Selamat Pagi


Sebuah ketukan ringan di pintu kamarku membangunkanku. Aku yang masih malas membuka mataku, mau tidak mau harus menjawab panggilan itu. kuberanjak dari tempat tidurku, sebuah kasur tipis tanpa dipan sebagai penyangganya.

Kubuka pintu itu, “selamat pagi, Indah.” Sapa kakakku, Laras.

“Ada apa, Kak?” Aku bertanya pada Kak Laras sambil mengucek-ngucek mataku dan  menguap lebar.

Ia menarik tanganku ringan, “kita jalan-jalan yuk.”

“Sepagi ini, Kak?” Tanyaku lagi.

“Ya engga juga. Tapi yang pasti setelah kamu sholat dan mandi ya.” Jawab kakakku.

Aku menggeleng kuat, “gak mau ah. Nanti aja siangan.”

“Eh, ayo sekarang. Jangan malas, nanti rezekinya dipatuk ayam.” Katanya bercanda sambil mendorongku menuju kamar mandi.

Dengan malas aku menyelesaikan aktivitas pertamaku di pagi itu. Lalu setelah selesai semua, kami langsung berangkat dengan menggunakan sepeda tua peninggalan ayah yang kini sudah karatan di sana-sini.

“Nah, di sini aja ya.” Ucap kakakku sambil menghentikan laju sepedanya. Aku yang sedari tadi membonceng di belakang langsung turun dengan cepat.

Ternyata Kak Laras membawaku ke sungai yang tidak jauh dari rumah kami. Kami duduk di rerumputan kering dekat pohon rindang di sana. Memandang jauh ke arah sungai bukanlah hal yang ingin kulakukan. Kata ayahku, dulu sungai ini sangat bersih dan jernih. Tapi sekarang, begitu kotor dan berbau tidak sedap.

“Kak, ada apa? Tumben ngajak aku jalan-jalan.”

Ia diam termenung dan terperangkap dalam khayalannya.

“Indah, maafin kakak ya.” Ucapnya.

Pikiranku melayang pada kejadian seminggu yang lalu. Saat seseorang datang ke rumahku dan menawarkan sejumlah mimpi padaku. Mimpi yang aku bahkan tidak bisa membayangkannya.

“Gak apa-apa kok, Kak. Indah ngerti posisi kakak. Indah juga kasihan sama kakak yang tiap hari harus banting tulang cari uang agar Indah bisa terus sekolah.”

Tanpa arahan sebelumnya, tiba-tiba Kak Laras memelukku dengan erat.

“Baik-baik ya, sama keluarga baru kamu nanti. Kakak gak akan pernah lupa sama kamu, walau kamu nanti udah punya keluarga baru.” Katanya sambil terisak pelan.

Aku membalas pelukannya, “iya, kak. Kak Laras akan tetap jadi keluarga aku walaupun aku diadopsi.”

Sepanjang pagi itu, kami terus saja bergandengan tangan. Wajah kami menyiratkan gambaran yang sama. Tiba-tiba saja tidak mau saling melepaskan. Padahal sebentar lagi, keluarga baruku akan menjemputku di rumah.

“Kakak, apapun yang terjadi, kakak tetaplah kakakku. Aku sayang kakak.”

Kata terakhirku pada kakakku. Tapi yang pasti rasa itu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun.

Protected by Copyscape Online Plagiarism Tool

Advertisements

2 thoughts on “Selamat Pagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s