Gulungan Kulit Kayu


Sebuah auman singa lemah terdengar di dalam sebuah hutan. Sudah sejak lama tubuh, Aeon, sang raja hutan itu melemah karena penyakit yang telah dideritanya. Ia memiliki dua ekor anak singa yang gagah serta perkasa. Keduanya disegani oleh seluruh penduduk hutan karena wibawa dan karismanya.

Tetapi akhir-akhir ini kedua anak singa itu tidak begitu akur seperti biasanya. Mereka terlihat saling menghindari satu sama lain. Setelah diusut lebih jauh, ternyata keduanya bersaing memperebutkan singgasana Aeon setelah kematiannya. Padahal jelas-jelas Aeon masih hidup dan bisa memerintah hutan dengan arif seperti biasanya.

“Apa yang harus kulakukan Merin, saat kedua anakku berebut kekuasaan dan mengharapkan kematianku?” Tanya Aeon pada Merin si kura-kura.

Merin telah berpuluh-puluh tahun setia menemani Aeon sebagai penasihatnya. Ia pun telah melihat pertumbuhan kedua anaknya mulai dari lahir hingga besar.

“Sabarlah… mungkin mereka belum dewasa. Waktu akan membuat mereka sadar.” Balas Merin dengan bijaknya.

Aeon menurut saja dengan apa yang dikatakan oleh Merin. Penasihatnya memang selalu bisa membuatnya tenang dalam menghadapi masalah apapun.

Berselang beberapa hari kemudian, terjadilah kabar duka yang memilukan bagi penduduk hutan. Raja mereka mati dikala fajar menyingsing. Tak sedikit penduduk hutan yang bersedih akan kepergian Aeon. Tapi kejadian sebaliknya terjadi pada kedua putra Aeon, Astral dan Amon. Mereka malah beradu mulut tentang siapa yang akan mendapatkan warisan tahta sebagai raja hutan.

Dalam beberapa hari saja penduduk hutan tersebut resah dengan kelakuan Astral dan Amon. Menyayangkan Aeon mati meninggalkan kedua anaknya yang masih belum pantas menjadi penguasa hutan itu.

Dalam keadaan genting, sang permaisuri mengeluarkan sebuah gulungan yang terbuat dari kulit pohon kepada Merin. Ia membuka gulungan itu yang diyakininya sebagai wasiat Aeon dan mulai membacanya.

“Aku Aeon sang penguasa hutan raya. Dengan ini menyerahkan tahtaku pada Merin, penasihatku. Aku yakin hutan ini akan damai dan tentram dibawah kebijakannya. Dan untuk kedua anakku, Astral dan Amon. Aku harap kalian sadar dengan sikap buruk kalian. Ayah menyayangi kalian semua.”

Astral dan Amon langsung tertunduk lesu mendengar wasiat itu. Mereka menyesali kelakuan buruk mereka pada ayahnya dan akhirnya menerima keputusannya untuk menjadikan Merin sebagai penguasa hutan raya.

Protected by Copyscape Online Copyright Search

Ditulis untuk #7HariMendongeng

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s