Kenangan


Pelepah pisang di hadapan Nana kini sudah terburai tidak beraturan saat bongkahan kayu yang dipegangnya, dipakai untuk memukul pelepah itu berulang-ulang. Matahari kini telah berada tepat di atas kepala, bersinar dengan teriknya tanpa peduli penghuni bumi yang meringis dengan terpaan hawa panas itu.

“Ibu, mau berangkat jam berapa sih? Kok sampai jam segini masih pada santai-santai aja.” Ujar Nana ketus.

Senyum seorang perempuan berkerudung merah jambu menanggapi pertanyaan itu, “nanti sayang. Sorean dikit ya… kasian nenek masih kangen sama kamu tuh.”

Nana yang sejak tadi suasana hatinya sedang mendung, jawaban itu malah semakin mengguncang badai dalam hatinya. Dan karena tidak mau berdebat dengan ibunya, ia langsung berdiri dan berlalu pergi menuju jalan setapak yang menghubungkan rumah neneknya dengan Pantai Ujung Genteng, Sukabumi.

“Na, jangan jauh-jauh. Nanti ibu susah cari kamunya.” Ibunya berteriak padanya, lalu meneruskan kembali menyantap es kelapa muda segar.

Nana tidak menggubris perkataan ibunya, ia terus berjalan menuju pantai. Di sepanjang jalan, ia mencabut beberapa helai daun dari tangkainya untuk memuaskan kekesalannya. Bukannya ia tidak mau berlama-lama di tempat ini. Tetapi, seluruh pikirannya tersita dengan ujian statistika pada hari senin, yang tinggal tiga hari lagi. Ia sudah mendapatkan nilai D di semester yang lalu gara-gara tidak bisa ikut ujian dan harus diopname di rumah sakit karena penyakit tifus. Setidaknya ia ingin nilainya naik, walaupun tidak harus mendapatkan nilai sempurna.

Hamparan pasir putih dan laut berwarna biru disuguhkan di depan matanya. Ia tersihir oleh pemandangan itu dan tiba-tiba kekesalannya menguap dan hilang terbawa udara. Dengan langkah pasti ia berjalan menuju sebuah pohon kelapa di pinggir pantai, lalu kemudian duduk bersila tanpa khawatir celana katun putihnya ternoda.

Ia lalu mengeluarkan ponsel pintarnya dan mulai memerangkap pemandangan indah itu dengan cepat. Tak lama kemudian, gambar itu terpampang dengan jelas pada kolom jejaring sosialnya.

Ini lebih keren dari statistik! Ketik Nana pada Twitter-nya.

Setelah asyik dengan ponselnya, ia menangkap wajah seseorang yang dikenalnya sedang berjalan ke arahnya dengan membawa seember penuh kerang. Nana langsung berdiri dari duduknya.

“Neng Nana, nuju naon di dieu nyalira?1” Tanya Mang Udin, tetangga nenek.

Nana yang menyadari kemampuannya berbahasa sunda pas-pasan, tidak berani menjawab dalam bahasa yang sama, “lagi cari angin, Mang. Itung-itung salam perpisahan sebelum pulang ke Jakarta.” Ucap Nana ramah.

“Eh si eneng. Naha nyarios kitu. Sok ameng deui ka dieu. Bu Atik ge pasti bungah.2” Kata Mang Udin lagi.

Nana yang tidak mengerti keseluruhan kalimat itu hanya bisa tersenyum salah tingkah sambil berkata, “iya, Mang.”

Saat berbicara bilingual dengan Mang Udin, Nana menangkap sesosok laki-laki tidak jauh darinya sedang menatap penuh minat pada pembicaraan mereka berdua. Laki-laki itu langsung menunduk dan memalingkan muka ketika Nana membongkar aksi curi-curinya itu. Dan tak lama kemudian, dua pasang mata kini menatap laki-laki itu saat Mang Udin pun mengikuti arah pandang Nana.

