Dejavu


Sehelai daun kamboja gugur dan jatuh meliuk-liuk perlahan sebelum akhirnya mendarat mencium tanah. Sepasang burung gereja terbang rendah lalu kemudian bersenda gurau di salah satu batang pohon kamboja itu. Aku menikmati film singkat itu sambil menyesap teh hangat di sebuah kafe kecil yang kebetulan tadi kulewati. Tempatnya agak tersembunyi dari jalanan, terhimpit diantara bangunan tinggi sebuah bank pemerintah dan dekorasi meriah sebuah mini market. Kuambil kue cokelat yang tadi kupesan dan mengunyahnya perlahan. Sensasi pahit teh tiba-tiba tergantikan dengan manisnya kue cokelat. Sebuah kombinasi yang aneh, tapi entah mengapa aku suka.

Ponsel yang sedari tadi kubiarkan tergeletak di meja kini bergetar. Sebuah panggilan masuk disertai dengan munculnya foto seseorang yang kukenal pada layar ponsel itu. Kutekan tombolnya disertai dengan tarikan nafas panjang.

“Halo, Dita.” Sapaku.

Sebuah suara di seberang sana langsung saja menimpali dengan cepat, “Dhea! Akhirnya diangkat juga. Gimana? Mau kan?”

“Engga. Pokoknya sekali engga, tetap engga. Aku gak mau dijodohin. Kaya jaman Siti Nurbaya aja.” Kataku yang kesekian kalinya pada Dita.

“Mau dong. Kamu kan belum tahu Irham. Kalian pasti cocok kok.” Dita memotong perkataanku.

“Engga. Titik.”

Langsung saja kutekan tombol ‘end’ dan kulemparkan ponsel itu ke dalam tasku. Dengan cepat aku langsung berdiri dari kursiku dan berjalan menuju pintu kafe itu.

Pada saat aku membuka pintu kafe itu, tiba-tiba angin berhembus kencang sehingga menerbangkan dedaunan pohon kamboja yang berguguran di tanah. Di saat yang sama, aku melihat seorang lelaki di dalam mobil jeep sedang menatap ke arahku. Pandangan kami terkunci selama beberapa detik, sampai akhirnya lamunan kami terganggu oleh suara klakson mobil di belakangnya yang tidak sabar menunggunya bergerak. Aku merasakan sebuah dejavu saat mata kami saling bertatapan.

Dengan cepat aku menggeleng. Aku pun kembali melangkah membawa tubuhku menjauh dari kafe itu dan berjalan memasuki sebuah toko buku tua yang beberapa kali kudatangi, masih di jalan yang sama dengan kafe yang tadi kudatangi.

Saat kubuka pintu kaca toko buku itu, seketika angin dari AC menerbangkan aroma khas buku lama yang sangat kusukai. Membawa kenangan tentang loteng rumah pada saat ku kecil, tempat ayah menaruh semua buku-buku koleksinya.

Sebuah senyuman diberikan padaku  dari wajah manis penjaga toko buku itu. Aku pun langsung menuju sudut tempat terakhir kali melihat novel karangan Sir Arthur Conan Doyle yang beberapa bulan belakangan ini aku cari. Terakhir kali saat datang ke toko buku ini, sebuah panggilan telepon membuatku melupakannya dan langsung bergegas pergi meninggalkan tempat ini. Saat dimana aku mendengar kabar terakhir kali tentang ayah yang telah pergi ke dunia langit meninggalkan kami semua.

Pintu kaca terbuka lebar, menggoyangkan lonceng yang berdenting-denting dengan ramai. Seorang lelaki berkaus putih memasuki toko dengan membawa sebuah kotak sebesar dus mie instan langsung berbicara dengan penjaga toko yang tadi menyambutku datang. Ia menyerahkan dus itu setelah berbicara beberapa patah kata.

Pandanganku kembali beralih pada deretan buku yang tersusun rapi di depanku. Kubuka dan kucari buku itu, tetapi buku itu ternyata tidak ada di tempat terakhir kali aku melihatnya. Dengan perasaan sedikit kecewa aku berjalan menuju meja kasir.

