Dua Puluh Dua


Dua puluh satu…

Kurang satu lagi untuk menggenapkan bilangan itu. Tapi disaat aku telah selesai menggenapkannya, aku kembali ingin menggandakan bilangannya.

Cairan merah pekat mengalir deras melewati daguku dan menetes pada kemejaku yang berwarna putih. Aku memandang pada sesosok mayat yang kini menatap kosong kepadaku. Dua bulan sebelum ini, aku sama sekali tidak berniat untuk merenggut nyawanya. Dua bulan sebelumnya, kemungkinan angka dua puluh satu akan menjadi akhir dari hasratku.

Kuputar kembali memori di kepalaku, tentang serangkaian film pendek yang kupikir sekarang hanya menjadi sebuah fantasi belaka.

Dua orang manusia sedang duduk dengan riang pada sebuah bangku taman sambil terus saja menjilati tetesan es krim yang meleleh pada tangannya. Seorang orang anak kecil dan seorang wanita dewasa. Matahari sedang bersinar dengan terik-teriknya di tengah hari ini. Tetapi mereka masih saja berceloteh riang walaupun butiran keringan mengalir deras membasahi pakaian mereka.

Manis.

Aku merasakan sensasi rasa manis semu saat membayangkan darah yang mengalir pada nadinya mengalir pelan melewati tenggorokanku.

Jika saja dia sendirian di taman itu.

Jika saja saat ini adalah malam.

Jemari kukuku menancap kuat pada sebatang pohon tempatku mengawasinya. Dia akan menjadi yang kedua puluh dua.

***

“Mau pesan apa, pak?”

“Kopi. Tanpa gula.”

“Baik. Segera diantar kopinya.”

Wanita itu berjalan pergi meninggalkan mejaku setelah menuliskan satu-satunya pesananku yang digoreskan pada buku catatannya. Dia melirik kembali kepadaku. Mencuri kesempatan untuk melihatku lagi. Tatapannya tanpa curiga dan juga… tanpa pertahanan. Ya. Pertahanan. Semua wanita memang akan cepat sekali luluh padaku dan membuka lebar-lebar pertahanannya.

Dengan waktu yang singkat saja, wanita itu kembali berjalan ke arahku sambil membawa sebuah baki bundar yang diatasnya adalah kopi pesananku.

“Silakan diminum.”

Ia meletakkan cangkir itu tepat dihadapanku. Lalu kemudian sambil melirik ke kiri dan ke kanan, ia menaruh sebuah kertas kecil tak jauh dari jangkauan tanganku.

“Hubungi aku.” Bisiknya hati-hati.

Begitu saja? Ternyata sasaran kali ini sangat mudah di dapat.

Aku melempar senyuman malas padanya, “lihat saja nanti…”

***

Wanita itu akhirnya memberitahu padaku bahwa namanya adalah Giselle. Dia duduk manja dengan kedua tangan melingkari tubuhku. Kumatikan rokok ketigaku hari ini dan kutatap lekat-lekat kedua matanya.

Biasa saja. Tidak ada sedikitpun mantra di sana. Tapi entah mengapa, kali ini pertahananku yang runtuh? Apakah mungkin dua puluh satu menjadi angka terakhir bagiku?

Baru kali ini aku berada dalam sebuah zona nyaman. Sampai-sampai kemarin bibirku terpeleset menyebut tempat ini sebagai rumah. Padahal sudah lama sekali bagiku tempat bernama rumah itu menghilang.

“Mas, Rafi perlu diajari naik sepeda nanti sore. Mau ya menggantikan aku mengajarinya, aku harus masuk kerja hari ini.” Pintanya manja saat membicarakan anak semata wayangnya.

Kepalaku tiba-tiba pening. Entah bagaimana, dua manusia ini bisa mempengaruhiku terlalu dalam. Siapa sangka naluri haus darahku menyusut cepat.

“Iya…” Jawabku.

Pasrah.

***

“Buka mulutmu. Atau aku yang akan membantu membukanya dengan pisau ini.” Kataku dingin.

Ia kembali menangis terisak. Maskara hitamnya kini sudah meleleh tidak karuan pada kedua pipinya.

“Lima. Mas yang kelima.” Akhirnya ia berbicara.

“Dimana kamu membuang mayat mereka saat sudah menguras habis harta mereka?”

Ia diam dalam balutan gaun kuning pucatnya.

“Jawab, Giselle.” Ulangku.

Wajahnya tersentak saat menyadari nada suaraku yang menajam.

“Di dalam hutan. Tak… jauh dari rumahku.”

Aku tersenyum. Sebuah pikiran yang tiba-tiba saja terlintas membuatku geli. Ternyata semua kenyamanan yang aku rasakan ini adalah karena ia pun sama denganku. Kami sejenis.

“Berbanggalah. Karena kau berakhir di tanganku.” Kataku sambil menyentuh pelan ujung mata pisau yang kupegang dengan jari telunjukku. Dengan perlahan cairan merah itu melesak keluar dan kubiarkan menetes. Lalu dengan cepat kuhisap dan kucicipi.

Manis. Selalu dengan rasa manis yang sama.

“Sampaikan salamku pada keempat lainnya.”

Dua puluh satu…

Dan sebentar lagi akan menjadi dua puluh dua.

Protected by Copyscape Web Plagiarism Software

Dibaca juga flash fiction lainnya dengan paragraf pembuka yang sama, tapi dengan versi yang berbeda karya @teguhpuja di sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s