Petualangan Menuju Makhdar


Dua orang sahabat karib berlayar mengarungi lautan. Berbekal sebuah peta usang yang ditemukannya di pasar loak. Mereka mengadu nasib pada suratan takdir, agar bisa mempertemukannya dengan sebuah harta karun legendaris yang dicari-cari oleh seluruh bajak laut di dunia ini. Peninggalan seorang bangsawan Inggris yang kapalnya karam di sekitar kepulauan Taphos, negeri Makhdar.

”Berapa lama lagi kita sampai, Ali?” Ale bertanya pada Ali sambil terus memegang kemudi kapal.

Ali melirik sedikit peta panduannya, “jika perkiraanku benar, tidak lama lagi kita akan menemukan sebuah pulau kecil. Dan pulau itu bisa menjadi titik awal kita menemukan harta itu.”

Betul saja seperti yang Ali perkirakan, tak lama kemudian kapal tersebut kini sudah diam tak bergerak di tepi pantai yang pasirnya berwarna putih bersinar. Hutan di dekat pantai itu tampak lebat, jelas sekali bahwa pulau ini sudah lama sekali dikunjungi.

Ale menurunkan jangkar kapalnya dan mulai menuruni kapal. Kemudian diikuti dengan Ali. Sahabat karib itu berjalan beriringan menyusuri setiap jengkal yang mereka yakini itu adalah jalan menuju harta itu, terus memasuki hutan semakin dalam. Tidak banyak silang pendapat diantara keduanya. Ale selalu percaya pada kemampuan Ali membaca peta dan mencari jejak. Ia terus saja mengikuti Ali tanpa banyak bicara.

Ketika matahari terbenam, mereka sampai pada sebuah gua di tengah-tengah hutan tersebut. Beberapa pohon merambat menutupi dan menyembunyikan pintu gua tersebut, tapi karena keberuntungan mereka berdua bisa menemukannya.

“Peta itu terhenti di sini.” Ucap Ali singkat.

Ale menggaruk-garuk dagunya yang kini tumbuh dengan janggut tipis, “apa kau yakin?” Tanyanya ragu.

“Aku tidak tahu pasti. Tapi memang arahnya berhenti disini.”

Ale tersenyum bersemangat, “ya sudah, tidak ada salahnya kita mencoba. Ayo masuk.” Ajaknya.

Mereka memasuki gua tersebut dengan menyalakan sebuah obor yang tadi telah dipersiapkan. Gua itu agak sedikit lembab, sehingga hampir di seluruh jalannya dipenuhi oleh lumut yang membuat mereka sulit berjalan tanpa terpeleset. Mereka terus berjalan menyusuri gua itu, sampai kemudian mereka menemukan sebuah peti batu di ujung terdalam gua.

“Ayo kita buka peti itu.” Ajak Ale dengan penuh semangat.

“Eh, jangan dulu.” Tahan Ali.

“Siapa tahu itu ada jebakan atau ada cara tertentu untuk membukanya.” Lanjut Ali.

“Ah… lama sekali. Sudah, kamu saja yang lihat kalau begitu.” Balas Ale ketus.

Ali mengamati peti batu itu perlahan mulai dari depan, belakang, samping kiri, dan samping kanan. Ternyata tidak tuas atau tombol apapun. Hanya sebaris kalimat “Bijaksana akan pilihanmu, jika tidak bumi akan terguncang.”

Ali membaca keras tulisan tersebut. Tetapi Ale tidak peduli, ia langsung membuka peti batu. Walaupun dengan susah payah, akhirnya tutupnya terbuka juga.

Seketika benda-benda berharga dalam peti tersebut berkilau terkena cahaya obor. Membuat warna emas yang melapisi setiap benda menjadi lebih kuning saat terkena cahaya. Mereka berdua terpukau. Seumur hidup, mereka belum pernah menemukan dan memiliki emas sebanyak itu.

Dengan cepat Ale meraih kain bungkusan kosong yang sengaja dibawanya. Ia memasukan emas itu sebanyak-banyaknya ke dalam kain itu.

“Ale jangan. Baca kembali peringatan itu. Kita bawa secukupnya saja.” Cegah Ali.

Tetapi Ale tidak menggubrisnya, “ah, paling cuma gertak sambal saja.”

Ia terus saja memasukkan emas-emas tersebut. Sampai beberapa menit kemudian terdengar gemuruh yang memekakkan telinga dari bawah perut bumi. Gua itu berguncang keras. Tanah tempat mereka berpijak bergoyang dengan dahsyat. Ali berusaha mencari pegangan dengan menggapai-gapai tangan kosongnya ke udara. Tapi ia tidak berhasil.

Ali terpeleset lumut yang licin lalu kemudian meluncur jatuh menuju mulut jurang yang ada di tengah-tengah gua. Tangannya kali ini bisa menggapai ujung batu di atas kepalanya. Namun tetap saja, tubuhnya terombang-ambing di udara. Salah sedikit saja, ia bisa langsung terus meluncur jatuh masuk ke dalam jurang yang gelap itu. Ia menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Mencari-cari suatu benda yang bisa digapainya. Akhirnya ia bisa juga berpijak pada sebuah batu yang menonjol di dekat kakinya. Ia bergerak dan merangkak naik dengan nafas memburu. Nyawanya baru saja berada di ujung tanduk.

Dari arah berlawanan terdengar suara Ale memanggilnya, “Ali! Tolong aku!”

Dengan cepat ia berlari menuju Ale. Dilihatnya Ale sedang bergelantungan susah payah dengan tangan kanan dan tangan kiri memegang bungkusan emas tadi. Ali menggapai tangan kanan Ale dan menariknya sekuat tenaga. Tapi ternyata tubuh Ale menjadi begitu berat karena bungkusan itu sampai-sampai Ali pun tidak bisa menariknya.

“Le… paskan bung… kusan itu.” Ucap Ali tersengal-sengal.

“Tidak. Jangan.”

“Lepaskan. Atau aku tidak bisa menarikmu.”

“Tidak. Sia-sia sudah perjalanan kita jika emas ini kulepaskan.”

“Lepaskanlah. Aku lebih membutuhkanmu daripada emas itu. Kau yang lebih berharga daripada benda itu.” Ucap Ali tegas.

Ale melirik sesaat pada bungkusan itu, lalu kemudian menggeleng sedih. Dilepaskannya bungkusan itu ke dalam jurang. Ali kemudian dengan mudah menarik Ale ke tepi jurang.

“Syukurlah. Kau selamat.”

“Tapi emasnya…”

“Tidak apa-apa. Emas atau harta karun lainnya bisa kita cari. Tetapi aku tidak bisa kehilangan sahabatku karenanya. Bagiku persahabatan kita sudah lebih dari cukup dibandingkan dengan harta karun apa pun.” Jelas Ali.

Ale mengangguk setuju. Akhirnya ia menyadari akan hal itu. Keegoisannya sesaat bisa membuat kehilangan sahabatnya selamanya. Tapi untung ia segera menyadarinya. Mereka akan terus berpetualang setelah ini. Tetapi kali ini mungkin berbeda. Masing-masing dari mereka telah menyadari bahwa semua harta di dunia ini tidak ada bandingannya jika mereka harus kehilangan seseorang yang berarti bagi mereka.

Protected by Copyscape Duplicate Content Penalty Protection

Ditulis untuk #7HariMendongeng

Advertisements

8 thoughts on “Petualangan Menuju Makhdar

  1. aduf untuk dilepas.. detik2nya menegangkan.
    saya jadi keinget adegan film horor pas antagonisnya tenggelam karena keberatan bawa emas…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s