Lepas


Kuparkirkan Toyota Corolla hitam sewaanku dengan perlahan. Sengaja aku mengambil jarak agak jauh dari sasaranku. Aku menunduk dengan cepat dan mensejajarkan ujung kepalaku dengan stir mobil, agar seseorang yang keluar dari taksi yang terpaut dua mobil didepanku, tidak menyadari keberadaanku.

Aku mengecek tonjolan revolver yang tersembunyi dibalik jaket kulitku. Dan saat aku merasakan keberadaannya tetap aman ditempatnya, aku merangsek keluar dari kotak besi ini tanpa perlu kukunci terlebih dahulu. Jaga-jaga jika penyamaranku terbongkar dan aku harus menyelamatkan diri.

Aku melayangkan pandangan dan menyisir lingkungan itu. Daerah Kemang ini tidak terlalu jauh dengan markas, cukup dengan perjalanan lima belas menit akan sampai dengan cepat.

Aku meraih buku catatan kecilku, dan mulai menuliskan nama tempat ini, Soriano Tratorria. Dua halaman buku catatan itu kini mulai penuh dengan berbagai nama tempat yang dikunjungi oleh targetku selama dua hari di Jakarta.

Dua hari yang lalu, sebuah deringan telepon nyaring terdengar pada ruangan kantorku di Divisi Informasi, Polisi Yudisial dan Statistik Pidana (DIPEC), Satuan Khusus Kepolisian. Atasanku menyebutkan sebuah nama asing, Aldo Vanucci.

“Buntuti dan catat kegiatannya di sini, Evan.” Ujar atasanku sambil memutuskan sambungan.

Aldo Vanucci adalah seorang pembunuh bayaran asal Inggris yang kini sedang melenggang bebas tak jauh dari tempatku berdiri. Interpol memburunya ke beberapa negara. Hingga dua hari yang lalu, mereka mendeteksi keberadaannya di Indonesia lewat paspor kekasihnya, Ellie Maryn. Dan kejadian kebetulan terjadi di Indonesia kemarin sore, disaat dirinya berada di wilayah negara ini. Ditemukan sebuah mayat yang hangus terbakar tanpa identitas. Tidak ada barang bukti yang tercecer, tidak ada sidik jari, tidak ada saksi mata. Kecuali sebuah mayat yang hampir terkremasi sepenuhnya jika seorang nelayan tidak menemukannya di tepi laut Ancol. Juga tentu saja, sebuah pita hitam yang hampir hangus terbakar. Ciri khas Aldo Vanucci yang kusadari saat aku membaca berkas yang dikirimkan oleh Interpol dua hari yang lalu.

Aku tidak berani berjalan melalui pintu masuk utama jika belum kupikir aman. Aldo terlalu berbahaya untuk kutangani dengan banyaknya orang di lingkungan ini. Salah-salah, seseorang akan terluka jika kami mulai beradu.

Tiba-tiba Aldo keluar dari restoran itu. Kurapatkan diriku pada dinding luar restoran itu. Sebuah tanaman yang cukup besar melindungi tubuhku. Entah apa yang dilakukannya di restoran Italia itu. Dan yang pasti alasannya bukan untuk mengisi perut, karena waktunya terlalu singkat.

Ia langsung memasuki sebuah taksi yang sedari tadi menunggunya. Aku langsung berlari kecil menuju mobil sewaanku dan mulai mengikuti taksi itu secara perlahan. Sengaja aku mengambil jarak diantara dua mobil agar tidak terlihat mencolok.

Taksi itu kemudian berhenti pada sebuah  gang kecil. Ternyata hanya beberapa blok saja dari restoran yang tadi. Aldo keluar dari mobil itu dengan santai dan menyalakan sebatang rokok. Menghisap dan menghembuskannya secara cepat. Asap putih mengepul di udara sebelum akhirnya angin berhembus dan membawanya pergi.

Aku pun turun dari mobilku. Dengan hati-hati aku melangkah tanpa suara mendekatinya.

You… come out from you’re hiding place.”

Suara berat itu menggetarkan setiap sel syaraf di tubuhku ini. Ia ternyata menyadari keberadaanku. Aku berusaha memasang wajah santai saat kemudian ia menangkap sosokku. Kami saling menganalisa masing-masing. Aku merasakan tonjolan revolver itu kian melesak pada rusukku. Ingin sekali aku menjangkaunya dan mengarahkan padanya.

Who are you? Local police? Or Interpol?” Dia bertanya lagi. Tapi aku tetap tak bergeming.

Tak jauh dari tempatnya berdiri, sebuah SUV hitam terparkir. Kemungkinan besar itu adalah kendaraannya.

Aku menangkap gerakannya saat ia merogoh saku jaketnya dengan tiba-tiba. Ia mengarahkan moncong hitam sebuah pistol ke arahku.

Dengan refleks aku menunduk dan berguling bersembunyi di balik mobilku. Kuraih revolverku dengan cepat dan kutarik pelatuknya untuk bersiap-siap.

Dor. Satu peluru ditembakkan ke arahku. Aku  tetap menunduk.

Bunyi pintu mobil terdengar dibuka dan ditutup dengan tergesa-gesa. Langsung saja aku mengarahkan senjataku padanya. Melepaskan beberapa tembakan ke arah SUV hitam yang kini berjalan pergi dan semakin menjauh.

“Brengsek!”

Dengan tergesa-gesa aku menaiki mobil sewaanku. Kunyalakan dan kuinjak pedal gasnya sampai menyentuh lantai.

“Lihat saja, aku akan menangkapmu. Bagaimanapun caranya.”

Advertisements

2 thoughts on “Lepas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s