Sebuah Pesan


Aku memasuki sebuah warung bakso langgananku di dekat kampus sendirian. Suasana di dalam sangat riuh karena pada saat sekarang ini berbarengan dengan jam istirahat makan siang pegawai kantoran. Ada yang asyik mengobrol sambil tertawa-tawa, ada pula yang hanya berniat untuk makan siang dan tidak repot-repot menunggu lama untuk menghabiskan hidangan bakso penggugah selera yang telah tersedia di hadapan mereka.

Aku mengambil bangku paling ujung, di dekat meja kasir warung itu. Hanya di tempat itulah satu-satunya bangku kosong berada. Warung bakso Pak Min memang selalu laris dibajiri oleh para pelanggan setianya. Harganya yang murah dan rasanya yang tidak kalah dengan warung bakso lainnya menjadi daya tarik tersendiri.

Setelah berteriak mengenai pesananku, aku langsung duduk diam sambil mengotak-atik ponselku. Beberapa kolom chat yang tadi belum ku jawab, kini ku balas satu per satu. Pesananku datang setelah lima belas menit lamanya aku menunggu. Kini suasana di warung itu menjadi sepi, dengan bangku bolong-bolong karena ditinggalkan oleh para penikmat bakso dengan perut penuh. Bahkan kini di mejaku sendiri, aku hanya duduk sendirian sambil menghadapi semangkuk bakso yang masih mengepul hebat.

Ritualku dimulai. Ku campurkan beberapa sendok sambal, kecap manis, dan cuka ke dalam mangkuk baksoku. Dan ku aduk-aduk sampai tercampur semua. Saat aku akan melakukan suapan pertama, sesosok wanita datang menghampiri dan langsung duduk dihadapanku sambil tersenyum ramah.

“Halo.” Sapanya.

Aku membalas sapaannya, “Halo.”

“Kamu Lastin kan?” Tanyanya.

Aku memindai wajahnya. Berusaha mengenalinya dari struktur wajahnya yang bulat telur, dengan mata agak sipit berwarna cokelat kehitaman, hidung kecil yang mancung, serta bibir tipis yang merekah merah. Tapi tetap saja, aku tidak mengenalinya.

“Mbak siapa ya?” Balasku bertanya.

Ia tersenyum lagi. Entah apa maksud senyumnya itu.

“Ah… gak penting kok siapa saya. Yang pasti saya tahu kamu.”

“Kok gitu, mbak. Siapa tahu aja mbak orang jahat. Mau culik atau jual saya.” Ucapku jujur sambil sedikit waspada.

Ia terkikik di tempatnya duduk. “Kamu memang selalu jujur ya kalau ngomong. Kalau sekarang, saya udah gak bisa kayak gitu lagi.”

“Yee… malah ketawa si mbak. Mbak tuh siapa? Saya mulai takut nih.” Desakku.

“Ya udah. Dari pada saya bikin kamu takut. Saya pergi deh.” Katanya sambil berdiri dari bangkunya.

Sebelum ia melangkah pergi. Ia berkata untuk terakhir kalinya, “malam ini. Ajak ibumu pergi keluar, minimal sampai jam sepuluh malam jangan dulu pulang ya.”

Suapan baksoku kembali tertahan oleh kata-katanya. Dasar orang aneh, batinku.

Setelah ia pergi menghilang entah kemana, aku kembali menyelesaikan makananku dan beranjak kembali ke kampusku untuk menyelesaikan mata kuliahku hari ini.

***

Setibanya di rumah, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Semua ruangan di rumahku kini telah dipenuhi oleh pendar cahaya lampu neon. Tampak ibu sedang melepas lelahnya, rebahan di sebuah sofa di ruang keluarga. Kemudian beranjak bangun saat ia melihat aku memasuki ruangan itu.

“Kamu kok baru pulang, Nak?” Tanya ibuku dengan suara yang lelah.

“Barusan aku fotocopy dulu bahan kuliah untuk besok, Bu.” Jawabku.

“Sudah makan?”

“Belum. Kalau ibu?”

“Ibu juga belum. Baru aja sampai, belum sempet masak. Mau rebahan dulu aja sambil nunggu air matang.”

Tiba-tiba aku teringat tentang perkataan seorang wanita aneh tadi siang.

Malam ini. Ajak ibumu pergi keluar, minimal sampai jam sepuluh malam jangan dulu pulang ya.

