Foam Kiss


Kupandangi sesosok bocah kecil yang tengah tertidur pulas di atas tempat tidur. Sesekali ia bergerak gelisah disela-sela dengkuran ringannya. Tingkahnya saat tidur bukan hanya lucu, tapi juga sungguh menggemaskan. Bocah kecil itu adalah adikku, Silla, yang terpaut dua puluh tahun dibawahku.

Aku kembali menekuni makalahku. Makalah yang hanya tinggal empat halaman saja kuisi, tapi terasa sebanyak berpuluh-puluh halaman. Aku menggeliat di dalam dudukku. Kurentangkan tanganku sambil menguap lebar.

“Bikin cappuccino ah.” Kataku pada diriku sendiri.

Aku memaksakan tubuhku untuk berdiri dari kursi kayu yang kaku itu. Kulangkahkan kakiku pelan keluar dari kamar dan menuju dapur kecil di kosanku. Ya… kami memang tinggal di kosan dalam tiga bulan ini. Warisan yang ditinggalkan oleh kedua orang tuaku tidak banyak. Hanya cukup untuk menghidupi kami dalam beberapa bulan ini saja. Sedangkan rumah yang dulu kami tinggali, kini telah disegel oleh pihak bank. Hidup kami saat ini seperti di ujung tanduk. Salah melangkah saja, kami mungkin akan terperosok dan terjatuh.

Kuambil cappuccino sachet, lalu kurobek bungkusnya. Dalam beberapa detik saja, butiran halus dari kopi, cokelat, susu, dan gula berpindah dari bungkusnya ke dalam gelasku. Kutuangkan air panas kedalamnya dan kuaduk perlahan. Wanginya menyebar dengan sangat cepat di udara.

Angin malam berhembus pelan melewati kisi-kisi jendela di dapur. Aku memegang gelasku erat untuk mencari kehangatan, lalu kemudian kembali berjalan menuju kamarku. Kubuka dan kututup pelan pintu kamarku. Tidak ingin membangunkan Silla.

“Kakak bikin apa?” Celetuk Silla dengan masih berbaring di atas kasur.

Jantungku terlonjak kaget.

“Kamu ngagetin kakak aja.” Kataku. “Tidur lagi ah. Udah malam ini.” Lanjutku.

Silla bangun dari tidurnya, dan duduk di tengah-tengah kasur sambil memeluk boneka kelincinya.

“Wangi kopinya, kak. Aku mau dong.” Pintanya.

“Eh jangan… nanti kamu malah gak bisa tidur deh.”

“Dikit aja, kak.” Rengeknya sambil melompat dari tempat tidur dan menyambar gelasku.

Silla meneguk cappuccino-ku beberapa kali. Lalu kemudian menyodorkan kembali gelas itu padaku dan kembali naik menuju tempat tidur.

Aku menaruh gelasku di meja. Kutarik selimut biru sampai di bawah dagu Silla. Dan kukecup pipinya singkat.

“Selamat tidur ya, adik manis.”

“Selamat tidur juga, Kak Indah.” Balasnya sambil menciumku dengan bibir yang masih penuh dengan foam dari kopiku. “Besok pasti akan baik-baik saja.” Lanjutnya menyemangatiku.

Aku membalas senyumannya sambil mengulangi mantra itu dalam hatiku. Iya. Besok pasti baik-baik saja.

Protected by Copyscape DMCA Copyright Protection

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s