Cinde dan Pangeran Kodok


Matahari di siang ini sedang bersinar dengan teriknya. Bahkan tidak ada satu awanpun yang berani menghalangi sang surya. Seorang gadis sedang asyik berteduh dibawah rindangnya pohon rambutan di tepi sawah. Gadis itu bernama Cinderella, tapi lama kelamaan karena orang-orang susah memanggilnya, mereka menyebutnya Cinde saja.

Cinde sungguh sangat lelah setelah seharian ini bekerja tanpa istirahat dari pagi. Ia juga melewatkan waktu makan siangnya karena kedua saudara tirinya rewel minta disediakan ini itu. Memang benar peribahasa buah jatuh tak jauh dari pohonnya, ibu tirinya pun menambah tugasnya yang sudah banyak menjadi semakin banyak. Mencuci ulang gaun-gaunnya, menyetrikanya, melabeli gaun tersebut berdasarkan tanggal pakai, dan juga mengurutkannya berdasarkan warna. Cinde pun bingung, kok dia bisa ya melakukan itu semua. Ia menggeleng pelan. Tak ingin tubuhnya yang sudah lelah itu mengeluarkan banyak tenaga.

Tak begitu jauh dari tempatnya beristirahat terdengar suara kodok. Tetapi aneh. Bunyi itu lain daripada biasanya. Cinde mendekati kodok tersebut dengan rasa penasarannya.

“Kodok ijo, kamu kenapa? Sakit? Kok bunyinya kaya suara orang kejepit pintu.” Tanya Cinde iseng.

Sang kodok tidak buru-buru menjawab pertanyaan Cinde, ia malah semakin lebar membuka mulutnya dan menjulukan lidah panjangnya.

“Aku kepanasan… matahari bersinar terlalu semangat sehingga menguapkan air sawah ini dan membuatku kehausan.” Katanya sambil bernafas pendek-pendek.

Cinde mengambil botol air minumnya dan menuangkan isinya sedikit demi sedikit pada mulut kodok itu. Dengan rakus ia meminum airnya sampai hampir habis.

“Ah… lega. Terima kasih banyak ya.”

“Sama-sama.” Balas Cinde.

Kodok itu melompat pergi sambil melambaikan tangan kecilnya pada Cinde. Lalu Cinde pun membalasnya dan kemudian beranjak dari tempat itu, menuju rumah.

Saat memasuki rumahnya ia mendengar suara riuh kedua saudara tirinya. Ia berteriak-teriak mengenai sang pangeran negeri itu yang akan mengadakan pesta besar-besaran guna mencari jodohnya. Cinde pun mendengarkan teriak histeris mereka sambil tersenyum-senyum geli.

“Kamu menertawakan kami?” Celetuk Pru pada Cinde.

Cinde menggeleng.

“Terus kenapa kamu berdiri disitu? Mau ikut pesta dansa juga ya?” Selidik Dru.

Cinde kembali menggeleng dan disambut dengan tawa berderai keduanya.

“Oh iya… dia mana punya baju yang pantas untuk ke pesta dansa.” Pru mengejek.

“Ga bisa ya… kalau mau pinjam punya kami.” Dru menimpali.

Cinde hanya menghela nafas panjang lalu meninggalkan keduanya.

***

Jam dinding berdentang sebanyak sepuluh kali. Cinde bolak-balik berjalan di kamarnya tidak mau diam. Kemudian sebuah suara memanggil dan mengetuk kamarnya pelan.

Cinde membuka pintu kamarnya.

“Eh ibu, ada apa? Kok belum tidur?” Tanya Cinde pada ibu angkatnya.

“Kamu ingin datang ke pesta dansa ya?”

Cinde menggeleng dengan ragu.

“Jangan bohong, nak. Sedari tadi aku mendengar suara langkahmu bolak-balik di kamar ini seperti hendak merencanakan siasat kabur dari rumah.”

Cinde memanjukan bibirnya.

“Aku gak bakal kabur kok.”

Ibu angkatnya tertawa pelan.

“Nih ibu bawa sesuatu.” Diberikannya sebuah kotak persegi pada Cinde.

Cinde membuka kotak itu dan terkejut dengan apa yang dilihatnya.

“Ini…”

“Pakailah gaun itu, dan datanglah ke pesta dansa.”

“Ah ibu… terima kasih. Tapi… aku tidak bisa. Tetap saja aku tidak memiliki kendaraan ke sana, sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.”

Ibu angkat Cinde kembali tersenyum dan memberikan sebuah kunci mobil.

“Nih… bawa Honda Jazz ibu aja ya. Tapi jangan sampai tergores ya.” Ucap ibu angkat Cinde.

Dengan erat Cinde kemudian memeluk ibu angkatnya.

“Terima kasih, ibu…”

Cinde kemudian memakai gaun barunya, memulaskan sedikit make up, dan mengenakan sepatu kaca yang tidak disangkanya, ukurannya pas dengan kakinya. Ia tak berlama-lama dan langsung pergi melesat ke istana.

***

Sesampainya di istana, jam berdentang sebanyak sebelas kali. Ia tidak memiliki waktu banyak. Ibu angkatnya bilang, ia harus sudah meninggalkan istana pada saat jam berdentang dua belas kali.

