Tiga Puluh Satu Hari


Entah bagaimana aku bisa terdampar disini. Soriano Tratorria. Bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana melafalkan kalimat tersebut dengan benar.

Tiga puluh satu hari yang lalu, saat dengan tidak sengaja aku melangkah memasuki daerah Kemang yang sama sekali tidak kukenal. Aku berdiri di depan restoran Italia ini dengan menenteng sebuah map cokelat yang berisikan tentang riwayat hidupku, tidak tahu hendak pergi kemana. Tiba-tiba seorang lelaki yang tidak kukenal memanggilku dengan nama yang salah.

“Vanni?”

Aku berbalik ke arah sumber suara. Di hadapanku berdiri seorang lelaki tampan peranakan -yang kutaksir dari Italia- sedang menunjukkan raut muka bingung.

“Maaf, ternyata salah orang.” Ucapnya dengan dialek bahasa yang sedikit lucu.

Aku tersenyum ramah padanya. “Tidak apa-apa.”

“Ini restoran saya, masuklah… daripada di luar panas-panasan begini.” Ia menawarkan.

Ah… mungkin sapaan salah itu adalah salah satu strategi pemasarannya. Untuk mengajak masuk siapa saja yang kebingungan sepertiku. Tapi aku tetap melangkah. Tersihir oleh kedua bola matanya yang menatap dalam padaku.

Aku langsung tak jauh dari pintu masuk. Menempatkan tubuhku pada kursinya yang empuk dan membiarkan wajahku diterpa oleh sejuknya AC di dalam restoran itu.

Seorang pelayan mendekatiku.

“Mau pesan apa?” sambil menyerahkan selembar daftar menu ke arahku.

Aku membaca daftar menu itu bolak-balik. Kebanyakan menunya tidak aku kenal. Maklum saja… di rumah, ibu hanya mengenalkanku pada sayur asem, sambal, dan tahu serta tempe.

“Spaghetti carbonara.” Kataku padanya. Nama makanan itu cukup sering kudengar, walau aku tidak pernah mencobanya.

“Dan… teh botol?”

Pelayan itu tertawa tertahan.

“Maaf, untuk yang satu itu tidak ada. Bagaimana kalau… iced lemon tea?” Tanyanya ramah.

Aku mengangguk saja padanya.

Pesananku tak lama kemudian datang. Tetapi tidak dibawakan oleh pelayan yang tadi, melainkan oleh lelaki peranakan tadi. Lelaki yang memiliki wajah sendu yang diam-diam membuatku tertarik.

Bon appetit.”

Ia menarik sebuah kursi dan duduk di hadapanku.

“Kamu adalah pelanggan pertamaku. Hari ini adalah hari pertama kami.” Celotehnya sambil tersenyum cerah dan memamerkan sederetan giginya yang rapi.

Aku mengambil amplop cokelat yang tadi terus kugenggam selama perjalanan. Dengan tiba-tiba kusodorkan padanya.

“Jika masih ada posisi yang kosong. Aku boleh melamar di sini?”

Sepenggal kalimat itu meluncur mulus dari mulutku. Melunturkan niatku untuk pergi mengikuti tes wawancara di salah satu bank pemerintah di daerah Kemang ini. Ia terdiam sesaat sebelum akhirnya tersenyum padaku.

“Boleh… selamat bergabung. Aku Roberto.” Ia menerima amplop cokelat  itu dan mengulurkan tangan kanannya padaku.

Aku menyambut tangan itu dan menggenggamnya sesaat.

“Sinta.”

Aku tersadar dari lamunanku saat namaku dipanggil. Segera aku melangkah ke arah sumber suara itu. Dengan cepat ia menaruh secarik kertas pesanan di atas baki yang kutenteng.

“Pesanan untuk wanita itu.” Ia menunjuk pada seorang wanita bertubuh kurus dan berambut panjang sebahu yang sedang berinteraksi serius dengan seluruh gadget-nya.

“Jangan dimasukkan ke bill. It’s my treat for her.” Lanjutnya.

Aku mengangguk saja dan berjalan menuju dapur.

Pada saat di depan pintu dapur, kulirikkan kembali mataku pada Roberto. Ia kembali seperti itu. Membeku seketika saat seorang wanita berambut panjang melintasi Tratorria.

Vanni. Itukah nama perempuan itu? Masihkah kamu mengingatnya?

Roberto… untuk beberapa detik saja, maukah kamu mengalihkan perhatianmu dari sosok yang tidak pernah bisa kaujangkau kembali itu.

Lihatlah aku… Aku di sini. Hanya berjarak dua meter saja. Tapi mengapa begitu sulit untuk menggapai hatimu.

Aku menahan degupan  jantungku yang semakin liar saat menatap wajahnya. Kualihkan kembali perhatianku pada secarik kertas pesanan yang ada di tanganku.

Kututup pintu dapur itu. Tapi tetap saja, pintu hatiku tetap terbuka lebar sejak pertama kali kamu menyapaku dengan nama yang bukan milikku itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s