“Bu… makan di luar yuk. Aku yang traktir. Tadi gaji asistenku udah cair nih.” Ajakku.

Ibu yang tertarik dengan ajakanku, matanya langsung mengerling penuh binar.

“Bener nih?” Tanyanya meyakinkan.

“Iya, Bu. Masa Lastin bohong sih. Yuk ah, udah lama gak makan di luar.” Ajakku kembali.

“Eh, tunggu. Ibu ganti baju dulu. Masa masih pake seragam dinas sih.”

“Ah gak usah, Bu. Aku aja belum ganti. Yuk langsung pergi aja.” Kataku memaksa.

Entah apa yang terjadi. Tapi perkataan wanita aneh tadi siang itu membuatku paranoid. Aku ingin cepat-cepat membawa ibuku keluar dari rumah.

Kami langsung pergi begitu Ibu sudah siap untuk pergi. Ku keluarkan kembali sepeda motor bebekku dari dalam garasi. Ku pencet tombol starter-nya, lalu seketika raungan halus keluar dari motor itu. Ibu langsung duduk di belakangku, memeluk longgar pinggangku. Ku injak gigi maju, dan motor itu pun melaju halus di jalanan.

Pada saat akan berbelok di tikungan pertama dekat dengan rumahku, tangan ibu mengetat pada bagian di bawah tulang rusukku.

“Lastin, ibu lupa mematikan kompor!” Serunya.

Aku langsung mengerem mendadak dan akan membelokkan motorku kembali ke arah rumah, saat perkataan Ibu menahan tindakanku.

“Sudah, kamu tunggu disini saja. Ibu jalan saja ke rumahnya. Kan dekat.” Ucapnya sambil turun dari sepeda motorku dan berlari kecil menuju rumah.

Pada saat yang sama ponselku berbunyi. Suara seksi Michael Buble menyenandungkan lagu Save the Last Dance For Me pada bagian chorus. Di layar nampak nama sahabatku, Tika. Langsung saja aku menjawab panggilan tersebut sambil menunggu Ibuku kembali. Aku dengan asyiknya bersenda gurau dengan Tika di ponsel, sampai-sampai lupa tentang Ibuku.

Tika menyudahi percakapan itu. Aku melirik singkat pada penanda waktu yang tertera dalam ponselku.

Sudah lima belas menit. Dimana Ibu? Pertanyaanku menggema dalam hati.

Baru saja aku akan membelokkan kembali sepeda motorku ke arah rumah. Tiba-tiba terdengar sebuah teriakan panik dari mulut tetanggaku, Bu Romlah.

“Kebakaran! Kebakaran!”

Spontan aku langsung berpikir tentang Ibu. Aku langsung turun dari sepeda motorku. Memarkirkannya di sudut jalan, lalu berlari dengan kencang menuju rumah.

Dengan jantung yang berdebar keras aku melihat sedikit demi sedikit rumahku mulai dilalap api.

“Ibu!” Teriakku dengan air mata mengalir deras.

Tiba-tiba ku rasakan tangan-tangan tetangga dekatku menggapai tubuhku. Mereka menahanku agar tidak masuk dalam kobaran api yang terus membesar.

Ku dengar lamat-lamat suara sirene mobil pemadan kebakaran tiba di komplek perumahanku. Aku berjongkok dengan kepala kosong di sebelah tempat sampah di depan rumahku.

“Dik, jangan disini. Terlalu dekat api, mundur lagi ke belakang.” Ucap salah satu petugas pemadam kebakaran.

“Ibu… tolong selamatkan ibuku, Pak.” Ucapku lirih.

***

Dari kejauhan berdirilah seorang wanita sambil menangis saat menatap sebuah rumah perlahan-lahan dilalap oleh api. Ia melihat seorang remaja yang terkulai lemas sambil berlinang air mata di sebelah tempat sampah rumah itu.

Seperti apa yang telah terpatri dalam kepalanya. Kejadian dua puluh tahun lalu kembali ia lihat dengan kedua matanya.

“Ibu…” Bisiknya.

Maafkan aku. Tidak bisa menolongmu lagi. Sama seperti saat itu.

Wanita itu kembali menangis. Isak tangisnya teredam oleh suara sirene mobil pemadam kebakaran yang baru saja datang.

Protected by Copyscape Online Plagiarism Software

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s