Kakek Tua yang Cerdik


Seorang kakek menatap hamparan hijau persawahan yang dulu adalah miliknya. Semenjak beberapa bulan yang lalu, lahan itu berpindah tangan darinya. Nasib itu pun diderita oleh penduduk lainnya. Lahan mereka tiba-tiba diserahkan demi membayar hutang dengan bunga yang sangat mencekik.

Di sudut desa terlihat segerombolan bandit tengah berpesta pora dengan menggunakan hasil tangkapannya hari ini. Merekalah yang tiba-tiba membuat keadaan aman dan tentram menjadi penuh duka dan nestapa. Kujo, pemimpin bandit tersebut yang menipu mereka dengan pinjaman dananya pada saat musim panceklik datang. Berita itu jelas saja menjadi sebuah angin segar bagi penduduk desa itu, karena kompor-kompor di dapur senantiasa harus terus menyala setiap harinya agar mereka bisa terus hidup.

Kakek itu mendekati Kujo si Bandit dengan santai. Ia membulatkan tekad untuk melawan perbuatan semena-mena mereka. Toh ia kini sudah tidak memiliki apapun dan tidak akan ada yang menangisi kepergiannya, bila keadaan malah berbalik tidak menguntungkannya.

Sudut mata Kujo menangkap seorang kakek yang berjalan dengan susah payah mendekatinya.

“Apa maumu, kek? Aku tidak punya waktu meladenimu.” Katanya ketus.

“Aku mau menawarkan sesuatu yang mungkin akan membuatmu tertarik.” Ucapnya.

Kujo langsung meletakkan botol dalam genggamannya di meja.

“Apa itu? Kalau sedikit saja tidak membuatku tertarik. Maka nyawamu yang pendek itu akan langsung melayang.” Ancamnya.

Kakek itu langsung mengeluarkan sebuah wadah air yang terbuat dari bambu dan menunjukkannya di depan mata Kujo.

“Aku mau menawarkan air ini.”

Seketika tawa Kujo meledak. Ia terpingkal-pingkal sambil menunjuk-nunjuk kakek itu. dan kejadian itu pun diikuti oleh seluruh anak buahnya yang berada di sana.

“Untuk apa itu?! Aku sama sekali tidak butuh wadah air semacam itu jika aku bisa mendapatkan yang lebih baik darinya.”

Si kakek menggeleng pelan.

“Bukan itu maksudku. Bukan wadahnya, melainkan isinya. Isinya adalah mata air dari Gunung Melang. Konon… siapapun tidak bisa pulang hidup-hidup saat mendapatkan mata air keabadian ini.” Jelasnya.

Pupil mata Kujo melebar. Terlihat binar ketertarikan di sana.

“Apa yang mau kautukar sebagai ganti mata air itu?” Tanyanya tiba-tiba serius.

“Cukup desa ini saja. Kau pergi meninggalkan desa ini dan jangan pernah kembali.”

Kujo kembali tertawa, “kau terlalu serakah, tua bangka.”

“Tidak. Jika yang kaudapatkan adalah sebuah keabadian.” Selanya.

Kujo si bandit pun menimbang-nimbang apa yang telah dikatakan oleh kakek tua itu.

“Baiklah. Aku setuju.” Ucapnya.

Kakek tua itu mengeluarkan selembar kertas dan sebuah kuas serta tintanya dari dalam bajunya.

“Jaga-jaga jika kau melanggar janjimu. Tidak keberatan kan kalau aku menuliskan semua perjanjian kita?” Tanya kakek itu sambil tersenyum.

“Terserah padamulah. Yang penting setelahnya, berikan air itu padaku.”

Kakek tua itu dengan lincah menuliskan semua butir-butir perjanjiannya di kertas. Kujo merebut paksa wadah air itu dari tangan si kakek saat selesai membubuhkan sebuah tanda tangan pada bagian bawah kertas.

“Jangan lupa. Minumlah air itu dengan memakai cawan emas yang ada di Kuil Merah.” Nasihatnya. Kujo pun mengangguk dan langsung melenggang pergi.

Sesungguhnya air yang berada dalam wadah itu hanyalah air biasa. Kakek itu hanyalah menggunakan sifat tamak Kujo untuk menjebaknya dan mengusirnya dari desa itu.

Keberhasilan kakek tua itu mengusir Kujo mendapat sambutan penuh syukur dari seluruh warga di desa itu. Dalam hati mereka, kakek tua renta itulah pahlawan mereka. Seseorang yang membantu mereka mendapakan kembali lahan pertanian sebagai modal kehidupan mereka seterusnya.

Protected by Copyscape Web Plagiarism Tool

Ditulis untuk proyek #7HariMendongeng

Advertisements

6 thoughts on “Kakek Tua yang Cerdik

  1. Orang bodoh kalah dengan orang yang pintar. Orang yang pintar kalah dengan orang yang cerdih. Kujo yang tamak kalah oleh kakek yang baik. Hihi.

    Adminnya #7HariMendongeng kece. 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s