“Maaf, mbak. Buku The Adventures of Sherlock Holmes masih ada gak ya?”

Dua orang yang tampak sedang memilah-milah buku dari sebuah kardus itu berpaling ke arahku. Wanita penjaga toko langsung menjawab pertanyaanku, “di sini memang hanya menjual buku bekas. Jika tidak ada di rak, kemungkinan sudah terjual.” Jawabnya ramah.

Lelaki berkaus putih melihat ke arahku dan memulaskan sebuah senyuman singkat. Bagian depan kausnya agak kotor karena terkena debu yang menempel di kardus yang dibawanya. Kini aku tahu, ternyata isi kardus itu adalah buku. Banyak sekali buku…

“Kalau begitu, makasih deh mbak.” Kataku pada wanita itu.

Aku melangkah melewati lelaki berkaus putih itu. Ia masih berdiri membelakangiku saat aku melangkah menuju pintu kaca. Tiba-tiba arah angin dari AC menerbangkan beberapa aroma yang menggugah indera penciumanku. Tanpa sadar aku menutup mata.

Aku menghirup wangi biji kopi yang baru saja digiling bercampur dengan aftershave, dan sedikit wangi kayu manis mengambang di udara.

Dengan cepat aku menggelengkan kepala. Untuk yang kedua kalinya aku mengalami dejavu kembali. Merasakan semua aroma tersebut sangat familier denganku.

Aku membuka cepat kenop pintu kaca di toko buku itu. gerakanku yang tiba-tiba membuat lonceng kembali riuh. Aku kembali mendapatkan perhatian lelaki berkaus putih itu. Pandangan kami kembali terkunci.

Ah! Lelaki yang di jeep hijau tadi!

Ia kembali tersenyum padaku saat aku mulai melangkah keluar, membuatku geli dengan kebetulan kedua ini.

Ponselku kembali bergetar. Dengan cepat aku mengangkatnya.

“Dhea. Aku sudah di Amarilis, cepat ke sini.” Ucap sebuah suara di ujung sambungan langsung berbicara tanpa repot-repot menungguku mengucapkan salam.

“Iya… iya. Ini lagi jalan ke sana kok.”

“Oke. Cepat ke sini.” Perintahnya lagi.

“Iya.” Jawabku sambil menutup telepon dan berlari-lari kecil menuju Restoran Amarilis di ujung jalan yang letaknya hanya beberapa puluh meter saja.

Aku melewati sekelompok remaja yang sedang asyik bersenda gurau sambil memakan es krimnya yang setengah meleleh di trotoar jalan. Mereka mengingatkanku pada masa-masa sekolahku dulu. Bebas, lepas, bahagia, tanpa masalah apapun…

Kemudian aku berpapasan dengan sepasang suami istri yang sudah tidak muda lagi sedang berpegangan tangan dengan mesranya sambil terus saja menceritakan tentang cucu kesayangannya yang baru saja lahir. Momen itu… mungkin akan kulihat pada kedua orang tuaku jika saja ayah masih bersama kami. Aku menggelengkan kepalaku. Menghalau butiran air mata yang sebentar lagi melesak keluar jika aku teringat kembali tentang ayah.

Aku teringat akan kata-kata terakhirnya padaku.

“Raihlah mimpimu dan temukanlah cintamu. Maka kamu tidak perlu lagi semua harta di dunia ini, karena semua kebahagiaan sudah ada dalam genggaman tanganmu.”

Aku baru separuh jalan, ayah. Karena cintaku, sebentar lagi mungkin akan datang padaku. Batinku.

Sebuah ukiran indah dipahat dengan hati-hati dan sangat rapi pada sebuah papan kayu yang berbunyi Amarilis. Bangunan tua bergaya arsitektur Belanda itu, masih berdiri dengan sangat indah di tengah-tengah kota Jakarta yang modern. Aku mencari sosok Dita saat memasuki restoran itu. Dan ternyata tidak sulit, Dita berada tidak jauh dari pintu masuk dan sedang tersenyum cerah padaku.

Aku melangkah mendekatinya.

“Halo.”

