Pengagum Rahasia


Nayang menatap jauh hamparan hijau perbukitan melalui kedua mata cokelatnya. Salah satu kegiatan yang paling ia sukai. Duduk di atas bangku kayu persegi dan berhadap-hadapan dengan sebuah kanvas kosong yang disangga oleh penyangga kayu yang vernisnya senada dengan bangku yang ia tempati.

Dia merasakan semilir lembut angin menyapu helaian rambutnya yang berwarna hitam legam. Mengacak-acaknya dengan gerakan membuai. Nayang menutup matanya. Merasakan setiap hembusan angin bergerak melewatinya, menyisakan lambaian ringan pada rok panjang birunya.

Kedamaiannya terusik saat ia mendengar langkah berat kaki menginjak dedaunan kering pada pohon didekatnya. Dengan cepat matanya membuka dan mengikuti arah sumber suara. Sebuah siluet tubuh manusia terlihat sedang bersembunyi di balik pohon buah mangga. Tidak terlalu tinggi, dengan badan yang agak kurus dan baju yang kebesaran.

“Halo.” Sapanya. Tapi sosok itu hanya terdiam tak bergeming.

“Siapa di situ?” lanjutnya.

Tetapi sosok laki-laki itu malah berlari menjauh.

Nayang tidak mempedulikannya. Ia kembali menghadap kanvas dan mulai mengangkat kuas. Tapi kemudian ia mendengar suara berisik dari pohon jambu di sebelah kirinya, yang tidak jauh dengannya. Sosok itu kembali terlihat di sana.

Tak habis pikir. Bagaimana mungkin ia bisa cepat berpindah dari pohon mangga ke pohon jambu itu dengan cepat.

“Kamu siapa?” tanya Nayang was-was. Entah mengapa sekarang bulu kuduknya meremang saat melihat sosok itu.

Sosok itu keluar dari persembunyiannya. Ia berjalan pelan ke arah Nayang. Kedua tangannya ia tempatkan di belakang tubuhnya, jauh dari jangkauan mata Nayang. Rambutnya pendek dan rapi, melayang-layang tersapu angin dengan pemandangan langit senja berwarna jingga kemerahan menggantung di atas langit. Ia tersenyum sekilas. Mata Nawang jatuh pada pakaiannya. Pakaiannya aneh, bukan seperti tren abad ke dua puluh satu. Ia seolah terperangkap di masa penjajahan dulu. Sebuah seragam kemiliteran.

Laki-laki itu berhenti. Menyisakan jarak lima langkah di dekat Nayang. Nayang kembali melihat perbedaan dirinya dengan laki-laki itu. Nayang merasa, seolah-olah ia tengah berada di dalam sebuah museum dan menatap lekat sebuah manekin yang dipasangkan baju seragam militer.

“Halo.” Sapa laki-laki itu.

“Halo juga.” Jawab Nayang ragu-ragu.

“Kamu sering melukis disini kan sendirian? Aku selalu memperhatikan kamu. Tapi baru kali ini, kamu menyapaku.”

Nayang mengangguk. Merasa baru kali ini juga melihat laki-laki itu.

“Rumah kamu dimana?” Tanya Nayang.

“Jauh dari sini. Aku terpisah dari pasukanku.”

Pasukan? Batin Nayang.

“Sudah berapa lama di sini?” Nayang bertanya kembali

“Cukup lama.” Balasnya singkat.

“Kamu… mau jadi temanku?” laki-laki bertanya.

Ia berjalan mendekat sambil mengulurkan tangan kanannya pada Nayang. Kedua mata Nayang tertuju pada telapak tangannya yang berwarna putih pucat. Seketika cahaya matahari redup menyinari telapak tangannya. Betapa kagetnya Nayang. Tangan itu ternyata transparan saat terkena cahaya matahari.

Protected by Copyscape Web Copyright Checker

FF untuk Writing Session edisi 1 April 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s