Tumitnya sedang menyentuh tangga pertama dari berpuluh-puluh tangga yang terbentang di hadapannya saat sebuah suara berbisik padanya.

“Sttt… kamu yang di sana.” Ujar suara itu.

Cinde menoleh dan mendapati seekor kodok yang tadi siang ditemuinya sedang berbisik padanya.

“Kamu lagi! Ada apa sih?”

“Minta tolong dong… bawa aku sampai tangga paling atas ya. Soalnya kalau aku melompat begitu saja, aku takut terinjak.” Katanya panjang lebar.

Cinde mengiyakan saja permintaan kodok itu. Ia menaruh kodok itu di saku gaunnya.

Cinde menaiki tangga sambil menghitungnya satu per satu.

“Lima puluh sembilan.”

Ia merogoh saku gaunnya dan menggenggam kodok itu di dalam tangannya. Lalu kemudian mensejajarkan wajah mereka.

“Sudah ya, kodok. Aku sudah menyetujui permintaanmu.”

Kodok itu secara tiba-tiba mencium pipi Cinde lalu melompat turun dari genggamannya dan berlalu pergi.

“Terima kasih ya…”

Cinde tidak mempedulikan hal itu. Euforia menguasainya saat ia melihat ballroom yang digunakan untuk pesta dansa itu. Berbagai macam makanan tersaji lengkap pada barisan meja prasmanan di samping kanannya. Lalu kemudian juntaian pita warna-warni memperkaya suasana pesta itu. Ia kagum. Baru kali ini, ia bisa datang ke pesta semacam ini.

Seseorang mendekatinya dan menyodorkan tangan kanan padanya. Seketika musik berhenti dan semua mata memandang mereka. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan, dengan cepat ia menyambut tangan lelaki itu. Berharap semua mata kembali menemukan objeknya masing-masing.

Tapi ternyata mereka tetap memperhatikannya dengan lelaki itu. Ia mulai berdansa dan musik mengalun kembali.

Tak terasa waktu cepat sekali bergulir. Dan dentang jam yang kedua belas kalinya terdengar nyaring oleh indera pendengarannya. Cinde melepaskan genggaman lelaki itu.

“Aku harus pergi.” Ucapnya tiba-tiba sambil setengah berlari menuju tangga.

“Tunggu… siapa namamu?” Tanya lelaki itu.

Tapi Cinde tidak mempedulikannya. Ia terus saja berlari menuju mobilnya dan mengemudikannya pulang.

***

Beberapa hari berselang sejak pesta dansa itu, kotanya kembali dikacaukan dengan suatu peristiwa. Sang pangeran sedang mencari putrinya! Begitulah headline yang tertulis di setiap surat kabar. Cinde tidak tahu dengan siapa pangeran yang dimaksud, sehingga mengabaikan berita itu.

Tiba-tiba satu ketukan ringan menyapa pintu rumahnya. Dru dan Pru langsung berebut membukanya.

“Selamat siang, nona-nona.” Sapa lelaki tua berkumis tebal yang sama sekali tidak Cinde kenal.

“Saya utusan Pangeran Henri bertujuan untuk mencari pemilik sepatu kaca ini.”

Belum selesai utusan itu berbicara, Dru dan Pru langsung merebut sepatu itu dan memakainya dengan paksa pada masing-masing kaki mereka. Tapi ternyata sepatu itu kebesaran di Pru dan kekecilan di Dru.

Mata Cinde memicing. Ia merasa kenal dengan sepatu itu.

“Ah! Sepatu kacaku!” Ucap Cinde dalam hati.

Seekor kodok menyembul keluar dari tas kulit sang utusan. Matanya yang besar melirik ketiga gadis yang tengah berada di sana.

“Tuan…” Ucap Cinde.

“Heh kamu… ngapain di sini. Sana pergi ke dapur, siapin aku air hangat.” Potong Pru.

Utusan itu tidak mempedulikan Pru.

“Kamu, cobalah sepatu ini.” Katanya.

Cinde kemudian mendekat dan mencoba sepatu itu. Dan… ajaib. Sepatu itu pas sekali dengan kakinya. Ia bahkan mengeluarkan sepatu pasangannya dari dalam kantung apronnya.

“Ini sepatu pasangannya.” Ujar Cinde malu-malu.

Pru dan Dru terperangah. Mereka melotot ke arah Cinde saat ia memakai sepasang sepatu itu.

“Akhirnya… aku menemukan putriku.” Celetuk kodok hijau itu.

Kodok yang sama dengan kodok yang ditemui oleh Cinde hari-hari sebelumnya.

Kodok itu kembali mengecup pipi Cinde perlahan. Kemudian tanpa diduga-duga. Tak lama kemudian, kodok hijau itu berubah menjadi pangeran. Orang yang sama dengan yang mengajaknya berdansa. Ia mengulurkan tangannya pada Cinde.

“Menikahlah denganku.” Pintanya.

Cinde yang telah jatuh hati dengan pangeran semenjak malam itu pun, langsung menyambut tangannya.

“Dengan senang hati.”

Dan mereka berdua pun bahagia selamanya.

Protected by Copyscape Online Copyright Search

Ditulis untuk #7HariMendongeng

Dongengnya bener-bener ngelantur kemana-mana ya? :))

Advertisements

5 thoughts on “Cinde dan Pangeran Kodok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s