Lelaki itu tersenyum pada Mang Udin sambil menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat. Sadar tidak bisa menyembunyikan diri lagi.

“Siapa, Mang?” Tanyaku dengan nada suara rendah agar tidak terdengar oleh laki-laki itu.

Eta teh Surya, putrana Pak Mamat. Bumina oge cakeut sareng Bu Atik3.” Jawab Mang Udin. Tak lama kemudian ia memanggil laki-laki yang bernama Surya tersebut, “cik kadieu heula. Dikenalkeun heula sareng Neng Nana4” Ucap Mang Udin kemudian.

Laki-laki itu langsung berjalan menghampiri kami sambil terus tersenyum malu-malu. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana jeans kumalnya yang sudah dengan penuh sobekan di sana-sini.

Ieu teh Surya, Neng. Surya, ieu Neng Nana incuna Bu Atik.5” Mang Udin mengenalkan kami.

Dari kalimatnya, jelas saja ketahuan bahwa tadi Nana yang telah menanyakan Surya lebih dulu. Rona merah jambu kini mendarat juga di pipi Nana, karena Mang Udin telah membongkar pembicaraan dengannya sebelumnya.

Dari kejauhan tampak Bi Neneng memanggil Mang Udin dengan suara yang tidak jelas terdengar. Mang Udin yang menyadari istrinya sedang memanggilnya, langsung merespon dengan cepat.

Neng, tos heula nya. Mamang tos disauran, sok ngobrolna sareng Surya wae.5” Ucap Mang Udin sambil menyampaikan ucapan perpisahannya dan meninggalkan kami yang sama-sama berdiri dengan canggung sambil menatap punggungnya.

Surya berusaha mencairkan keadaan dengan menyapa Nana, “Halo.” Kata Surya sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Nana.

Nana balas tersenyum kaku sambil membalas jabatan tangannya Surya, “halo juga.”

Surya yang bingung mau berbicara apa lagi langsung duduk di pasir putih itu dengan posisi tangan melingkar pada kakinya. Tak lama kemudian, Nana pun duduk bersila di sebelah Surya.

“Lautnya bagus ya.” Kata Nana.

“Iya.” Jawab Surya singkat.

Obrolan itu berjeda kembali. Masing-masing dari mereka bingung harus memulai percakapan seperti apa.

“Bisa memancing di laut gak?” Tanya Nana mencoba mengajak Surya mengobrol kembali.

Ia menggelang kuat-kuat, “gak bisa. Payah ya… padahal anak pantai.”

“Eh iya, asal Nana darimana?” Lanjutnya.

“Dari Jakarta. Sekarang aja lagi liburan… eh bukan jenguk nenek. Bilangnya sakit, taunya cuma pengen dijengukin aja.” Seru Nana sambil tawanya berderai saat mengatakan kelakuan usil neneknya. Tak lama kemudian obrolan mereka tidak kaku lagi, mereka saling berbagi kisah dan kejadian seru selama hidup mereka.

“Eh masa?! Surya juga kuliah di Jakarta?” Tanya Nana dengan heran.

“Engga di Jakarta juga sih. Di Depok, itu yang jaket almamaternya warna kuning.”

“Oh! Kirain kader partai yang warna kuning!” Potong Nana, lalu kemudian terdengar kembali tawa berderai keluar dari mulut mereka.

Tak terasa kini matahari yang tadi bersinar dengan semangatnya, kini meredup dan kelelahan. Tanda pergantian shift-nya dengan bulan. Semburat warna kemerahan mempercantik langit yang kini mulai mengabu. Nana mengarahkan ponselnya untuk kembali mengambil gambar. Sekali lagi, ia terpesona oleh karya lukisan Tuhan itu.

“Udah mau malem. Aku pulang dulu ya, Surya.” Ucap Nana.

“Oh iya. Yuk pulang, sekalian dianterin ya. Kan rumahnya deket sama rumah aku.” Ajaknya.

