Tidak Sendiri


Dengan tidak sabaran, Alika menggeledah seluruh isi tasnya. Kecemasan dalam hatinya semakin bertambah, meski benda yang dicarinya telah ditemukan.

“Yah, mati.” Alika kecewa. Ia mencoba mengaktifkan ponselnya, namun tak bisa. Baterainya telah habis.

“Aku tak boleh panik.” ujarnya sambil menarik napas panjang, menenangkan diri. “Pikirkan sesuatu.” gumamnya.

Ia berjalan di depan deretan gedung tua yang sudah tak terpakai lagi. Sepi, benar-benar sepi. Sebenarnya ia datang bersama teman-teman fotografinya untuk mengambil beberapa gambar gedung tua tersebut. Namun ia terpisah dari teman-temannya, karena Alika lebih suka mengambil gambar sendirian.

Komplek gedung tua tersebut memang cukup besar, sehingga Alika kebingungan mencari jalan pulang. Ditambah lagi, ia tidak mengenal sama sekali tempat itu.

Setelah ia melihat dengan lekat deretan gedung tua itu, ia memasukkan kembali ponselnya pada tasnya. Ia memutuskan akan menyusuri jalan yang dilaluinya tadi saat datang. Sesekali ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Siapa tahu ada seseorang di sini yang bisa ia mintai tolong.

Ia terus berjalan berputar-putar, tidak bisa menemukan titik awal tempat dimana mereka akan bertemu setelah dua jam mengambil gambar. Padahal hanya tinggal dua puluh menit lagi ia dan teman-temannya harus kembali ke kota.

Sesuatu disadarinya sekarang. Bungkusan permen yang tadi dibuangnya, kini muncul lagi di hadapannya. Tenyata ia kembali ke tempat tadi ia mulai berjalan. Ketenangan yang tadi ia ciptakan mulai memudar. Serangan panik tiba-tiba menyerangnya.

Ia berputar, mencoba kembali ke jalan yang pernah ia lewati saat mengambil gambar tadi. Ia kembali mencoba membangun ketenangan dalam kegelisahan yang semakin memuncak. Ia amati betul-betul jalan itu, mencoba mengingat apakah ia pernah melewati jalan tersebut atau tidak.

“Ah, aku tau,” Alika berhenti sebentar, mengambil kamera dan menyalakannya. Ia buka file-file gambar yang baru saja ia ambil di komplek gedung tua tersebut. Ia mengamati sekitar, kemuian melihat gambar dalam kameranya. Mencoba mencocokkan hasil jepretannya dengan lingkungan sekelilingnya.

“Dengan melihat gambar-gambar ini aku bisa kembali ke tempat awal aku bersama teman-temanku,” ujarnya menenangkan diri.

Emosinya melambung sesaat. Ia merasa bisa kembali ke tempat mereka berjanji tepat waktu.

Langit sedikit demi sedikit mulai menggelap. Terang akan terserap oleh malam. Ia mempercepat langkahnya sambil matanya terus terpusat pada layar kamera digitalnya.

Tiba-tiba matanya menangkap sesosok bayangan manusia, sedang berdiri dan mengamatinya tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan cepat jantungnya mulai berdebar kencang. Ia pun mulai mencari senjata pertahanan jika seseorang itu berniat jahat.

Tapi ternyata ia tidak memiliki sebuah benda pertahanan apapun.

Alika meneruskan langkahnya kembali, sambil secara berulang terus melihat ke arah sosok itu mengamatinya. Tapi ia sudah tidak berada di tempat terakhir ia melihatnya. Seharusnya ia lega, tapi entah mengapa perasaannya malah merasakan hal yang sebaliknya.

Sementara tangan kirinya memegang kamera, tangan kanan meraih tas dan membukanya. Mencari-cari benda yang selalu berada dalam tasnya kemanapun ia pergi. Pepper spray. Merasa tak nyaman dengan adanya sosok bayangan manusia yang sedang mengamatinya, Alika mempersiapkan pepper spray miliknya. Tapi dalam hatinya masih berharap jika sosok tersebut adalah orang baik yang bisa ia mintai tolong.

Apakah aku harus menghampiri dan bertanya kepadanya? tanyanya dalam hati. Hatinya masih bimbang. Di satu posisi ia memerlukan bantuan seseorang agar bisa kembali ke tempat semula bersama teman-temannya. Tetapi di sisi lain, ia curiga akan sosok tersebut. Khawatir sesuatu yang buruk akan menimpanya jika bertemu sosok tersebut.

Dengan tiba-tiba dan cepat seseorang mencengkram lengannya dan memuntirnya ke belakang. Alika mengaduh dengan raungan keras. Ia merasakan seseorang itu kemuian membekap mulutnya dengan sebuah sarung tangan. Dari sarung tangan itu tercium bau yang aneh, dan menyisakan rasa getir di pangkal tenggorokannya.

Dengan cepat ia merasakan kepalanya pusing dan berat. Ia tidak punya tenaga lagi untuk menengok ke belakang. Melihat seseorang yang telah menyebabkannya seperti ini. Tak lama kemudian, Alika kehilangan kesadarannya.

***

Alika terbangun di dalam salah satu ruangan dalam gedung tua yang pembangunannya baru setengah jadi. Tangannya kebas dan tidak bisa digerakkan. Suasana dalam gedung itu hening. Ia baru menyadarinya, lingkungan di gedung tua itu seperti kota mati. Tanpa ada kehidupan sama sekali, kecuali seseorang yang menculiknya.

Tunggu… Aku diculik?! Jeritnya dalam hati.

Ia mulai bergerak-gerak dengan panik, siapa tahu simpul yang mengikat lengan dan kakinya bisa terlepas. Tapi ikatan itu begitu kuat membelenggu.

Ia mulai merasakan air matanya mengalir deras tanpa dapat ia kontrol. Dan debaran jantungnya… sedari tadi sudah melompat-lompat tidak karuan.

Tuhan, tolong aku.

Di saat yang sama, Alika melihat sosok itu datang. Lama kelamaan ia melihat perwujudan seorang wanita paruh baya dengan sorot mata tajam sedang meneliti tubuhnya sejengkal demi sejengkal. Di samping tubuhnya, ia genggam sebuah kapak besar yang bagian tajamnya tertutuppi oleh karat kecokelatan.

Wanita itu tersenyum kejam. Dan Alika tahu, bahwa dirinya kini sedang dalam bahaya besar…

Protected by Copyscape Online Copyright Search

Tulisan duet bareng Arum (@aiiyuum). Waktu itu sempat terbengkalai karena belum selesai. Terus daripada cuma disimpen aja di laptop, mending di publish. Siapa tau ada yang mau baca… hehe πŸ˜€

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s