Payung Ungu Amela


Langit mengabu. Awan-awan hitam bertebaran di langit secara berkelompok. Hal tersebut sudah berlangsung selama beberapa bulan. Tetapi sang awan seperti belum memperoleh cara untuk mengeluarkan isi hatinya dan menangis.

Di sebuah gang kotor di antara barisan rumah petak yang tidak beraturan, berdiri seorang gadis cilik memeluk sebuah payung berwarna ungu sedang menatap ke arah langit dengan pandangan kosong. Ia bersandar pada dinding sebuah rumah yang catnya hampir seluruhnya terkelupas dan dipenuhi oleh lumut kering berwarna coklat tua pada beberapa bagian. Menyaksikan awan yang bergerak menjauh dan mendekat di atas kepalanya. Di sebelahnya, terkulai lemas sebuah tubuh renta dengan bibir kering dan pecah-pecah.

“Amela, bukalah payungnya.” Ucap wanita tua itu.

Amela menggeleng kuat-kuat dan semakin mempererat kuncian tangannya pada payung ungunya.

“Nenek sudah tidak kuat lagi. Nenek perlu minum.” Lanjut wanita itu kemudian.

Gadis cilik itu berbalik menatap wajah neneknya dengan mata yang basah oleh air mata yang dikeluarkannya sejak tadi dalam diam.

“Nenek tahu kan apa akibatnya jika aku membuka payung ini?” Kata Amela disela isak tangisnya yang tidak dapat ia tahan lagi.

Wanita tua itu kembali terdiam. Matanya seolah-olah menerawang jauh melewati sebuah masa yang telah lalu dan terperangkap di dalamnya.

Amela kembali menatap langit. Membiarkan neneknya sendiri dengan lamunannya. Ia pun tanpa sadar kembali memundurkan waktu pada saat pertemuan pertamanya dengan payung ungunya itu.

Kira-kira pada saat itu pun langit mirip dengan saat ini. Mendung tetapi tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Udara pun kering dengan panas yang menyengat. Sesekali debu, kotoran, sampah, dan virus penyakit tersapu oleh angin dan berpindah tempat. Amela duduk di beranda depan rumah petaknya dengan ditemani oleh ibunya.

“Ibu, jika ladang kita tidak disiram oleh air, akan bagaimana jadinya kita nanti?” Tanya Amela pada ibunya.

Ibunya mengelus puncak kepala Amela, “sabar, sayang. Tuhan sedang memberikan kita cobaan. Nanti pasti akan ada jalan bagaimana tanah di ladang itu kembali basah.”

“Tapi kasihan Ayah, ia harus membawa air berpuluh-puluh kilometer jauhnya.” Ujar Amela kemudian.

Ibunya hanya tersenyum sekilas menanggapi pernyataan putri semata wayangnya itu. Ia lalu masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Amela duduk termenung sendirian.

Tak lama kemudian ia melihat seorang kakek tua mendekati sebuah tempat sampah yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Ia mengamati raut wajah kakek itu. Wajahnya pucat dan menyiratkan kepedihan yang mendalam. Dengan cepat ia membuang sebuah payung berwarna ungu yang tadi dipegangnya tanpa menoleh sedikitpun, kemudian ia melangkah pergi pada jalan yang sama dengan arah datangnya tadi.

Amela penasaran. Ia melompat turun dari bangku tempat ia duduk dan berlari kecil menuju payung ungu itu dibuang. Ia langsung menyambar dan menepuk-nepuk debu yang menempel pada payung itu. Ternyata payungnya masih bagus. Kenapa kakek tadi membuangnya ya? Pikir Amela.

Pelan-pelan ia membuka payung itu dan menyampirkannya pada bahu kanannya, lalu kembali melangkah menuju rumahnya.

Tanpa Amela duga, hujan turun. Awalnya hanya sebuah rintikan kecil, namun lama kelamaan hujan itu semakin deras dan disertai dengan angin kencang dan petir yang menggelegar memecah keheningan bumi.

Amela berlari dengan susah payah menuju rumahnya. Rok birunya kini hampir semuanya basah dan terciprat oleh tanah yang dipantulkan oleh air hujan.

“Ibu! Hujan akhirnya turun!” Serunya pada ibunya yang kini berdiri di depan beranda rumahnya dengan senyum terkembang indah di wajah kurusnya.

Dengan hanya jarak yang tinggal beberapa langkah saja, Amela menghentikan langkah kakinya. Ia melihat dinding sebelah kanan rumahnya mulai retak dengan bunyi mengerikan. Beberapa detik kemudian, dinding itu retak dan membawa air sungai yang meluap menyapu rumah dan ibunya pada beranda itu.

“Ibu!.” Teriak Amela terakhir kali pada ibunya.

Kehilangan itu tak berhenti sampai disitu. Kejadian terulang kembali saat Amela membuka payung ungunya. Tapi kali ini ayahnya yang tersapu oleh arus air. Amela berpikir. Mungkin itu adalah salah satu sebabnya kakek tua yang membuang payung ungu itu berwajah sedih. Ia pun mengalami nasib yang sama dengan Amela.

Amela tersadar dari mimpi buruknya yang terus terulang dalam kepalanya. Sepasang tangan kurus dan keriput membelai wajah Amela dengan lembut.

“Nak, kamu harus membuka payung itu. Saat ini, itu adalah salah satu jalan menghilangkan kekeringan yang berkepanjangan ini.” Ucap neneknya.

Amela mempererat kembali kuncian tangannya pada payung itu. Tak bergeming dengan permintaan neneknya.

“Kamu harus mengikuti saran nenek, Amela. Lihatlah di sekelilingmu. Semua orang terkena dampak dari kekeringan ini. Jika kamu membuka payung itu, bukan hanya satu nyawa saja yang terselamatkan, tapi ribuan.” Lanjutnya kemudian.

“Tapi… aku akan kehilangan sebuah nyawa lagi…” Ucap Amela tanpa menyelesaikan kalimatnya.

“Anggap saja kita sedang berada di tengah-tengah sebuah peperangan. Nyawa ribuan orang itu lebih berharga daripada satu nyawa saja.”

“Tapi…”

“Lakukan Amela. Lalu setelah dikira cukup, buanglah jauh-jauh payung itu.”

Amela terisak pelan saat membuka kaitan yang mengelilingi payung itu, lalu kemudian menggandeng neneknya pergi menjauhi tempat tinggalnya.

Hujan langsung turun dengan derasnya. Amela melepas genggaman tangannya pada neneknya untuk menyeka air matanya. Namun, kejadian tak diduga kembali menimpanya. Neneknya terpeleset jatuh pada jalanan yang licin itu dan tercebur masuk ke dalam sungai.

“Nenek! Nenek jangan tinggalkan Amela sendirian!” Tangis Amela kembali pecah.

Dari kejauhan ia bisa mendengar sorakan gembira dan ucapan syukur warga sekitar. Tapi Amela tidak merasakan hal yang sama. Hatinya menangis, sama seperti kedua matanya. Sama seperti keadaan langit saat ini.

Amela melempar payung ungunya pada pinggiran sungai. Tak lama kemudian arus air menggulung payung itu dan membawanya pergi. Sama seperti neneknya.

“Pergi! Pergi yang jauh! Jangan pernah kembali.”

 Protected by Copyscape Online Copyright Checker

Sumber gambar : http://www.intermission.nu/under-my-purple-umbrella/ (purple umbrella by lorienzeren)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s