Serka dan Maliki


Di sebuah negeri, yang alamnya asri nan elok dengan perekonomian yang stabil dan sejahtera. Hiduplah seorang pemimpin bernama, Maliki. Ia adalah tokoh yang paling disegani di negara tersebut. Ia adil, arif, disegani oleh rakyat, dan seorang pedagang yang berhasil. Tapi gemerlapnya harta dan kekuasaan kini mulai membuatnya lupa diri.

Pada suatu hari, datanglah seseorang bernama Serka. Ia tidak memiliki apa-apa. Datang ke negara itu pun, hanya berbekal sebuah bungkusan kumal saja.

Tidak banyak barang istimewa yang dibawa oleh Serka. Bungkusan kumal yang ada di dalam genggamannya hanya berisi baju-baju bekas yang sebenarnya sudah tidak layak pakai lagi. Meski begitu Serka tetap saja membawanya. Hanya itu saja yang kini ia miliki. Hanya itu yang tersisa darinya. Beberapa pekan sebelumnya Serka dan seluruh rombongannya harus menanggung kerugian yang sangat banyak. Kafilah dagang mereka disergap oleh segerombolan perampok berkuda yang menyerang dan mengambil seluruh harta mereka.

Di awal gerbang negeri itu terpampang jelas mengenai aturan-aturan yang diberlakukan di negeri itu. Serka tak begitu mengerti dengan apa yang tertuliskan di sana. Matanya mulai terasa buram, kesadarannya perlahan memudar. Di depan gerbang negeri itu Serka tak sadarkan diri lagi. Ia pingsan.

Saat sedang tak sadarkan diri, tubuhnya dibawa pergi oleh seorang penjaga gerbang. Ia digotong dan dihempaskan begitu saja di sebuah sel penjara yang sempit dan kotor. Dan saat kesadarannya mulai datang, ia dihadapkan dengan serangkaian pasal pelanggaran yang tidak ia mengerti.

“Apa kau bilang barusan?” Tanya Serka pada penjaga di hadapannya.

“Kau memiliki tiga kesalahan penting saat menginjak gerbang depan tadi. Satu, kau datang tanpa identitas. Dua, kau datang tanpa lencana jabatan. Orang biasa hanya boleh datang melalui gerbang samping. Dan ketiga, kau tidak membawa harta apapun untuk diberikan pada pemimpin kami, Maliki.” Ulang penjaga itu.

Serka menggeleng dengan keras dan berbisik, “Negeri apa ini. Bahkan orang luar pun diberlakukan dengan peraturan yang aneh dan semena-mena ini. Di saat perjalanan tadi aku dirampok oleh segerombolan perampok berkuda. Aku tidak memiliki harta apa pun. Dan apakah itu salah?”

Penjaga itu tak bergeming. Ia tetap berwajah datar dengan dagu terangkat tinggi. Seolah-olah sedang merendahkan Serka.

“Dalam waktu yang tidak lama lagi. Kau akan dipertemukan dengan pemimpin kami.” Jawabnya tak terbantahkan.

Melihat sikap penjaga yang ada di hadapannya, Serka mulai merasa diperlakukan tidak adil. Bagaimana mungkin akan ada kesejahteraan di negeri ini jika aturan yang ditegakkan seperti ini. Jika pun memang negeri ini makmur, sepertinya hanya orang-orang tertentu yang merasakannya. Serka memang belum melihat langsung keadaan negeri tempat ia dikurung sekarang. Namun Serka meyakini sesuatu dari perlakuan yang ia dapatkan selama ia berada di negeri ini. Ada sesuatu yang salah yang harus ia ungkap. Dan sepertinya kesempatan itu baru bisa akan ia punyai ketika nanti Serka dihadapkan langsung dengan pemimpin negeri ini.

“Kapan aku akan bertemu dengan Tuanmu?”

Penjaga itu mendongak kesal dengan pertanyaan Serka. Sangat mengganggu, pikir penjaga itu. “Mungkin sore ini atau mungkin saja besok. Tuanku yang akan memutuskannya.”

Serka tak membalas. Ia hanya diam sambil melayangkan pandangannya, berpindah-pindah pada setiap sel yang dapat dilihatnya. Lalu kemudian penjaga itu pun bosan. Ia meninggalkan Serka dan berjalan keluar dari sel.

Perhatian Serka jatuh pada seseorang yang berada di sebelah selnya. Walau pun kumal, pakaiannya terbuat dari kain sutra yang mahal dengan desain sulaman rumit di beberapa bagiannya. Kemudian orang itu tersadar Serka sedang memperhatikannya.

“Ada apa?” Tanyanya ketus.