“Iya deh.” Balas Nana mengiyakan.

Nana kembali berjalan di jalan setapak yang tadi dilaluinya saat datang. Kembali ia mencabuti dedaunan dari batangnya. Tapi kali ini, bukan karena kesal. Melainkan karena gugup. Baru pertama kali ini, ia diantarkan oleh seorang laki-laki seumur hidupnya. Tak lama kemudian, Nana sampai di depan pagar rumah neneknya. Masing-masing dari mereka saling mengucapkan sampai jumpa dengan debaran yang masih tertinggal di rongga dada. Satu kenangan telah terpatri sempurna di dalam otak mereka.

***

Sebuah wana melingkar-lingkar membentuk spiral di atas kepala Nana. Mulanya berwarna merah, lalu kemudian berubah menjadi kuning, biru, ungu, dan hijau. Tak lama kemudian warna itu menghilang dan tergantikan oleh semburat putih di atas sebuah lukisan hitam. Mata Nana langsung membelalak dengan kaget. Mimpinya barusan langsung terlupakan. Sepasang mata hitam menatap tak jauh darinya, tubuhnya yang berwarna putih dan hitam masih terlihat jelas dari cahaya lampu dinding yang nyalanya remang-remang. Boneka zebra pemberian nenek waktu kecil dulu ternyata sedang menyapa paginya dengan ceria.

“Na, ayo bangun. Shalat subuh dulu gih, terus mandi. Kita berangkat ke Jakarta setengah jam lagi.” Seru Ibu Nana sambil menggedor pintu kamarnya.

Nina langsung beranjak dari posisi tidurnya. Ia membuka pintu kamar di rumah neneknya itu dengan tergesa-gesa.

“Bu, kok pulang sekarang. Katanya lusa.” Terdengar nada tidak suka dari suara Nana pada Ibunya.

“Ayah ada rapat mendadak di kantornya nanti siang. Lagi pula kan kamu harus ujian hari senin. Udah sana mandi dulu dan shalat.” Perintah Ibunya.

Nana jalan dengan menghentakkan kaki ke kamar mandi. Ibunya kembali merusak jadwal Nana lagi hari ini. Padahal ia sudah janji dengan Surya akan melihat penangkaran penyu.

Hanya dalam waktu dua puluh menit saja, Nana telah selesai dengan persiapannya. Ia langsung menuju ruang tengah dimana nenek, ibu, dan ayahnya sedang menunggunya. Tak lama kemudian mereka berpamitan dan langsung menuju mobil untuk pulang ke Jakarta.

Perlahan, mobil yang mereka tumpangi berjalan. Nana melihat neneknya terus melambai ke arahnya. Wajahnya sudah menyiratkan kerinduan kembali. Nana membalas lambaian neneknya yang lama kelamaan sosoknya mulai hilang dan tak terlihat kembali, seiring dengan laju mobil yang semakin cepat.

Ia lalu teringat dengan Surya. Cepat-cepat ia mengambil ponselnya dan mengetikkan sebaris kalimat pendek.

Harus pulang. Maaf hari ini batal 😦

Tanpa menunggu lama, suara pesan masuk pun berdering. Nana lalu membuka pesan itu.

Gpp. Hati2 ya di jalan. Nanti klo ke Ujung Genteng lagi, kasih tau ya 😀

Ia mematikan ponselnya lalu memposisikan tubuhnya untuk kembali tidur dan melanjutkan mimpinya yang tadi ia lupakan sebelum ketukan pintu membangunkan dirinya.

Deru mobil yang terdengar seolah-olah sebuah nina bobo menghantarkan Nana kembali ke alam mimpi.

Itu lah terakhir kalinya Nana bertemu dengan Surya.

***

Nana menaiki tangga kampusnya sambil membawa ransel berisi buku textbook tebal dengan susah payah. Di ujung tangga telah menunggu Lani dengan menatap tak sabar ke arah Nana yang berada lima anak tangga di bawahnya.