“Dhea! Akhirnya sampai juga. Kamu lama banget sih.” Balas Dita sambil berdiri, kemudian merangkul dan menempelkan kedua pipi kami silih berganti. Sebuah salam khas perempuan.

“Tadi kan katanya jam 1. Kamu aja yang tiba-tiba mempercepat waktunya.”

“Iya… iya, maaf. Tadi meeting-nya cepat.” Potong Dita tidak mau kalah.

“Ngomong-ngomong. Gimana Irham? Mau kan aku kenalin sama dia.” Lanjut Dita.

Aku mendengus sebal, “Irham lagi. Kayanya kamu deh yang naksir sama dia. Setiap hari sampai berpuluh-puluh kali ngomongin dia.”

Dita tertawa terbahak-bahak.

“Maaf ya, aku sudah punya Adri. Titik. Gak pake koma.”

Kami memulai kembali rutinitas seperti biasanya saat bertemu. Bercerita tentang keseharian, keluarga, pekerjaan, gosip, musik terbaru, dan lainnya tidak ada habisnya.

“Dhe, sori ya… aku harus jawab telepon ini. Bos aku soalnya.” Jelasnya saat sebuah panggilan masuk mendarat di ponsel pintarnya.

Aku mengangguk saja mengiyakan, lalu dengan cepat Dita berdiri dan mencari tempat yang nyaman untuk menjawab panggilan bosnya.

Di saat Dita berlalu pergi, pandangan mataku seolah-olah dialihkan menuju pintu masuk. Tiba-tiba saja, lelaki berkaus putih yang beraroma manis itu memasuki restoran yang sama denganku.

Sebut saja aku berlebihan. Tapi aku kembali merasakan dejavu saat ia memasuki restoran ini dan mengedarkan pandangan ke setiap penjuru. Lalu kemudian saat mata kami kembali terkunci dan dia tersenyum sangat manis. Semanis soda gembira yang baru saja kuminum setelah menyantap habis sepiring nasi goreng.

Ia melangkah ke arahku. Seketika jantungku melonjak liar tidak karuan, mengirimkan sekelompok kupu-kupu berterbangan ke segala penjuru di dalam perutku.

Ia lalu kembali melangkah dan mempersempit jarak kami. Kini nafasku tertahan oleh serbuan pesonanya. Ia tersenyum, dan kali ini menunjukkan kedua lesung pipitnya.

“Halo. Kita bertemu lagi.” Sapanya.

Aku hanya balas tersenyum padanya, tak mampu berkata-kata.

“Tadi aku panggil-panggil loh. Tapi sepertinya kamu tidak dengar.”

“Oh ya…” kataku akhirnya.

“Ini… buku yang tadi kamu cari.”

Ia menyerahkan buku karya Sir Arthur Conan Doyle, The Adventures of Sherlock Holmes. Buku yang selama ini kucari-cari. Pengganti buku ayah yang hilang pada saat kebakaran rumah kami setahun yang lalu. Buku yang sangat ayah suka.

“Tadi aku ingat kalau di dalam mobilku masih ada buku-buku novel detektif yang belum kubawa. Tapi karena perlu waktu untuk mengambil buku itu, kamu terlanjur pergi.” Lanjutnya.

“Tapi… bagaimana kamu tahu aku ada di sini?”

Ia memamerkan sederetan giginya yang rapi.

“Dengan cara lama, bertanya sana sini. Tadi ada sekelompok remaja dan sepasang orang tua yang melihat seorang wanita bergaun biru berjalan memasuki restoran ini. Tapi ini semua, sedikit banyaknya karena…”

“Takdir.” Lanjutnya dan ucapku dalam hati.

Di ujung mataku, aku kembali melihat Dita mendatangiku. Dan pada saat aku menoleh padanya, terlihat sekali pandangan kaget yang ditujukan pada kami.

“Dhea? Irham? Kalian ternyata saling kenal ya?” Tanya Dita sambil masih kaget dan tertawa geli.

“Loh… ini ternyata…” ucap kami masing-masing sambil saling menunjuk.

“Jodoh emang… gak bakal kemana.” Kata Dita sambil meneruskan tawanya.

Protected by Copyscape Web Copyright Protection

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s