“Kau pasti adalah anggota keluarga kerajaan. Lambang naga terbang pada pakaianmu itu mudah dikenali oleh siapa saja. Tetapi, tidak bisa dimiliki oleh rakyat kebanyakan.”

Ia mengkeret ke dinding dan menopang dagunya dengan lutut. “Apa maumu?”

“Tidak ada.” Jawab Serka.

“Aku hanya penasaran, bagaimana bisa kau berakhir disini.” Lanjutnya.

“Orang itu menipuku. Menimpakan kesalahan padaku, menjebloskanku disini, dan mengambil alih kekuasaan.”

Serka langsung tahu bahwa orang yang dibicarakan oleh dia adalah orang yang sama dengan yang membuat peraturan-peraturan tak masuk akal di negeri ini.

“Padahal dulu ia adalah seseorang yang kusegani. Guru sekaligus penasihatku.”

Pembicaraan itu langsung terhenti begitu seorang penjaga turun pada penjara bawah tanah itu.

“Kau yang di sel paling ujung! Tuan Maliki memanggilmu.”

Pembicaraan mereka pun terhenti. Serka mendongak melihat ke arah penjaga yang memanggilnya. Penjaga itu memanggil Serka untuk segera mengikutinya. Sesungguhnya Serka geram dengan sikap penjaga yang ada di depannya itu. Namun Serka memang masih belum bisa berbuat banyak. Tangannya terkunci oleh rantai besi yang sepertinya disematkan padanya ketika ia tak sadarkan diri tadi.

“Aku akan melakukan sesuatu. Aku akan bebas. Aku tidak mau sekali pun direndahkan seperti ini.” Bisik Serka ketika ia dibawa oleh penjaga yang menyuruhnya tadi.

“Ayo cepat, jangan banyak menggerutu. Hidupmu mungkin akan berakhir cepat. Jadi lebih baik kamu diam dan tak banyak bicara lagi. Berdoa mungkin adalah pilihan yang baik untukmu sekarang.” Penjaga itu tertawa, tak perduli dengan apa yang Serka rasakan sepanjang perjalanannya menemui Maliki.

Dari penjara bawah tanah, Serka dibawa ke arah istana, ia melewati beberapa koridor yang menghubungkan taman bunga dan pekarangan istana yang megah. Sejauh matanya memandang, terlihat sekian bangunan yang luar biasa cantik. Pepohonan rimbun di sekitar istana menjadikan pemandangan yang ada di depannya menjadi sangat menakjubkan. Negeri yang indah.

Serka kemudian digiring pada sebuah lorong, dimana beberapa lukisan foto diri seluruh pemimpin negara ini tertata rapi menemaninya sepanjang jalan menuju sebuah ruangan besar berisikan beberapa orang yang tidak ia kenal sama sekali. Penjaga itu membungkuk hormat seketika saat ia matanya tertuju pada seseorang. Serka duga ia adalah Maliki. Sosok wibawanya terpancar jelas dimatanya.

“Kau yang bernama Serka itu?” Maliki angkat bicara.

Serka mengangguk perlahan.

“Untuk apa kau datang ke negara ini?”

“Aku tadinya akan berdagang disini. Tapi kemudian di tengah jalan kami disergap oleh segerombolan pencuri dan menyita barang-barang kami.”

“Aku tidak melihat sedikit pun tanda kebesaran yang memperlihatkan kalau kau adalah seorang pedagang besar. Lihat badan dan pakaian yang kau pakai. Kumal. Seperti sudah lama tidak terkena air. Pastinya kau adalah salah satu pengemis yang sedang berpura-pura kan?”

Serka geram mendengar Maliki berbicara seperti itu. Dilepaskannya pegangan penjaga yang menemaninya tadi. Ia berlari ke arah Maliki. Dengan kekuatan yang tersisa Serka mencoba meraih kesempatan untuk melukai Maliki. Namun malang tak bisa ditahan, sebelum sampai ke depan Maliki. Pedang dan tombak sudah terhunus. Tubuh Serka tercabik-cabik.

Dalam benaknya Serka hanya bisa merapalkan doa terakhirnya. “Jika memang begini cara aku harus menemuimu, aku tak menyesal Tuhan. Setidaknya aku tetap pertahankan harga diriku dan juga kejujuranku hingga akhir nafasku ini.”

Nafas Serka mulai tak bisa terdengar lagi desahannya. Tombak prajurit Maliki sudah masuk ke dalam tubuh Serka. Dalam jeda yang singkat, Serka akhirnya mati, membawa keyakinan dan kepercayaannya. Tetap menjaga apa yang ia yakini dalam hidupnya.

Protected by Copyscape Plagiarism Tool

Dongeng duet: Tammy Rahmasari @alizarinnn dan Teguh Puja @teguhpuja

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s