Ssstt!! Jangan Bilang Siapa-siapa!


Sebuah anak panah mainan yang terbuat dari plastik berwarna kuning melesat cepat ke arahku. Dengan sigap aku langsung menghindarinya dengan berjongkok di lantai keramik rumahku yang dingin. Sang pemanah terkikik perlahan melihat gerakanku dan siap-siap melancarkan serangan keduanya.

Aku mengangkat tangan kananku ke udara, “stop, dek. Kakak istirahat dulu ya.” Kataku sambil terengah.

Sudah sejak setengah jam yang lalu aku menemani adik kecilku yang usianya beda enam tahun denganku. Ia masih saja lincah bergerak kesana kemari. Padahal sebelum bermain denganku, ia baru saja menyelesaikan sesi bermain layangan dengan teman sebayanya di lapangan.

Ia bertolak pinggang, “Ah… kakak payah. Alan kan masih pengen main.”

“Iya, bentar ya dek. Kakak mau minum dulu ah. Kakak kan baru pulang sekolah tadi, tapi langsung diajak main aja.”

Alan kemudian melangkah dan duduk pada pinggiran sofa di ruang tamu.

“Ya udah, lima menit. Alan bosan seharian di rumah cuma ditemani sama Bi Ayum. Ayah dan bunda kerja terus soalnya.”

Aku langsung memotong sebelum rengekannya menjadi-jadi. “Iya. Lima menit.” Balasku sambil menunjukkan kelima jariku di udara padanya.

Aku meninggalkannya dan menuju dapur. Kubuka lemari es dan kuambil sebuah kotak susu yang langsung kuminum isinya tanpa gelas. Tak lama kemudian sebuah bunyi nyaring terdengar.

PRANG!

Sontak pikiranku langsung tertuju pada Alan. Kotak susu yang kupegang langsung ditaruh begitu saja di atas meja. Dengan setengah berlari aku menuju ruang tamu rumahku.

“Alan, ada apa?” Tanyaku padanya.

“Kakak, jangan bilang sama siapa-siapa ya…” katanya sambil melihat padaku dengan pandangan sedih.

Di hadapannya berserakan pecahan kaca akibat dari sebuah pigura foto kami sekeluarga yang jatuh terkena panah kuning Alan. Serangan panik langsung menyergapku seketika.

“Dek, jangan bergerak ya. Diam di situ. Kakak mau ambil sapu dulu.” Kataku padanya.

“Pokoknya jangan bergerak.” Lanjutku padanya sambil berlari menuju dapur.

Dari kejauhan terdengar raungan sebuah sepeda motor memasuki halaman rumahku. Cepat-cepat aku menyambar sapu itu tanpa memanggil Bi Ayum terlebih dahulu. Isak tangis Alan mulai terdengar pelan dari tempatnya berdiri.

“Alan, ada apa ini?” Suara ayahku menggema di dalam rumah.

Sebuah isakan kini berubah menjadi sebuah tangisan memilukan. Alan bergerak mundur menjauhi arah suara ayah.

“Dek, diam di situ.” Kataku lagi.

“Ayah, tadi Alan tidak sengaja memecahkan pigura itu. Jangan dimarahi ya. Nadya yang salah karena tadi lalai mengawasi Alan.” Lanjutku.

Bunda kemudian masuk sambil membawa kantong belanjaan. Setelah ia melihat pigura yang berserakan di depan Alan, ia langsung menghampirinya dengan tergesa-gesa.

“Alan kenapa nangis? Alan ada yang luka gak?” Tanyanya khawatir.

“Ayah… bunda… Alan minta maaf. Tadi gak sengaja panahnya kena pigura.” Rintihnya sambil menahan tangisnya.

Wajah ayah melunak. Begitu pun dengan bunda. Mereka sepertinya lebih mengkhawatirkan Alan daripada nasib pigura itu. Tapi tampaknya adikku itu tidak mengerti.

Bunda mengusap lembut wajah Alan, “Alan sayang. Ayah maupun bunda engga marah kok. Kami cuma khawatir Alan terluka. Lain kali, hati-hati ya mainnya.”

Alan mengangguk singkat. Kami lega bahwa tidak ada satu pun luka hinggap pada tubuhnya.

Protected by Copyscape DMCA Copyright Protection

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s