“Ayo, Na. Cepet. Telat nih.” Seru Lani dengan tidak sabar.

“Bentar sih. Berat tau.” Balas Nana cepat.

Lani tertawa pelan, “lagian… siapa suruh lu bawa isi toko buku di ransel lo. Kita kan Cuma mau presentasi, Na.”

“Iya… iya tau. Sana duluan, gue tar nyusul. Lo jagain bangku yang strategis ya buat gue.”

“Ini mau presentasi, Na. Bukan ujian.” Kata Lani gemas, lalu ia kemudian berlari di sepanjang lorong menuju kelasnya.

Nana mengutuk pelan. Kesal dengan isi ranselnya yang berat. Ia merasa tidak siap dengan presentasi ini sehingga membawa semua bahan-bahannya untuk dibebankan di punggungnya.

Ia berjalan dengan langkah gontai dan mengikuti jejak Lani untuk sampai di kelasnya. Beberapa wajah yang ia kenal melemparkan sapaan dan senyum yang kemudian dibalasnya dengan cepat.

Pada saat beberapa langkah lagi menuju kelasnya, Nana menangkap sosok yang ia rasa kenal. Potongan rambutnya berubah, tapi gayanya saat memasukkan tangannya ke dalam saku celana jeans itu yang selalu ia kenali.

Surya?

“Nana, cepet. Udah mau mulai.” Teriak Lani dari pintu kelas.

Nana langsung mengeyahkan pikiran tentang Surya jauh-jauh. Ia akhirnya memaksakan berlari dengan beban yang masih menghinggapi punggungnya menuju kelas. Ternyata kelompoknya dapat urutan pertama dalam presentasi itu. Beruntung saja, materi yang ia pelajari tidak terlalu melenceng jauh dari beberapa pertanyaan yang dilontarkan dosen dan teman-temannya. Ia pun bernafas dengan lega. Pengorbanannya menenteng ransel puluhan kilo pun tergantikan.

Ia melihat Lani memeriksa ponselnya dengan serius. Dengan penasaran, ia menghampirnya.

“Ada apa, Lan? Kok mukanya kaya lagi ngeliat setan gitu lu.” Ucap Nana sambil menertawakan Lani.

“Enak aja. Yuk ah, ke kantin. Sepupu gue udah nungguin tuh. Itu yang bikin gue kaya kesamber petir di siang bolong. Dia dari dulu sama gue kalo ketemu berantem mulu. Bikin males aja deh.” Kata Lani sambil berjalan di lorong kampus itu.

“Terus ngapain dong, dia sampe kesini?” Tanya Nana dengan heran.

“Nah itu dia. Nyokap gue nyuruh nganterin dia cari kostan baru. Udah mulai KKN di kantor bokap gue soalnya lusa.”

Nana masih heran dengan penyataan Lani.

“Bukannya dia sepupu lo, Lan? Kenapa ngga tinggal di rumah lo aja?”

“Dia nggak mau, Na. Belagu kan?” Balas Lani lagi sambil terus menunjukkan muka kesal.

Jarak kantin dari titik awal mereka berjalan tadi tidak terlalu jauh, hanya dipisahkan oleh sebuah gedung perpustakaan saja. Lani menyisir area kantin itu dengan mata tajamnya untuk mencari sosok sepupunya. Tak lama kemudian, seseorang yang merasa dicari oleh Lani melambaikan tangan padanya.

Lani berjalan dengan langkah ogah-ogahan, meninggalkan Nana yang mematung masih di tempatnya berdiri.

Sepupu Lani pun menangkap sosok Nana. Tatapan kagetnya terpancar jelas dari kedua matanya. Tapi tak lama kemudian ia tersenyum ramah.

“Halo, Nana.” Sapanya.

Nana memaksakan sebuah senyum di bibirnya yang kering sembari membalas sapaannya, “halo juga, Surya.”

