[Holiday Writing Challenge] Life, Without You


#Sembilan

Lyn menatap jam dinding di apatemennya. Detik demi detik telah terlewati sejak pembicaraan terakhirnya dengan Bagas di telepon. Suasana hati gembira yang tadi dirasakan olehnya kini menguap menjadi awan-awan kelabu. Dan lama kelamaan, titik-titik air itu muncul dari kedua bola matanya yang menyiratkan kekhawatiran yang mendalam.

“Bagas… kamu dimana…” Ucapnya lirih.

Ia kembali mengecek data panggilan terakhir di smartphone-nya. Di sana jelas-jelas tertera pukul enam tiga puluh. Dan saat ini, sudah tiga jam berlalu. Ia kembali berdiri di dekat jendela apartemennya dan menatap lurus pada jalanan yang kini mulai lengang dari kendaraan roda dua dan tiga yang biasanya ramai pada saat jam pulang kerja. Berharap setiap wajah yang muncul dari sebuah mobil itu adalah milik Bagas.

Lyn teringat dengan kaus Bagas yang basah saat tadi pagi ia bangun dari tempat tidurnya, juga dengan wajahnya yang pucat. Hanya karena satu kata ajaib “rapat” semua tidak dipedulikannya. Pekerjaannya mendapat prioritas lebih tinggi daripada kesehatannya.

Entah untuk keberapa kalinya, Lyn menghubungi kembali ponsel Bagas. Tapi nada sambung yang lama-lama membuatnya bosan tetap menyapanya dengan riang, dan Bagas masih belum menjawab teleponnya. Lyn menggigit bibirnya dengan keras. Rasa khawatirnya kian memuncak. Lalu di saat bersamaan, sebuah panggilan masuk. Lyn langsung mengangkatnya tanpa jeda, walaupun nomor telepon yang tertera sama sekali tidak ia kenal. Ia hanya berharap, suara di ujung sana adalah milik Bagas.

“Halo.” ucap Lyn cepat.

“Sayang…” rintih seseorang diujung sana.

“Mas Bagas?” tanyanya meyakinkan.

Jeda.

“Mas?” tanya Lyn lagi.

“Aku… aku kecelakaan,” katanya pelan.

Tiba-tiba Lyn panik. Dorongan ingin berlari dari tempatnya beranjak saat ini sangat kuat. Sambungan telepon itu kembali berjeda. Tak lama kemudian, seorang wanita bersuara serak berbicara dengannya.

“Ibu Lyn? Saya suster yang saat ini menangani Bapak Bagas. Tolong ibu segera datang ke RSCM. Pak Bagas saat ini membutuhkan anda.” ujar sebuah suara diujung sana.

Tanpa pikir panjang Lyn langsung memutuskan sambungan telepon itu. Ia menyambar sebuah sweater biru tua yang tergeletak dengan bebas di atas sandaran kursinya dengan cepat. Kemudian ia berlari menuju sebuah meja kerja untuk mengambil kunci mobil dan juga dompetnya. Dengan langkah yang tergesa-gesa ia menuju parkiran.

Untung jalanan sama sekali tidak macet, sehingga waktu yang ia butuhkan untuk sampai di rumah sakit hanya sekitar empat puluh lima menit saja.

Kakinya menapak pada lantai rumah sakit itu dan menimbulkan gema. Ia bertanya dengan panik tentang keadaan suaminya pada seorang suster yang pertama kali ia lihat di meja resepsionis. Pemandangan seperti itu adaah biasa bagi semua orang yang berada di situ. Keluarga pasien datang, membuat kehebohan sambil berteriak-teriak bertanya dimana sanak keluarganya, lalu kemudian lari di sepanjang lorong menuju orang yang dikasihinya. Sehingga Lyn sama sekali tidak di pedulikan. Beberapa orang tetap tenang sambil beberapa kali mengeluarkan tawa saat menonton televisi yang menayangkan sebuah acara komedi. Hal itu juga terjadi pada staf yang bekerja di rumah sakit tersebut. Mereka hanya memandang sekilas, tersenyum maklum ─bahkan ada pula yang tidak─ lalu kemudian kembali melanjutkan aktivitas kerjanya.

Seorang suster bernama Susi mengantarkannya menuju ruang inap Bagas. Lyn memasuki ruangan sempit bercat putih itu dengan perasaan was-was. Bagas yang sedang tergeletak lemas di ranjang rumah sakit langsung bereaksi ketika pintu dibuka.

Langkah Lyn terhenti. Ia menatap Bagas dengan lekat. Sebuah penyangga dipasangkan dengan kaku pada leher Bagas, lalu kaki kanannya tampak berukuran dua kali lipat dari normal karena dibalut oleh gips. Kedua mata Lyn kembali basah. Didekati suaminya itu dengan perasaan lega.

“Sayang…” desah Bagas.

“Sttt… kamu gak usah memaksa bicara dulu, kalau tidak bisa,” balas Lyn sambil mengecup lembut kening suaminya itu.

“Syukurlah kamu selamat. Lain kali… jika kamu mengantuk karena pengaruh obat jangan memaksa menyetir ya.” lanjut Lyn mengulang singkat perkataan suster Susi tadi bahwa ternyata suaminya itu tertidur sesaat setelah mengkonsumsi obat demam, sehingga tanpa sadar ia menabrak sebuah pohon besar. Untung saja ia bisa diselamatkan dan hanya menderita luka yang tidak seberapa dibandingkan jika ia kehilangan nyawanya.

Tangan Bagas tampak bergerak-gerak di dalam selimutnya. Lalu beberapa saat kemudian, ia mengeluarkan dan mengulurkan sebuah kotak kecil berlapiskan bahan beludru berwarna hitam pada Lyn.

“Selamat ulang tahun, sayang. Maaf… kita tidak bisa merayakan ulang tahunmu seperti yang sebelumnya kita rencanakan.”

Lyn membuka kotak itu. Di dalamnya tergeletak indah sepasang anting-anting perak, “dibandingkan benda apapun di dunia ini. Kamu lebih berharga. Dan hidup tanpamu, tidak pernah bisa kubayangkan. Tetaplah di sisiku…” Lyn kembali mengecup kening Bagas.

Mereka terus berpelukan di atas ranjang rumah sakit yang sempit itu sampai pagi menjelang.

Dikecupnya kening Lyn secara perlahan, agar tidak membangunkannya.

“Selamat ulang tahun lagi ya. Aku sayang kamu, Lyn. Selamanya…”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s