dua aku berpapasan dengan seorang lelaki paruh baya dengan jenggot putih lebat menghiasi wajah tirusnya yang keriput. Ia jelas-jelas tidak bisa melihatku. Bahkan saat aku berjalan melewatinya, ia terus saja berkutat dengan lintingan tembakaunya.

Ceklek.

Sebuah kunci dimasukkan dalam lubang untuk membuka pintu  apartemen Mia yang langsung terbuka pada saat itu juga. Dengan cepat ia langsung masuk dan membanting pintu dengan keras.

Sudah sejak enam bulan yang lalu Mia berulang tahun yang ke tujuh belas. Angka itu merupakan angka ajaib jika berada di tempat penampungan yatim piatu. Angka itu pun seolah-olah menjadi satu-satunya tiket kebebasan untuk keluar dari penampungan dan melihat dunia luar dibalik pagar tinggi yang mengelilingi bangunan tua yang selama ini mereka pikir adalah rumah sementaranya.

Aku berjalan menuju pintu apartemennya. Tidak ada masalah denganku akan sekat-sekat pembatas di dunia fana ini. Karena dengan kemampuan kami, semua sekat akan bisa kami lewati dengan mudah jika saja tidak sedang dimantrai.

Sebuah lorong dengan pencahayaan yang remang-remang kini tergantikan dengan ruangan hangat dan rapi dengan pencahayaan yang terang. Aku melihat Mia sedang mengeluarkan isi kantong belanjanya dan memindahkan isinya pada sebuah kotak putih persegi yang semua makhluk fana bilang lemati pendingin.

Ia kembali membeku di tempatnya berdiri saat aku mendekatinya dengan perlahan. Tabir pelindung ini sudah kupasang rapi agar ia tidak bisa melihat sosokku.

Jika saja kami bisa mengeluarkan emosi, perintah mengikuti Mia adalah sesuatu yang membuatku lega jika dibandingkan dengan tugas menjaga seseorang makhluk fana lain yang belum kukenal.

Mia mengusap lengan atasnya perlahan dan mengetatkan sweater tipisnya. Ia lalu kemudian berjalan menuju ruangan lain yang kutaksir adalah kamarnya. Ketika aku telah berada di kamarnya, ia tengah duduk pada sebuah kursi sambil menghadap sebuah kaca besar dan mulai menghapus make-up yang menempel pada wajah indahnya.

Aku kembali mendekatinya, tapi kali ini ia tampak tidak menyedarinya. Ia terus saja mengusapkan sebuah kapas pada wajahnya secara perlahan. Sampai tiba-tiba aku berdiri di belakangnya…

Bibirnya membulat kaget, matanya membelalak lebar, dan kapas itu jatuh tanpa tertahan pada lantai keramik yang dingin. Aku pun terguncang, bagaimana bisa sosokku terpantul sempurna pada cermin itu. Sayapku putihku kini terkembang dengan sempurna menggantikan warna hitam sayap seorang malaikat terbuang.

“Rafael.” Bisiknya pelan.

Aku tersenyum padanya.

“Halo, Mia.”

Protected by Copyscape Web Plagiarism Check

Baca juga cerita lain Rafael dan Mia di sini:

Lost and Found

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s