“Loh… kalian udah kenal ternyata? Kok bisa?” Tanya Lani dengan kaget.

“Kita ketemu di Ujung Genteng, Lan.” Kata kami berbarengan, lalu kemudian kami berdua tertawa karenanya dan membiarkan Lani masih terheran-heran dengan kami.

Sepanjang jalan Nana meneruskan obrolan dengan Surya yang tertunda selama dua tahun itu. Lani yang masih terheran-heran, kini hanya menjadi seperti supir pribadi di mobilnya sendiri. Mendengarkan serunya percakapan kami.

Perburuan tempat kost itu berjalan mulus. Dengan mudahnya Surya mendapatkan sebuah tempat kost yang lumayan bagus dan murah dari seorang kenalan Lani. Setelah itu kami semua memasuki sebuah restoran cepat saji untuk kembali mengisi bahan bakar tubuh setelah dua jam berputar-putar di lalu lintas Jakarta yang padat.

Lani sama sekali tidak bisa masuk dalam obrolan Nana dan Surya, sehingga ia akhirnya menyerah dan mengambil inisiatif untuk mengantri dan memesan makanan.

“Surya, gak kerasa ya udah dua tahun lagi. Kok kita bisa sih ketemu?” Nana melontarkan pertanyaan iseng pada Surya.

Surya tersenyum jahil dan menunjukkan sederetan gigi putihnya yang rapi, “udah jodoh kali.”

Nana yang biasanya tertawa terhadap semua kata-kata jahil Surya, kini malah diam membisu. Ia kembali merasakan letupan kecil pada jantungnya. Berbekal sebuah foto candid yang ia ambil saat di Pantai Ujung Genteng, Nana masih terus teringat akan Surya. Tidak mengerti mengapa ia bisa begitu, penasaran pada seseorang yang belum benar-benar dikenalnya. Tetapi, hatinya seolah-olah terbuka saat sebuah ketukan ringan bergema di dinding pintu hatinya yang sedang mendambakan cinta.

“Lain kali, jangan tiba-tiba pergi ya.” Ujar Surya menegaskan.

Nana mengangguk sekilas tanda setuju.

Dari konter yang penuh sesak, Lani membawa sebaki penuh pesanan mereka bertiga. Dan menghentikan pembicaraan yang sedang terjadi antara Nana dan Surya.

“Udah… pacarannya ditunda dulu. Ayo makan, laper nih.” Ucap Lani santai.

Merasa disindir, Nana dan Surya langsung saling memalingkan wajah dengan muka memerah.

“Ciyeee… beneran bentar lagi bakal jadian nih.” Lanjut Lani kemudian dengan tawa berderai.

Nana dan Surya langsung mengambil jatah makanannya dengan cepat. Sebuah kenangan terekam kembali dalam otak mereka berdua. Tapi kali ini mereka berjanji, tidak akan membiarkan kenangan itu hanya menjadi sebuah kenangan. Baik Nana maupun Surya, berencana untuk mengumpulkan kepingan kenangan mereka berdua terus sampai takdir memisahkan mereka kembali.

________________

1 “Neng Nana, lagi apa sendirian disini?”

2 “Eh si eneng. Kenapa ngomong begitu. Nanti main lagi ya ke sini. Bu Atik pasti senang.”

3 “Itu Surya, anak lelakinya Pak Mamat. Rumahnya juga dekat dengan Bu Atik”

4 “Ayo kesini dulu. Dikenalin dulu sama Neng Nana.”

5 “Ini Surya, Neng. Surya, ini Neng Nana cucunya Bu Atik”

6 “Neng, udah dulu ya. Mamang udah dipanggil, silakan ngobrol sama Surya aja.”

Protected by Copyscape DMCA Copyright Detector

Ditulis untuk #YUI17Melodies dengan tema A Room

Sumber gambar : http://jharismoyo.files.wordpress.com/

Advertisements

4 thoughts on “Kenangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s